
Air mata Anne menetes, tak pernah terbayangkan olehnya berpisah dengan James dengan cara seperti itu.
"Tidak James.. Aku tidak mau.." ucap Anne lirih.
"James ini hanya kesalahan pahaman" Ben ikut bersuara ia tak tega melihat Anne menangis.
James menghela napasnya, ia melipat tangannya kedepan dan melihat ke arah lain untuk berpikir.
"Tolong antarkan dia pulang.." ucap James, ia tidak menoleh ke arah siapapun.
Pikirannya terlihat kacau.
"Aku tidak mau James.." Anne mencoba untuk memegang tangan James.
James melihat ke arah tangannya yang disentuh oleh Anne. Ia melepaskan tangaan Anne dengan lembut.
"Kau pulanglah dengannya, hargai orang lain yang sudah meluangkan waktunya untukmu" kata James sambil mengusap kepala Anne dan menatapnya.
Anne melihat ke arah James dan langsung memeluknya, James diam tak membalas pelukan itu.
"Sudah malam, kau harus istirahat" kata James, sekali lagi ia melepaskan apa yang Anne lakukan padanya.
"James.. jangan lakukan ini padaku, ku mohon" Isak Anne.
James berjalan masuk kembali ke restauran, Anne berusaha mengejarnya namun Ben menghentikannya. Anne memaksa dan berlari masuk ke dalam restauran.
"James... " Anne menangkap tangan James.
James menoleh ke arah Anne, ia menghela napas panjang.
"Kenapa kau meninggalkan tuan Ben sendiri diluar?" tanya James wajahnya terlihat kesal.
Anne hanya menggeleng dan menunduk.
"Aku kesal.." ucap Anne namun ia tak menyelesaikan kata-katanya.
"Kesal?" James seperti tak percaya.
"Ya.. aku kesal, aku merasa seperti berada disebuah drama percintaan yang harus berusaha sendirian. Menunggu kau perhatian padaku, mengatakan cinta dan melakukan hal-hal manis lainnya!" Anne meledak, ia mengeluarkan isi hatinya.
James berkacak pinggang mendengar isi hati Anne.
"Hemm... Apa kau suka nonton film drama?" tanya James dengan nada datar.
Anne mengangguk, wajahnya masih terlihat kesal pada James.
"Apa kau tidak menontonnya sampai habis?" tanya James lagi.
__ADS_1
"Tentu saja aku menontonnya sampai habis, saat sedih aku ikut menangis dan saat lucu aku ikut tertawa" ucap Anne polos.
"Lalu?"
"Lalu apa?" Anne heran.
"Bagaimana akhir cerita drama itu?" tanya James membuat Anne semakin heran.
"Pada akhirnya mereka bahagia, ternyata sang pria bukan tidak perduli namun ia memperhatikan secara diam.... diam..." Anne memelankan suaranya dikata terakhir, ia melirik ke arah James dengan takut.
"Apa.. aku juga melakukan hal yang sama?" tanya Anne ragu.
James menyilangkan tangannya kedepan, ia mengangguk dengan yakin.
"Benarkah?" Anne ingin meyakinkan dirinya.
"Aku malas menjawab dua kali. Sekarang kau pulang bersama tuan Ben dan minta maaf padanya" ujar James, ia hendak berjalan masuk ke ruangannya.
Anne menarik tangan James dengan cepat dan mencium pipinya.
"Hihihi aku ingin melakukan ini dari dulu" kata Anne malu-malu.
Tanpa basa-basi James menautkan bibirnya kepada bibir Anne. Anne terkejut, ini adalah ciuman pertamanya jadi ia menjadi sangat kaku. James melepaskan ciumannya dan tersenyum pada Anne.
"Sudah cukup kan?" ujar James sambil membalikkan tubuhnya dan berlalu.
"Apa masalahnya sudah selesai?" tanya Ben dengan nada khawatir, Anne mengangguk sambil tersenyum.
"Syukurlah.." Ben menghela napas lega.
"Sekarang antarkan aku pulang" ucap Anne dengan nada bahagia.
"Kau yakin?" Ben ragu.
"Ya tentu saja, aku harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku putuskan. Maafkan aku Ben.." kata Anne malu.
