
Treet treeet...treeeet
Hape Ella bergetar. Ada panggilan masuk di aplikasi What'Appnya.
"Hallo, ya Meynar, assalamualaikum!"
"Kak Fidellia!!! Plis bantu aku kak!"
"Ada apa Mey?"
"Ada banyak orang depkolektor mengobrak-abrik kantor pusat. Katanya kalo urusan hutang piutang belum selesai, kantor akan disita bank mereka!"
"Hah???" Ella tertegun kaget campur bingung.
"Bossmu mana Mey? Itu sepertinya salah sasaran dia! Pasti urusan hutang piutang pak Havier itu!" kata Ella berusaha menenangkan Meynar. Bawahannya dulu di MENTARI DEPT STORE.
"Sudah dua hari boss dirawat di RS, ka! Katanya kena musibah dan patah tulang. Aku juga belum tahu keadaannya. Dia dirawat di Virgo Hospital. Kakak bisa tolong handle ga? Plis... Aku takut kak!"
"Pak Restu, bu Ary sama Amel kemana?"
"Mereka sekarang diperbantukan dibagian timur, selatan dan barat buat kembali mendongkrak penjualan ka!"
"Hhhh.... Aku khan udah resign, Mey! Mana boleh ikut campur lagi urusan perusahaan!"
"Tolonglah ka! Kami semua butuh kakak! Kami sangat butuh pekerjaan ini kak! Plis!"
Ella menarik nafas bingung.
__ADS_1
"Ya udah! Aku coba obrolin dulu sama boss kalian!"
"Iya kak! Di Virgo Hospital kak! Terus kakak langsung kesini ya? Plis.... jangan engga' ya kak! Aku nangis kejer lho ini kalau kakak ga ke sini!"
"Iya Mey, iya!"
"Kutunggu ya kak!" Klik.
Hhhh.... Ella menghela nafas. Gusar. Bingung apa yang harus ia lakukan kini. Ada ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya di MENTARI DEPT STORE tempatnya bekerja dahulu. Banyak suka duka ia dapatkan disana.
Ingatannya kembali pada 12 tahun silam. Ketika usianya baru menginjak 18 tahun dan tamat SMU saja.
Dengan menenteng ijazahnya yang masih fresh from the oven. Memasang wajah lugu sambil keluar masuk perkantoran meminta belas kasih kerjaan dari para pemilik perusahaan. Hingga pak Havier yang terpukau memandang paras cantiknya langsung menerima dan menempatkannya distand sales promotion girl.
Hhhh....
Ella menanyakan ruang rawat inap atas nama Rahman. Rahman Hidayat Soepono perawat itu menjelaskan, ada dikamar VVIP utama. Dan Ella diantar langsung keruang Rahman.
Selang infusan tergantung mengaliri nadi Rahman. Juga terlihat wajahnya yang memar bekas hajaran Ramzy beberapa hari lalu. Membuat Ella menghela nafas.
"Ella!!!" Rahman terkejut melihat seorang gadis cantik tengah duduk ditepi ranjangnya.
"Sudah bangun rupanya! Kukira kamu juga hilang ingatan dan lupa siapa aku!"
__ADS_1
"Ella! Maafkan aku, Ella! Hik hik hiks..." Rahman kembali menangis. Memohon ampunan gadis yang pernah ia jahati dulu itu.
Tangannya hendak meraih jemari Ella tapi Ella segera menepis.
"Tak perlu berbasa-basi! Aku kemari hanya ingin menanyaimu. Apa saja yang sudah kau bicarakan pada papa mamaku? Soal kekejianmu dulu padaku, apa juga sudah kau umbar pada mereka?"
"Tidak, Ella! Sumpah demi nama Tuhan dan Rosulku! Aku hanya ingin membuat mereka bahagia. Itu saja. Aku tidak berkata apa-apa. Aku senang jika bisa membuat papa mamamu juga senang!"
"Kau fikir papa mamaku tidak senang selama ini? Kau fikir aku dan Ramzy tidak bisa membahagiakan kedua orangtuaku? Dangkalnya fikiranmu!"
"Ella! Aku bersalah padamu. Salah besar. Dosa besar. Dan aku mengerti sekali jika kamu membenci aku. Melaknat aku hingga kedasar bumi sekalipun. Aku juga tersiksa Ella hik hiks sungguh tersiksa lahir dan batinku! Bahkan hingga detik ini. Perlakuanmu dan Ramzy padaku bahkan belum bisa membayar kejahatanku padamu! Itu sebabnya, aku ingin membahagiakan kedua orangtuamu dengan caraku."
Ella diam mendengar penuturan Rahman. Isakannya membuat hatinya sedikit melunak meski tidak meleleh cair.
"Kau tahu, perusahaanmu diambang kehancuran?"
"Iya. Biarlah! Tak apa rugi besar jika bisa menghilangkan beban batinku atas dosa-dosaku dimasa lalu!"
"Lalu karyawanmu yang ratusan, tidakkah kau fikirkan...bagaimana mereka nanti. Kelangsungan hidupnya. Uang pesangonnya apa bisa mereka cairkan!"
"Maaf! Aku tak bisa berbuat apa-apa. Lagipula mereka tidak bisa melaporkan dan minta pertanggungjawabanku, karena disini aku juga sebagai korban dari kecurangan Havier membohongiku. Aku sudah minta lowyerku mengurusnya!"
"Kau bisa berfikir sepicik itu karena kau beruang! Kau hanya merasa rugi saja seperti layaknya bermain judi, kalah, lalu pergi. Bagaimana dengan para karyawan kamu diluar sana? Yang saat ini berusaha keras menaikkan grafik penjualan dept store mu agar kembali stabil. Mana tanggung jawabmu sebagai seorang pemimpin? Meski mereka baru satu minggu kau kenal. Tapi kau tidak bisa lepas dan cuci tangan seenak jidatmu! Seperti dulu kau dengan gampangnya menarik tangan mungil gadis kecil yang belum tahu apa-apa kesemak-semak. Dan kau lupakan begitu saja?"
Bagai godham palu menghantam relung hati Rahman. Sakit, perih dan pedih. Mengingat kembali kelakuan bejadnya pada gadis baru gede yang kini duduk disamping ranjang tidur rawat inapnya.
Tangisan Rahman merintih diikuti isak tangis Ella yang sama-sama mengingat masa lalu yang getir itu. Keduanya hanya berusaha melepaskan beban batin yang selama ini menumpuk. Dan ingin mereka hilangkan. Perlahan demi perlahan.
__ADS_1
Pertemuan ini semoga bisa meluruskan semua benang kusut yang selama ini mengelung relung hati Rahman terlebih Ella.
đź’•BERSAMBUNGđź’•