
"Aku mendengar banyak omongan tidak baik tentangmu" wanita bernama Erika itu berkata lagi. Rey hanya diam, dia memperhatikan wakil kepala koki itu.
Wajahnya berminyak, namun terlihat manis. Usianya baru sekitar 22 tahun. Namun Erika sangat tegas dalam bekerja, ia sudah menjadi koki direstauran itu selama 2 tahun dan berhasil menjadi wakil kepala koki mendampingi pak James.
"Kau Rey kan? Koki baru yang diterima oleh James tanpa diuji memasak. Sekarang aku yang akan mengujimu, aku ingin melihat apa yang membuat James menerimamu" Erika menggiring Rey kedepan kompor.
"Pilih satu menu yang akan kau masak, lalu persiapkan bahan-bahannya dan memasaklah dengan gayamu sendiri" perintah Erika, nada bicaranya sangat tegas. Rey adalah pria penurut, ia hanya mengikuti setiap perintah Erika.
Rey sudah memilih satu menu dan mempersiapkan bahan-bahan yang akan ia masak. Dengan lihai Rey memperlihatkan keahliannya memasak didepan Erika, Erika menyembunyikan rasa kagumnya dengan hanya mengangguk-angguk.
"Silakan Bu Erika" Rey menyajikan masakannya untuk Erika, mata Erika terbelalak karna masakan Rey hampir sempurna sesuai dengan rasa masakan pak James.
"Apa yang kau lakukan Erika?" tanya Pak James yang baru saja datang. Erika hanya memandang kesal kearah pak James.
"Apa kau sudah mendapat jawaban dari rasa penasaran mu pada Rey? Aku sudah bilang kau tak perlu mendengarkan kata-kata para pelayan itu yang berbicara buruk tentang Rey" ucap pak James seraya meninggalkan dapur.
Rey menatap Erika, Erika membuang muka dari Rey. Ia merasa bersalah, ia menjadi agak salah tingkah dan ia tak sengaja memegang kompor yang masih panas.
"Aduh..." Ia berteriak kesakitan.
Rey segera memegang tangan Erika dan membawanya ke wastafel tempat cuci piring. Ia menaruh tangan Erika yang terkena kompor dibawah air yang mengalir.
"Apa kau merasa baikan?" tanya Rey sambil terus fokus pada tangan Erika yang terluka.
"Ya aku tidak apa-apa" Erika menarik tangannya dari pegangan Rey.
"Ooh maafkan aku" Rey menyadari kalau daritadi ia memegang tangan Erika. Rey membungkukkan badannya dan meninggalkan Erika yang masih menahan rasa malunya.
Rey mempersiapkan diri untuk pesanan makanan, sudah akan memasuki jam makan siang.
"Aku dengar nona Luna akan datang lagi siang ini" ujar pak James.
"Apakah nona Luna akan datang dengan pria gemuk itu lagi?" tanya Rey dengan nada sangat khawatir.
"Ada apa denganmu? Kau seperti mengkhawatirkan istrimu" Pak James melirik ke arah Rey.
__ADS_1
"Aah hahaha tidak, hanya saja saya tidak suka bila ada pria yang menatap tidak senonoh kepada wanita. Apalagi wanita itu secantik nona Luna" pak James diam saja tidak menghiraukan Rey.
Siang itu Luna kembali datang dengan Pak George tentu saja Jiraiya juga ada bersamanya, Luna berdiri disebelah pak George untuk memberitahu dimana pria gemuk itu harus tanda tangan. Rey sangat geram melihat tatapan pria itu.
"Jangan bertindak macam-macam, kau akan kena masalah nanti" kata Erika acuh tak acuh melihat wajah kesal Rey.
Rey diam saja, rahangnya mengeras menahan emosi dihatinya.
"Kacamata, kau bisa struk muda bila bertingkah seperti itu" Erika mengingatkan kembali, Erika menjuluki Rey dengan si kacamata.
"Jangan menceramahi ku" jawab Rey kesal.