"Ya tak apa-apa, anggap saja aku temanmu. Jadi tak perlu sungkan Anne" Ben tersenyum ramah membuat Anne menjadi makin malu.
Ben membukakan pintu mobil untuk Anne, Anne langsung masuk lalu Ben menutup kembali pintu mobilnya untuk Anne. Ia masuk ke mobil dari sisi yang lain.
"Kau beruntung Anne, James adalah pria yang baik" ucap Ben sebelum menghidupkan mesin mobilnya.
"Apa kau mengenalnya cukup lama?" tanya Anne penasaran.
"Ya.. cukup lama. James adalah pria berhati dingin namun ia bisa menghangatkan suasana dengan makanan yang enak. Luna sangat menyukai masakannya" cerita Ben, Anne terlihat bangga mendengar cerita Ben.
Ben mulai menghidupkan mesin mobil dan melaju.
__ADS_1
"Aku tak pernah melihat James tertarik dengan sesuatu selain memasak" Ben melanjutkan ceritanya.
"Dia seperti pria yang malas bicara, bahkan bila ada masalah dia hanya akan diam dan memilih keluar dari pintu belakang untuk merokok. Oh ya apakah dia masih merokok?"
Anne menggeleng.
"Dia tidak merokok setidaknya dihadapan ku, karena aku memiliki alergi pada asap rokok"ujar Anne mengingat kejadian lalu.
"Hahaha itu sangat hebat, setahuku dia adalah pria yang tak dapat hidup tanpa rokok. Dan demi menjaga kau tidak sesak napas karena asapnya dia rela menahan diri untuk tidak merokok. Aku yakin perasaannya padamu sangat dalam Anne" Puji Ben, Anne tersipu malu.
"Ya sepertinya begitu" ucap Anne dengan yakin.
"Jangan jadikan aku pengalihan rasa cemburu James karena saat dia marah akan terlihat sangat menyeramkan" Ben bergidik mengingat kejadian tadi.
"Iya Ben, aku kan tadi sudah minta maaf. Aku tak tahu akan jadi seperti ini. Namun aku bersyukur dia pria dewasa yang tak suka menyelesaikan masalah dengan berlaku kasar"
"Ya kau benar, aku jadi bisa melihat sisi lain dari seorang James"
Ben terlihat ikut senang atas hubungan Anne dan James yang membaik. Memang perasaan Ben kepada Anne hanya pengalihan dari perasaan cintanya untuk Luna yang tak mungkin terbalas.
♥️♥️♥️
Luna meminta Yasmin untuk membantunya mendesign sebuah gaun yang cocok untuk tubuhnya saat ini. Luna akan menghadiri sebuah pesta bersama Rey.
"Ya baiklah kita bertemu digaleri" ujar Yasmin sambil menyiapkan barang-barang Sheryl yang akan ia bawa.
Yasmin juga membawa serta Melisa untuk menjaga putrinya selama di galeri. Samuel sedang syuting drama siang itu dan tak bisa mengantar mereka.
"Sepertinya aku harus mengukur ulang tubuhmu Luna" ujar Yasmin, ia berdiri dan mengambil alat pengukur.
"Tubuhku sudah berbeda Yasmin, itulah sebabnya aku memintamu membuatkan aku gaun baru" ucap Luna dengan wajah sedikit kecewa dengan berat badannya.
"Tenang, kau akan mendapatkan kembali tubuh indahmu saat si kembar lahir" hibur Yasmin.
"Jangan memikirkan hal-hal semacam itu sweety, aku akan tetap menyukaimu apapun yang terjadi" Rey ikut menimpali.
"Aaah.. kalian selalu saja terlihat mesra, membuatku iri" ucap Yasmin sambil tersenyum usil.
"Apa kau ingin Samuel mengatakan hal yang sama?" tanya Luna iseng.
"Tidak!"jawab Yasmin cepat.
Luna dan Rey tertawa, wajah Yasmin berubah kesal.
"Bila kau terlalu membencinya maka nanti kau juga akan terlalu mencintainya" ledek Luna lagi.
"Ya Tuhan Luna, hal itu sedikit menakutkanku"
__ADS_1