PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
HATI YANG LUKA


__ADS_3

"Adel! Sejujurnya saya adalah orang yang introvert. Saya sulit bergaul dengan orang lain karena banyak sebab juga alasan. Saya mengenal kamu. Kamu berbeda dari perempuan-perempuan yang sebelumnya saya kenal. Awalnya saya pikir kamu sama saja. Suka dengan pria tampan, mapan dan banyak uang. Tapi ternyata kamu mempunyai sisi lain dan prinsip yang teguh. Membuat saya suka dengan karakter kamu. Apalagi, setelah kamu membawa saya kerumah sakit ketika penyakit saya kambuh dan mengurus saya dengan tulus. Padahal selama ini saya memperlakukanmu dengan sedikit jahat dan culas!"


Adel tersenyum manis. Membuat Ramzy menunduk. Menutupi hatinya yang luka.


"Kenapa kita tidak berteman baik saja, diluar kapasitas saya sebagai bawahan boss?.. Hai, cowok! Kenalkan, aku Adelia. Nama kamu siapa? Kamu selalu sendirian, jadi saya ingin menawarkan pertemanan yang tulus, no tipu-tipu, bebas sengklek dan gesrek selama masih dibatas kewajaran."


Adel berdiri mengulurkan tangannya pada Ramzy. Mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung.


Ramzy tersenyum lalu ikut berdiri. Ia menyambut uluran tangan Adelia dengan senyum legowonya.


"Hai cewek, aku Teuku Ramzy, panggil Ramzy aja! Senang berteman denganmu. Apalagi kamu bukan cewek genit yang matre. Ajarkan aku sengklek dan gesrek, karena aku terbiasa serius."


Keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Alhasil suasana yang tadi sedikit suram menjadi hangat dan pecah seketika.


"Boss, udah malam. Aku harus pulang! Mama papaku pasti khawatir kalo aku pulang lebih malam lagi!"


"Ayo, aku antar Del!"


"Makasih ya boss! Maaf, aku jadi ngerepotin nih!"

__ADS_1


"Heh, cewek tangguh! Aku yang bawa kamu, otomatis aku yang harus bertanggung jawab nganterin kamu!" Ramzy menepuk pundak Adel. Membuat Adel tertawa. Kini ia lebih nyaman, karena antara ia dan Ramzy telah terjalin pertemanan.


Dalam perjalanan keduanya tak berhenti tersenyum dan tertawa. Karena selalu ada saja perkataan Adel yang tiba-tiba membuat Ramzy terpancing menimpalinya hingga menjadi jok garing yang murahan. Tapi dasar, berhubung hati keduanya sedang senang, ocehan receh pun menjadi gelak tawa.


"Thanks boss! Kapan-kapan aku ajak mampir kedalam. Aku kenalin orangtua dan kakakku. Tapi lain kali deh!"


"Bisa ga sih, kalo diluar panggil Ramzy aja? Umur kita juga cuma terpaut 2 tahun, Del kodel!"


"Ih, Ramzy Zizik,... mulai berani ngatain aku nih!"


"Nah gitu,... lebih kurang ajar lagi, siap-siap dapat surat PHK secara tidak hormat!"


"Hahahaha... Suka-suka aku dong!"


"Serahlah! Hahaha... Makasih ya boss buat candle light dinnernya!"


Ramzy mengangguk. Ia ingin segera pulang. Menenangkan fikirannya karena tembakannya yang meleset.


Kamar menjadi pelampiasan bagi Ramzy. Hancur lebur ia obrak-abrik.

__ADS_1


Ia merasa harga dirinya tercabik-cabik sebagai seorang pria tampan nan elegan. Selama ini ia tak pernah gagal menembakkan busur cintanya. Bahkan ia tidak pernah bersusah payah karena gadis-gadis cantik itulah yang lebih dulu mengejarnya.


Berbeda sekali dengan tindakannya pada Adelia. Ia rancang begitu sempurna.


Mungkinkah ucapan Andini setahun lalu menjadikannya pria bernasib buruk dalam percintaan?


Hhh.... Ramzy kembali mengingat kenangan buruk akan percintaannya yang lalu-lalu. Tiga kali ia memadu kasih. Kandas sebelum bunga cinta berhasil ia petik. Semua karena 'kelemahannya'. Hhh....


Prang.... Gubrak


Seperti biasa, kamarnya kini bagaikan kapal pecah. Vas bunga, figura photo, bahkan lampu mejanya hancur berantakan menjadi sampah.


Ia terluka dalam. Bahkan kini semakin dalam karena belum ada tindakan, duri justru menancap lebih dalam.


"Adeeeeel!!! Apa kurangkuuuuuuuu?? Aku ini cowok keren, tampan rupawan juga banyak uang! Kamu semudah itu menolakku? Dengan alasan tidak mungkin, seperti mendapat durian runtuh. Orang justru senang dapat durian runtuuuuuuh!!! Kamu malah dengan mudahnya bilang justru babak belur!!!! Aaaaaaaaarrrrrrggggh.....!!!!!!"


Ramzy hanya berteriak-teriak seorang diri dalam kamarnya yang berantakan. Rumah besarnya jadi saksi hidup kegetiran cintanya.


"Setan kalian wahai perempuaaaaaan!!!!! Andini ibliiiiiiiiss, semoga Tuhan melaknatmuuuuuu!!!!! Racheeeel, Biancaaaaaaa.....!!! Membusuk kalian dinerakaaaaaaa....!!!!"

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2