PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
TERNYATA INI ADALAH MALAM PERPISAHAN


__ADS_3

"Papa! Buka pintunya pa! Ini Ella sama Rafa dan Rafi! Eyaaaang.... Eyang Kung,...! Rafa-Rafi datang!"


Ella mengetuk-ngetuk pintu kamar papanya. Kata ceu Lilah papa jarang makan. Itu sebabnya hari ini Ella masak sup tulang iga kesukaan papa. Lalu mengantarnya sembari melihat keadaan papa.


Pintu kamar papa terbuka.


"Pa!"


"Iya sayang!"


"Makan yuk?"


"Papa udah minum Energ*n tadi, nak! Masih kenyang!"


"Ella masak sup tulang iga, pa! Enak deh! Mas Ramzy aja sampe makan 2 piring. Yuk cobain masakan Ella, pa!"


Papa terlihat kesulitan untuk bangun. Ella tersentak. Tubuh papanya terlihat menyusut drastis. Tubuh gagah perkasa itu kini bagaikan tulang terbalut kulit saja. Bahkan papa terlihat lebih renta dari usianya.


"Pa! Papa ga pernah makan tepat waktu ya?" dua butir airmata Ella jatuh dipangkuan papanya.


Ella memeluk tubuh papa yang kini mungil. Padahal mama baru meninggal sebulan yang lalu. Tapi papa sangat terlihat jauh berbeda dari papa yang dulu diurus mama.


"Maafin Ella ya pa! Ella terlalu cuek sama papa! Ella sibuk dengan keluarga Ella dan diri Ella sendiri pa! Hik hik hiks..... Tapi papa juga harus fight! Harus semangat! Supaya mama juga tenang dan bahagia dialam barzakhnya."


Ella menuntun papanya keluar kamar. Didudukinya papa dikursi makan. Ia membuka rantang tupperware yang tadi ia bawa. Harum sup iga menyeruak membuat papa tersenyum manis sekali.


Airmatanya jatuh. Antara bahagia dan sedih. Para babysitter mendekat kearah papa ketika papa melambaikan tangannya pada kedua cucunya yang tampan.


"Rafa Rafi sudah ekahan ya? Maaf ya, kalian sibuk mengurus mama sampai lupa pada cucu-cucu kesayangan Eyang Kung dan Eyang Uti!"


"Udah, pa! Maaf kami ga adakan acara. Hanya selametan sederhana di panti asuhannya Agnes! Oiya... Agnes sabtu katanya mau nginap disini!"


"Alhamdulillah! Iya, sayang! Tapi malam ini Ella nginap disini ya? Papa kangen Ella, Rafa dan Rafi. Nginap ya sekasur sama papa?"


"Hehehe.... Iya pa! Nanti Ella kabari mas Ramzy! Biar mas Ramzy pulang kantor langsung kesini!"


"Makasih, sayang!"

__ADS_1


Ella tersenyum miris. Sedih juga ia melihat kondisi papa yang merapuh seperti itu.


Semoga dengan kehadirannya membawa babies L membuat papa sedikit terhibur. Dan benar saja. Papa makan banyak karena masakan Ella yang nikmat.



Tawa papa mengembang sempurna melihat cucu-cucunya yang menggemaskan. Meski sesekali ia menyusut airmata karena teringat mama. Tapi setidaknya papa bahagia melihat Ella bahagia bersama Ramzy dan kedua buah hatinya.


"Yang sehat ya pa! Ramzy berencana membuat anak lagi setelah Rafa dan Rafi 2 tahun!" kata Ramzy pada papa menggoda Ella.


"Maaas... idih? Emangnya hamil dan melahirkan semudah itu! Kamu aja yang hamil! Aku belum siap mas, masih terasa ngilu perutku dibedah dokter Bryan!"


"Eh, ngomong-ngomong dokter Bryan,... ada gosip baru nih!" Ramzy teringat pada dokter spesialis kandungan yang menangani kelahiran babies L.


"Agnes sedang dita'aruf oleh dokter Bryan, yang!"


"Eh? Iya kah, mas? Beneran? Waaah, pa...! Sebentar lagi kita bakalan hajat besar dong nih!"


"Bryan menelpon mas 2 hari lalu. Minta tolong diantar kesini! Mau sowan ketemu papa! Katanya mau minta izin melamar Agnes. Tapi untuk saat ini, Bryan sedang mendekati dulu bunda Utami. Agar mudah langkah kedepannya, katanya!"


"Waaah.... Alhamdulillah! Agnes hebat! Bisa memikat dokter Bryan yang sangat tampan itu!"


