
"Ya Tuhan... Aku tak tahu apa yang merasuki ku tadi sampai aku menjambak rambut Erika" ujar Luna menyesal saat sudah sampai di apartemen.
"Setidaknya saat ini perselisihan antara kau dengannya sudah selesai sweety, tak perlu kau pikirkan lagi" hibur Rey, Ia memijat bahu Luna dengan lembut.
"Aku sangat malu" Luna menutup wajahnya, kejadian di kedai ice cream membuatnya menjadi pusat perhatian karena hal yang tidak baik.
"Yang terpenting untukku adalah kau dan Erika sudah berdamai sekarang, kalian juga sudah saling memaafkan atas peristiwa itu" Rey duduk disebelah Luna sambil merangkul istrinya, Luna bersandar di bahu Rey.
"Erika pasti merasa kesakitan" ujarnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Apakah kepalamu juga sakit karena jambakan Erika?" tanya Rey khawatir, Luna menggeleng.
"Erika tidak menjambakku dengan kuat, namun aku menjambaknya dengan sekuat tenaga" tangis Luna pecah Rey langsung memeluknya erat.
"Kita akan kesana nanti untuk minta maaf, kau mau kan?" tanya Rey hati-hati takut membuat Luna tersinggung karena selama kehamilannya Luna menjadi sangat sensitif dengan berbagai hal.
"Ya aku mau..." jawab Luna, Rey mencium puncak kepala istrinya itu.
♥️♥️♥️
"Aduuh kepalaku agak pusing" ujar Erika yang baru masuk ke apartemen.
"Apa kau baik-baik saja darling?" Bobby khawatir dengan kondisi Erika.
"Tidak apa-apa darling, hanya saja tadi nona menjambakku dengan kuat. Kepalaku masih sedikit pusing karena tarikannya dirambutku tadi"
Bobby segera mengajak Erika duduk dan membelai rambut istrinya perlahan-lahan.
"Apa kau marah pada nona saat ini?" tanya Bobby, Erika menggeleng.
"Tak mungkin aku marah, aku yang menantangnya tadi. Aku tak tahu kenapa bisa seberani itu melawan nona tadi" Erika menyesal.
"Hahaha aku juga heran, istriku yang biasanya penuh kasih sayang bisa berkelahi didepan umum seperti tadi" ledek Bobby membuat Erika menjadi merasa bersalah.
"Apakah tadi aku terlihat sangat buruk honey?"
"Oh tidak... kau cantik apapun yang kau lakukan darling, hanya saja tadi aku melihat sisi lain dirimu yang baru pertama kali aku lihat" Bobby tersenyum usil.
"Ya Tuhan betapa malunya aku, dua wanita hamil bertengkar karena hal yang tidak jelas" Erika mengusap wajahnya pelan.
"Kau tahu darling, tadi kau terlihat hebat" puji Bobby yang sebenarnya pujian itu tidak pada tempatnya.
"Itu tidak hebat honey, itu memalukan... sangat memalukan. Bila nona Yasmin tahu maka aku akan ditertawakan olehnya" Erika menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Bobby tertawa lagi.
"Aku tak tahu apa yang terjadi bila memang anak kita berjodoh dengan anak tuan terkenal itu. Hahaha aku harus terus menahan diri untuk iseng padanya"
Erika menoleh ke arah Bobby dan memukul lengannya berkali-kali.
"Kau tak boleh bicara begitu, Sheryl akan berbeda dengan papanya. Ia nampak kuat seperti mamanya" ujar Erika yakin.
"Sheryl?"
"Iya... itu adalah nama dari anak nona Yasmin. Anak itu sangat cantik dan pipinya merah seperti buah cherry.. lihat ini" Erika memperlihatkan foto Sheryl yang sangat imut kepada Bobby.
"Tapi wajahnya sangat tak asing hahaha mirip dengan papanya" Bobby tertawa puas.
"Tidaaak, dia mirip mamanya..." ujar Erika sambil melihat Sheryl lebih dekat.
"Lihat itu hidungnya, agak panjang seperti tuan terkenal" ujar Bobby sambil menunjuk foto Sheryl.