Benar saja, saat pria itu hendak memegang pinggang Luna. Rey hendak berlari untuk menghajar pria itu, Erika yang melihat pergerakan Rey langsung menarik paksa tangannya.
Gerompyaaaang....
Rey terjatuh diatas badan Erika, semua orang yang berada didekat mereka terkejut. Begitu juga Luna dan Pak George. Luna meminta izin kepada pak George untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa yang kalian lakukan!!!" Teriak Luna melihat posisi yang tidak seharusnya itu.
"Kalian tunggu aku disitu, aku akan menyelesaikan urusanku dan urusan kalian denganku belum selesai!!" Luna meninggalkan Rey dan Erika lalu kembali menemui pak George untuk menyelesaikan kesepakatan.
Setelah pak George selesai menanda tangani kesepakatan, Luna memanggil Rey dan Erika ke ruang meeting itu.
Rey dan Erika berdiri sambil menunduk didepan Luna, Luna duduk dikursi sambil menyilangkan kakinya.
"Kalian tahu kalian berada dimana? Hah!!" Mereka berdua mengangguk.
"Di restauran ku!!! Dan aku sedang menyelesaikan kerja samaku dengan orang yang sangat penting!!!! Dan kalian sengaja membuat keributan!!!" suara Luna terdengar sangat marah.
"Karna ulah kalian, hampir saja aku gagal mendapatkan kesepakatan itu!!! Kalian tahu!!!"
Luna menatap Rey, ia sangat marah kepada Rey. Ia menyuruh Erika keluar dari ruangan dan menyisakan dirinya berdua dengan Rey.
"Urusanmu denganku belum selesai! Setelah selesai bekerja langsung pulang dan tunggu aku di apartemen! " bentak Luna sambil menunjuk wajah Rey, ia lalu keluar dari ruang meeting dalam keadaan marah. Jiraiya tersenyum pada Rey dan membungkukkan badannya, Rey juga melakukan hal yang sama pada Jiraiya.
__ADS_1
Rey keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. James dan Erika menunggunya didapur.
"Apa kau dipecat, kacamata?" tanya Erika khawatir. Rey membetulkan letak kacamatanya dan hanya menggeleng, ia malas berkata apapun.
"Itu artinya kau harus bekerja, ayo cepat memasak yang benar. Ini masih waktunya makan siang, banyak tamu menunggu kita" James mengingatkan.
Rey harus bersemangat lagi, ia mencuci wajahnya dan segera bergabung dengan Erika dan James di dapur.
"Heii lihat, ada nona Yasmin datang" salah satu pelayan terlihat riang menyambut salah satu tamu.
Rey dan James menongolkan kepalanya keluar, Rey terkejut melihat Yasmin. Yasmin yang melihat Rey malah melambaikan tangan dan memanggilnya. Para pelayan mulai berbisik-bisik kembali.
"Kau kenal dengan nona kaya itu, kacamata?" tanya Erika cuek.
"Emm, ya dia temannya temanku" Rey menjawab asal. Erika menatap Rey tak percaya, Rey kembali ke dapur.
"Kenapa dia gugup begitu?" pikir Erika, namun ia segera melupakan apa yang dipikirkannya.
Rey sudah mulai biasa dengan kesibukan di restauran itu, restauran untuk kalangan menengah ke atas bergaya Prancis dengan sentuhan warna lembut.
Waktu menunjukan pukul 7 malam, restauran itu terlihat ramai dengan pengunjung yang akan makan malam.
Jiraiya terlihat setengah berlari menuju dapur. Para pelayan heran melihat Jiraiya yang biasanya berjalan dengan elegan, dan saat ini berlari seperti itu.
"Ada apa tuan?" James menghampiri Jiraiya.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Rey" katanya sambil mengambil napas, usianya yang sudah menuju 50 tahun tidak kuat bila harus setengah berlari seperti tadi.
"Tuan Rey?" James heran mendengar Jiraiya memanggil Rey dengan sebutan "tuan".
"Ada apa Jiraiya?" Rey datang dari belakang James.
"Segeralah ikut dengan saya"
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Nyonya besar sedang perjalanan kemari, ia akan makan malam disini"