"Bukan gitu papi Zy! Mami Ella khan cuma bilang dokter Bryan sangat tampan. Tapi papi Ramzy lebih tampan dan paling tampan!"


"Yeaaay... gitu dooong! Hehehe... muacht, muacht, muacht..!" Ramzy mencium pipi Ella, Rafa dan Rafi. Bahagia terasa juga diwajah papa Ella.


Papa hanya senyum-senyum dan mengangguk-angguk.


Pukul 9 mereka masuk kamar papa. Rafa, Rafi, Ella dan papa tidur dikasur ranjang papa.


Sementara Ramzy tidur diruang tamu. Dan para babysitter serta mbok Surti tidur dikamar lantai atas.


Papa memeluk Ella erat dari belakang. Dan Ella membiarkan tindakan papanya yang tak pernah melakukan itu sebelumnya. Bahkan ketika ia belum menikah dan masih tinggal bersama papa dan mama.


"Ella! Maafkan papa ya nak? Papa banyak salah sama kalian! Terutama sama mama dan kamu! Kamu sampai,... menjadi.... korban... kebiadaban... orang hik hik hiks! Maaf sayang! Papa bukan papa yang baik! Papa mengecewakan kalian semua! Maaf!"


Ella membalikkan tubuhnya. Ikut menangis memeluk papa erat.

__ADS_1


"Ella juga minta maaf ya pa? Ella selalu galak sama papa! Ella selalu kasar dan suka membentak papa! Ella juga jahat dan galak sama mama! Huhuhuu....hik hik hiks!"


"Iya. Maafkan papa juga ya?"


"Iya.... Sekarang papa harus semangat! Harus sehat. Harus kuat! Karena Ella cuma punya papa saja sekarang! Ya pa?!"


"Iya Ella! Udah jangan nangis! Nanti Rafa-Rafi bangun! Ella! Papa percaya Ella menyayangi Agnes juga, seperti Ella menyayangi Adel. Papa sangat bersalah pada Agnes, karena tidak pernah memberi cinta dan kasih sayang papa padanya. Tolong sampaikan maaf papa berkali-kali padanya ya?"


Ella mengangguk dan papa tersenyum. Sama-sama menyeka airmata diwajah mereka. Hati mereka seperti terasa ringan dan bersih. Dan perlahan hawa kantuk menyelimuti. Membuat ayah dan anak itu terlelap kemudian.


Terdengar adzan Subuh berkumandang dari speaker masjid yang ada diujung kompleks perumahan.


"Pa! Bangun pa! Sudah subuh, pa!"


Ella membangunkan papa dengan suara lembut ditelinganya. Diusapnya lengan papa yang putih dan agak berbulu. Terasa dingin.


"Paa! Adzan Subuh! Yuk sholat berjama'ah! Ella udah mulai sholat. Bisa jadi makmum papa lagi!"


Ella tersentak kaget. Ketika tangan papa jatuh dari dekapan tubuhnya dengan begitu lemasnya.


Dada Ella berguncang keras. Jantungnya berdebar tak karuan. Didekatkannya bibirnya ke pipi papa yang dingin dan agak pucat.


"Papa! Papaaa!" Ella mengguncang tubuh papanya agar sang papa bangun dari tidurnya. Tapi tiada reaksi apalagi jawaban.


Ramzy membuka pintu kamar papa karena mendengar suara teriakan istrinya.


"Papa kenapa, Ella?"


"Papa mas! Papa!" Ella berurai airmata menatap wajah suaminya. Ramzy setengah berlari menghampiri keduanya.


"Papa! Papa! Papa bangun pa! Papa..... papa ini Zy pa! Papa! Papaaaaaaa....... Ya Allah gustiiii! Papa!!!"


"Papaaaaaaa! Papaaaaaaaaaaa..... Papa jangan tinggalin Ella paaaaa......! Papaaaaaaa........!!!! Ya Allah plis jangan ambil papa jugaaaaa..... Papaaaaaa!!!!"


Pukul 04.52 dihari Kamis tanggal 16 Maret, papa pergi meninggal dunia dengan wajah dan hati yang tenang karena putrinya telah memaafkan semua kesalahannya. Mengikuti kepergian mama yang jeda waktu 1 bulan 2 hari saja.


Hanya Agnes saja yang sedikit memberatkan langkahnya pergi dari dunia.

__ADS_1


Papa belum sempat memberikan cinta dan sayang yang sama rata pada ketiga putri tercintanya. Ternyata ini adalah malam perpisahannya tidur bersama Ella dan cucu-cucunya.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2