
Samuel sampai diapartemen Yasmin, ia masuk dan merebahkan dirinya disofa. Badannya terasa lelah karena syuting seharian dan baru bisa kembali saat malam sudah larut.
"Kau baru pulang?" Yasmin mengusap matanya sambil menguap, ia berjalan ke dapur untuk mengisi botol minuman yang sudah habis.
"Ya.. Apakah Sheryl rewel hari ini? Aku sangat merindukannya" ujar Samuel sambil berjalan untuk memasuki kamar.
Yasmin menghalanginya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Jangan menyentuhnya, malam ini aku susah payah menidurkannya" kata Yasmin dengan wajah yang tak kalah lelah dari Samuel.
"Iya.. aku hanya akan melihatnya dan mandi" ujar Samuel menyingkirkan tubuh Yasmin dari hadapannya dan masuk ke kamar.
Yasmin mengikuti langkah Samuel. Samuel mendekat ke box bayi putri mungilnya, ia hanya menatap Sheryl tanpa menyentuh apapun lalu ia menaruh ponselnya didekat meja tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
"Apa-apaan dia?" Yasmin mendengus kesal, ia merebahkan dirinya di tempat tidur.
Tiba-tiba ponsel Samuel berdering, Yasmin takut Sheryl bangun dan menangis lagi. Yasmin mengambil ponsel Samuel dan berniat untuk mematikannya namun matanya membulat melihat nama seorang wanita yang tertera di layar ponsel Samuel. Yasmin menjadi penasaran dan diam-diam mengangkatnya.
"Syukurlah kau mengangkat telpon ku, terima kasih ya kau sudah mau bertukar nomor ponsel denganku. Mulai saat ini aku akan sering menghubungimu ya Sam..."
Wanita yang menelpon terus mengoceh membuat Yasmin heran.
"Sam.. Sam..." wanita itu memanggil Samuel yang tak bersuara dari tadi.
"Samuel sedang mandi, nanti aku akan menyampaikan padanya kalau kau menelpon" ucap Yasmin dengan nada sombong.
"Kau pasti pelayannya, baiklah tolong sampaikan padanya bahwa Carol menelponnya" Yasmin kesal mendengar penghinaan wanita bernama Carol.
"Aku bukan pelayannya tapi aku majikannya!" Yasmin menutup telpon dengan kesal, ingin rasanya membanting ponsel itu hingga hancur berkeping-keping.
Samuel keluar dari kamar mandi tanpa merasa bersalah, ia menghampiri lagi box Sheryl memastikan putrinya tidur dengan pulas.
"Kau belum tidur? Tak perlu menungguku.." Samuel berkata dengan bangga, namun wajahnya seketika berubah saat melihat Yasmin sedang meremas ponselnya.
"Apa yang kau lakukan dengan ponselku?" tanya Samuel dengan wajah panik.
"Kenapa? Kau takut perselingkuhan mu ketahuan? hah?" cibir Yasmin penuh kemarahan, ia marah karena dibilang pelayan oleh Carol.
"Kau tidak pernah berubah Sam!" bentak Yasmin, ia melempar ponsel Sam lalu dengan sigap Samuel menerimanya.
"Aku tak mengerti apa maksudmu"
"Dulu kau pernah mengkhianati Luna dengan wanita lain dan sekarang kau melakukannya lagi. Aku tak perduli kau berkencan dengan berapa wanita tapi sampaikan kepada mereka aku bukan pelayanmu!" Maki Yasmin sambil merebahkan badannya ditempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Samuel masih tak paham dengan kata-kata Yasmin, ia melihat ponselnya. Ternyata Carol baru menelpon, Samuel hanya menghela napas panjang. Lalu ia tertidur disofa dekat box Sheryl.
♥️♥️♥️
Sementara itu, Luna dan Ben akan mengadakan meeting di restauran.
"Siapkan ruangan meeting untuk pertemuanku dengan Ben" perintah Luna pada James melalui sambungan telepon.
"Baik nona"
James meminta para pelayan menyiapkan ruangan yang Luna maksud.
"Apakah Kak Luna akan datang lagi?" tanya Anne polos pada James.
