PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
INIKAH TAKDIR?


__ADS_3

"Apa? Adel meninggal dunia? Ya Tuhaaan! Baik, baik. Dimana akan dikebumikan? oiya, iya. Saya mungkin akan langsung menuju pemakaman!"


Bagai petir disiang hari. Rahman mendapat kabar sedih dari sahabatnya pemilik coffe shop. Sebenarnya ia ingin menyambangi dokter Prita, psikolognya setelah sekian lama. Tapi ternyata dokter Prita sedang dirumah duka. Katanya kerabatnya meninggal dunia.



Lama ia tak berjumpa dengan Adel. Gadis yang dulu pernah ia kejar dan inginkan menjadi kekasih. Tapi nasib baik tak berpihak padanya. Adelia lebih memilih Ramzy ketimbang dirinya yang memang ternyata terlambat mengenalnya. Andai dulu ia lebih dulu mengenal Adel, pasti ia sudah pastikan dapatkan gadis manis yang selalu ceria itu.


Ia masih memandangi ponselnya yang dengan jelas terlihat foto Adel disana. Ia duduk dijok belakang. Sementara mobilnya melaju dikendarai sopir pribadinya menuju area pemakaman.



Wajah manis Adel lengkap dengan senyuman, begitu sedap dipandang mata. Tidak pernah membuatnya bosan.


Tapi, entah apa yang terjadi, kini gadis itu telah tiada. Dipanggil Yang Maha Kuasa.


"Adel! Aku masih tidak percaya! Apa benar, kamu meninggal dunia, Adel?"


Suasana pemakaman telah ramai. Ternyata iring-iringan jenazah telah sampai disana dan tengah mempersiapkan proses pemakaman.

__ADS_1


Rahman hanya mengikuti dibelakang. Karena ia tak ingin memperlihatkan diri juga tak berniat mengenalkan dirinya sebagai teman pada keluarga Adel.


Terlebih lagi, pasti Ramzy akan marah besar dan kemungkinan melampiaskan emosi labilnya padanya nanti.


Suasana hikmat cenderung sedih. Banjir airmata membuat Rahman semakin tertunduk. Bahkan setitik airmatanya ikut terjatuh juga.


Adelia adalah gadis yang baik. Ramah dan periang. Sudah pasti banyak teman yang menangisi kepergiannya. Apalagi dengan keadaan yang tidak terduga dan secepat ini.


"Padahal bulan depan mereka akan menikah!" celoteh beberapa pelayat yang berdiri dibelakang Rahman membuatnya menoleh.


"Ssttt...jangan berisik!" bisik gadis itu pada temannya setelah melihat Rahman memperhatikan mereka.


Adel dan Ramzy akan menikah sebulan lagi? Ini pasti pukulan berat bagi pria itu. Hhhh..... Adel! Kenapa kau harus pergi secepat ini Del? Meninggalkan banyak orang yang menyayangimu. Aku harus senang atau sedih? Aku senang, tak datang mengucapkan selamat karena pernikahan kalian gagal. Tapi aku sedih, sangat sedih.... Karena kamu satu-satunya perempuan yang memegang rahasiaku. Kamu satu-satunya wanita yang paling kupercaya, Adelia! Dan kini kamu, juga meninggalkanku untuk selamanya. Padahal, hatiku pernah berjanji, jandamu pun aku terima dengan senang hati. Hhhh....


Adel tidak punya salah. Justru akulah yang bersalah. Aku tidak bisa menundukkan hati Adel untuk mendapatkan cintanya, pak! Andai Adel bersamaku, mungkin ia masih hidup sampai hari ini! Rahman masih bergelut dengan dirinya sendiri.


Matanya tiba-tiba menangkap wajah seseorang. Dokter Prita.


Ternyata Adel itu kerabatnya. Ternyata ia juga hadir dipemakaman Adelia.

__ADS_1


Dokter Prita terlihat merangkul seorang gadis yang begitu lemah disisinya. Meski tubuhnya lebih tinggi dari dokter Prita, tapi jalannya tertatih pelan bahkan nyaris oleng seperti mau pingsan. Dan....


Hap.


Tangan Rahman berhasil menyangganya. Tidak jadi gadis itu jatuh ketanah area pemakaman yang merah.


"Mas Rahman?"


"Iya dok! Hati-hati, saya bantu bopong perempuan ini. Mobil mana? Dokter buka saja pintu mobilnya, biar saya yang angkat!"


Wajah dokter Prita terlihat pias. Mungkin ia juga larut dalam kesedihan kepergian Adelia, fikir Rahman.


Ella pingsan tak sadarkan diri dalam pelukan dokter Prita. Membuat sebagian wajahnya tertutup rambutnya yang panjang terurai.


"Ah Eh, biar saya saja mas! Ga papa... Saya bisa minta tolong yang lain!" kata dokter Prita kikuk.


Tapi Rahman lebih sigap. Tangannya langsung mengambil tubuh wanita pingsan dirangkulan dokter Prita dan "hap". Kini Ella ada dalam gendongannya. Gaya ala bridal. Membuat dokter Prita tak bisa apa-apa selain bergegas menuju mobilnya dengan diikuti Rahman yang menggendong Ella.


Tuhaaaaan....!!!! Inikah takdir-Mu? hati dokter Ella berkecambuk.

__ADS_1


Semoga mereka sama-sama tidak menyadarinya. Karena jika Rahman apalagi Ella sadar, bisa habis akuuuu...... dokter Ella bergumam dalam hati dengan dada yang bergemuruh.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2