PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
HARI BAHAGIA


__ADS_3

"Ayo, Mir.... Lagi apa sih?"


"Bentar dulu kaaaak! Lagi pasang bulu mata palsu!"


"Yassalaaaam... Ga usah pasang bulu mata palsu segala! Udah cantik itu!"


"Ish! Harus all out dong dandanan aku! Secara yang nikah ini khan mantan kakak!"


"Bukan mantanku juga! Dia ga mau sama aku!"


"Ya tapi khan intinya kalian pernah dekat. Aku ingin tampil lebih cantik dari gadis pujaanmu itu!"


"Please Mira! Kamu cantik, cantik dari lahir! Jangan banding-bandingkan diri dengan orang lain!"


"Cantikan mana aku sama dia kak?"


"Kalian berdua cantik, punya style dan karakter masing-masing!"


"Jawaban ambigu! Aku ingin jawaban yang jujur dari hati kakak! Ayo jawab!"


"Harus kujawab?"


"Iya! Sekarang!"


"Cantikan dia tapi mudaan kamu!"


"???.... Males ikut ah!" Mira ngambek mendengar jawaban Rahman. Membuat Rahman menepuk dahinya juga agak geregetan.


"Khan tadi Mira minta aku jujur. Terus nanti-nanti Mira tanya, cantikan mana Mira sama Natasha Willona. Pasti aku jawab Natasha Willona! Tapi apa guna bandingkan kamu sama mereka? Aku khan pasangannya kamu, bukan mereka yang! Please ayo cepetan! Kasihan Ahmad dari tadi nunggu dimobil kesel dia, ga jalan-jalan juga katanya!"


"Huh!! Pinter banget ngasih argumen!"


Cup.


"Kamu tercantik dihati aku! Kamu segalanya bagi diriku. Bukan dia ataupun gadis lain!" Rahman mengecup pipi Mira. Berlalu pergi meninggalkan Mira yang masih ternganga tak percaya.


Ternyata Rahman bisa puitis dan romantis juga.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaaa......!!!!" Mira teriak kegirangan. Membuat pria yang barusan mencuri cium pipinya itu menggelengkan kepala melihat dan mendengar teriakan Mira yang bahagia.


"Cepet Mira!"


"Iyaaaaaa...!!!"


Wanita itu kalau sudah cemburu, bisa 'makan orang'. Betulkah? Hadeeh.... Hahaha...


Begitulah Mira. Cantik. Muda. Bergairah jiwanya. Membuat Rahman seperti berlari mengejarnya. Kadang harus sabar menuntunnya untuk menjadikan pribadi Mira lebih dewasa.


Tapi Rahman suka Mira secara keseluruhan. Bersama Mira, dirinya juga perlahan menjadi berubah. Lebih modis dan berfikir lebih santai. Ia menjadi pria yang juga berjiwa muda karena terbawa oleh gaya dan sifat Mira.



"Waaah, gadis cantik yang kau bawa dihari bahagiaku Man!" Ramzy tersenyum menggoda Rahman dan Mira.


"Kenalkan, ini adikku Ahmad dan ini...calon istriku!"


"Hai, aku Ramzy suaminya Ella! Maaf Ella sedang ganti pakaian dulu setelah ijab kabul tadi!"


"Hai kak! Aku Mira, calon istrinya kak Rahman!"


"Uhuk. Dasar kau aki-aki !"


Mira tersenyum kikuk. Wajahnya merah. Gugup ia diantara pria dewasa yang tampan luar biasa.


"Kak, pantas kak Ella tidak memilihmu!" bisiknya pada Rahman.


"Kenapa?"


"Suaminya tampan bangeeeet! Hiks bikin aku ngiler! Aku juga pasti pilih kak Ramzy kalau diposisi kak Ella!"


"Lap tuh ilermu yang bleberan! Aku mau cari makan dulu! Yuk dex, biar kak Mira kenyang...matanya udah jelalatan!"


Rahman menuntun Ahmad. Matanya tak berkedip melihat Ella keluar dari balik pintu.


Cantik nian. Anggun dan bersahaja. Andaikan ia pengantinku,... alangkah bahagia hatiku! gumam hati kecil Rahman.

__ADS_1


Mira memandang Rahman dari kejauhan. Ada kesedihan tergambar jelas dimata Mira melihat betapa Rahman memuja Ella. Mira berjalan cepat menghampiri Rahman. Menggandeng tangannya lebih erat, agar Rahman sadar...bahwa ialah calon pengantinnya nanti. Yang akan berjalan disisinya. Yang akan setia menemani hidupnya. Bukan si cantik Ella.



Rahman menoleh ke Mira. Tersenyum simpul seraya menarik tangan Mira menjadi lebih dekat padanya.


Ya. Ada gadis ini kini disamping Rahman. Ia tak lagi berjalan sendirian. Tuhan telah mengirim Mira disampingnya. Kini tinggal doa tulus darinya untuk Ella dan Ramzy bahagia. Karena ia pun ingin bahagia bersama Mira, juga Ahmad tentunya.



"Istriku Fidellia Gabriella!... Izinkan aku membacakan sebuah puisi cinta untukmu! Biar semua orang yang hadir diacara pernikahan kita, mendengar dan menyaksikan sendiri... betapa aku mencintaimu setulus hati. Dan berjanji akan menjaga kesucian cintaku padamu hingga akhir hayat hidupku!"


"Kau...., sesejuk embun dipagi hari. Menyegarkan perasaanku yang batu dan beku. Kau...., seindah mawar merah yang berkembang ditengah taman. Menarik perhatianku meski jemariku harus terluka karena durimu yang tajam mengena. Kau...., laksana sinar matahari pagi menjelang siang. Hangat cenderung panas menggairahkan. Kau...., ibarat lembayung senja yang memerah. Menarikku masuk dalam pusara cintamu. Kau..., kaulah Fidellia Gabriella... istriku yang paling kucinta. -Teuku Ramzy-."


Ella meneteskan airmata. Haru tapi bahagia. Ramzy benar-benar mencintainya. Kini hatinya semakin dalam menancap dikeabadian cinta Ramzy untuknya. Mereka berpelukan mesra.


Semua tersenyum bahagia. Meleleh mendengar puisi cinta Ramzy untuk Ella. Termasuk Rahman dan Mira.



"Kak! Bikinin aku puisi juga ya pas nanti kita nikahan?" ujar Mira membuat Rahman gusar. Dia tak bisa menulis indah apalagi mengarang puisi cinta.


"Nanti aku sewa odong-odong aja! Biar kita naik odong-odong cinta keliling bersama!" jawabnya membuat Mira mencubit lengannya gemas.


"Ish, manalah romantis nikahan naik odong-odong?"


"Romantis romantis aja kalo Mira mikirnya hanya akan ada kita berdua saja! Mau khan?"


"Naik odong-odong? Beneran?"


"Ho'oh!"


"Iiih.... koq aku, jadi mikir jauh ini! Hahaha... Aku terima apa aja yang suamiku persembahkan untukku nanti!"


"Itu baru namanya istriku yang paling cantik dan baik budi!"


Merah wajah Mira dipuji Rahman dengan kata-kata manisnya. Aaah.... Cinta, itulah cinta. Bagaimana kita menyikapinya. Hendak dibawa kemana pula cinta. Kitalah yang menentukannya.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2