"Sepertinya begitu.." jawab James singkat.
Menjelang siang, Luna datang. Namun Ben tidak datang bersamanya, ia datang agak terlambat.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Jiraiya memastikan.
"Sudah tuan" jawab James.
Luna sudah menunggu di ruang meeting sambil membaca kembali berkas yang akan dia presentasikan pada Ben. Banyak kerja sama yang akan mereka lakukan.
"Ya tak apa Ben, aku juga masih merevisi beberapa slide yang akan aku presentasikan padamu" ucap Luna sambil tersenyum, Ben masih belum bisa mengabaikan senyum indah itu.
Mereka memulai meeting, setelah selesai makan siang dibawa masuk ke ruangan itu. Anne yang menangani peletakan dan menu makan siang itu.
"Ehem... Siapa namamu?" Ben tiba-tiba ada disebelah Anne yang sedang menata meja.
"Aku? Namaku Anne tuan" jawab Anne sambil tersenyum manis, ia memang gadis yang ramah berbeda dengan kakaknya yang narsis dan angkuh.
"Panggil saja aku Ben.." ujar Ben sambil membalas senyuman Anne.
"Baiklah, salam kenal dariku Ben" Anne menyelesaikan pekerjaannya dan keluar dari ruangan meeting, Ben melihatnya sampai menghilang dibalik pintu.
"Ben..." panggil Luna.
"Ya ada apa?" Ben agak kaget Luna memanggilnya.
"Makanannya sudah siap, kita makan siang sebelum meninjau lokasi hotel barumu" kata Luna mengingatkan.
"Baiklah" Ben masih penasaran dengan Anne, gadis itu sangat menyenangkan bagi Ben.
__ADS_1
Luna dan Ben makan siang bersama, Ben merasa ingin buang air kecil ia keluar dari ruangan dan segera menuju kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi ia bertemu lagi dengan Anne.
"Hai Anne.. kita bertemu lagi" sapa Ben sok akrab.
"Tentunya kita masih akan bertemu selama kau masih direstauran ini Ben" kata Anne sambil terkekeh mendengar basa basi Ben, Ben menggaruk kepalanya karena malu.
"Sepertinya wajahmu tak asing, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" ujar Ben menerka-nerka.
"Apa kau kenal dengan Samuel aktor terkenal yang sedang bermain drama 'Serial Killer?' " ucap Anne dengan semangat.
"Maksudmu Samuel mantan kekasih Luna?"
"Emm betul, kau mengenalnya.. Dia adalah kakakku" kata Anne polos membuat Ben terkejut.
"Aku tak pernah tahu Sam memiliki adik yang manis sepertimu" puji Ben membuat wajah Anne bersemu merah.
"Kak Sam adalah kakak tiriku, aku memiliki mami yang sama dengannya. Selama ini aku tinggal diluar negeri" Anne menjelaskan.
"Lalu kenapa kau bekerja sebagai koki biasa di restauran Luna?" tanya Ben heran, gadis berkelas seperti Anne mau bekerja kasar seperti ini.
"Aku menyukai memasak, setelah lulus aku ingin membuka restauran tapi mami mengatakan aku juga harus belajar bisnis namun aku tidak mau kuliah lagi. Kak Luna bersedia mengajariku jadi aku menawarkan diri untuk bekerja disini selama setahun"
"Kau gadis yang gigih" sekali lagi Ben memujinya, ia makin menyukai Anne dengan sifatnya yang ceria.
"Terima kasih Ben, maaf aku tak bisa lama-lama mengobrol denganmu. Aku harus kembali bekerja"
"Bisakah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Ben penuh harap.
"Ya tentu saja"
Ben memberikan ponselnya dan Anne menuliskan nomor ponsel juga namanya disana.
"Terima kasih Anne.."
"Ya sama-sama"
Anne berlalu masuk ke dapur. James melihat Anne dengan tatapan sinis.
"Ada apa?" Anne heran melihat James yang melihatnya dengan wajah kesal.
"Bicaralah seperlunya, apalagi dengan pria yang baru kau kenal" James berkata dengan cepat.
"Apa saat ini kau sedang cemburu?"
__ADS_1