"Namun lihat mata dan bibirnya, sangat mirip dengan nona Yasmin. Aku yakin saat besar nanti ia akan cantik seperti mamanya" Erika tak mau kalah dengan argumentasinya.
"Perhatikan lagi, bayi ini benar-benar mirip papanya. Karena nona Yasmin sangat benci pada suaminya" Bobby tertawa lagi, kali ini tawanya sangat lepas.
Erika tetap tak setuju namun ia memutuskan tidak melanjutkan obrolan dengan Bobby. Ia asik melihat foto-foto Sheryl yang ia ambil tadi.
"Emmm.. mau saja. Apapun jenis kelaminnya aku mau yang penting anak kita lahir dengan selamat"
"Tapi aku mau anak perempuan, dia akan sangat cantik sepertimu dan selalu mencuri perhatian semua orang"
Erika tersenyum malu mendengar gombalan suaminya.
"Dan aku akan menjadi satu-satunya pria tampan disini" Sambung Bobby sambil tertawa membuat Erika mencubit lengannya.
"Sudah cukup dengan ocehanmu itu honey. Aku merasa gerah.." ucap Erika sambil berdiri dan berjalan ke kamar.
"Apa kau mau mandi?" tanya Bobby antusias.
Erika menoleh dan mengangguk.
"Baiklah bila kau memaksa aku akan mandi bersamamu" kata Bobby tiba-tiba membuat Erika heran.
"Siapa yang mengajakmu?"
"Bayi kita berbisik padaku, ia ingin dikunjungi" Bobby berjalan menghampiri Erika.
__ADS_1
Ia memegang pinggang istrinya dengan tangan kanannya, tangan kirinya memegang dagu istrinya.
"Apa kau ingin menciumku?" Erika bertanya dengan nada pelan, Bobby tak menjawab apapun ia langsung ******* bibir istrinya.
Perlahan-lahan mereka mulai memperdalam ciuman mereka. Saat Bobby akan menggendong Erika, ia hampir saja jatuh.
"Apakah aku seberat itu?" Erikaa bertanya dengan nada kesal.
Bobby heran mengapa ia menjadi tak kuat menggendong istrinya.
"Tidak darling, hanya saja aku belum makan siang tadi. Aku masih agak mual, jadi tenagaku tidak maksimal" Bobby berkelit.
Erika masuk ke kamar dengan wajah kesal, Bobby mengikuti Erika masuk. Erika bercermin sambil memiringkan badannya kekanan dan kiri.
"Apakah aku terlihat gendut sekarang?" tanya Erika, Bobby menepuk keningnya.
Sebuah pertanyaan yang ditakutkan oleh semua pria, karena semua jawaban akan dianggap salah dan bila tidak menjawab pun akan menjadi lebih salah.
"Emmm..." Bobby berpikir dan dengan hati-hati ia menjawab.
"Kau masih sama seperti dulu darling"
"Bohong!! Aku pasti sangat gendut sekarang! Tadi saja kau tak kuat menggendongku!" seru Erika seperti menahan tangis.
Bobby mengusap wajahnya kasar, sepertinya jawaban yang ia berikan tetap salah.
"Tidak darling, aku menjawab dengan sejujurnya. Kau masih terlihat seksi" kata Bobby dengan nada menggoda.
"Apa itu artinya aku tidak bisa terlihat seperti wanita hamil pada umumnya? Dan aku calon ibu yang buruk?" Erika mulai terisak.
Ya Tuhan drama apa ini?
Keluh Bobby dalam hati.
"Bukan, bukan itu maksudku. Kau masih terlihat cantik saat kau hamil, aku juga tidak melihat ada yang berubah dari dirimu"
"Tapi kemarin dokter bilang aku harus menaikan berat badanku, apa itu artinya aku tidak berhasil? Ya Tuhan aku ibu yang buruk.." Isak Erika.
Bobby menghela napas panjang, ia makin bingung dengan apa yang harus ia jawab.
"Tidak darling, kau ibu yang sangat baik. Aku yakin anak-anak ku akan dijaga dengan baik olehmu. Bila dokter mengatakan kau harus menambah berat badanmu, aku yakin pasti beratmu bertambah sesuai anjuran dokter" Bobby berusaha menenangkan Erika.
"Apa maksudmu aku gendut sekarang?!"
__ADS_1