
"Pakeeeet!"
Ella terkejut karena menerima dua amplop surat besar berwarna coklat susu.
Setelah menandatangani surat keterangan diparaf penerima, ia masuk rumah dan duduk dikursi ruang tamu.
Satu dari Ramzy dan satunya dari Rahman. Satu sertifikat menyedihkan satunya sertifikat menyenangkan.
Ya. Ramzy mengiriminya sertifikat akta cerai. Tinggal tandatangannya saja. Sedangkan tandatangan Ramzy telah tertera disana.
Sementara Rahman, mengiriminya sertifikat kepemilikan SOFTELLA DEPT STORE. Mau tidak mau, terima tidak terima, kini dept store itu atas namanya. Miliknya.
Ella menelpon Rahman. Tapi hanya suara operatornya saja yang menjawab "nomor yang anda tuju, tidak aktif!".
Ia lalu menelpon Ramzy. Tiada tulisan berdering. Hanya memanggil. Hhh... Membuatnya jadi pusing kepala tiba-tiba.
"Ada apa dengan pria-pria ini!? Kenapa keduanya sama-sama tidak bisa dihubungi?"
Tin tin tin
Suara klakson mobil berisik sekali terdengar didepan rumah orangtua Fidellia.
Satu orang baru turun dari sebuah taksi sedang seorang lagi juga turun setelah mengklakson berkali-kali.
Rahman dan Ramzy.
Panjang umur mereka. Baru saja Ella ngedumel membicarakan keduanya. Tiba-tiba keduanya langsung berdiri digerbang pintu pagar rumahnya. Hhhh.....
__ADS_1
"Ella!" Ramzy turun sembari membawa buket bunga yang besar. Disampingnya ada Rahman dengan setangkai bunga mawar ditangannya.
Gila! Ada apa mereka datang berbarengan? Mau daftar sunnat massal? Haiiisssh! Bikin pusing kepalaku bertambah setelah mereka berbuat sesuka hati mereka.
"Ella!" Semakin bingung Ella. Senyum manis Ramzy juga tatapan mata Rahman. Dua-duanya tebar pesona seperti ayam kalkun Ramzy yang jantan.
Keduanya pria dewasa. Sama-sama matang dan membawa 'cinta'.
"Nona Fidellia?"
"Eh? Siapa lagi kamu?"
Huuufh!! Hampir saja pria muda tampan yang baru saja datang itu menerangkan jati dirinya sedetail-detailnya . Kalau tidak, habis sudah ia jadi oncom goreng dihajar Rahman dan Ramzy. Disangka saingan baru.
"Permisi kak!" Cowok muda 18 tahun itu melipir pergi dengan senyum dikulum. Slamet, slamet! Gumamnya dalam hati.
"Ada apa kalian kerumah ini seperti orang janjian! Aku memang tadi ada urusan dengan kalian. Tapi kalian malah janjian datang berbarengan!"
"Ella! Aku mau ngajak kamu nonton!" kata Rahman.
"Jangan mau, Ella! Ikut aku aja, kita makan diresto ternama!" sela Ramzy.
__ADS_1
"Aku ga akan ikut kalian berdua! Maaf, ga minat! Bye!"
Bruk.
Ella segera menutup pintu rumahnya. Mengintip sedikit dari balik jendela. Khawatir dua pria gila yang sudah membuatnya bingung dan stres karena kelakuan mereka itu saling baku hantam lagi.
Tapi ternyata tidak. Mereka justru terlihat sedang diam menunggu.
Koq mereka malah anteng, adem-adem aja? Berasa lagi nunggu beli tiket dipintu loket stadion PakanSari mau nonton pertandingan sepak bola langsung. Hhhh....!! Terserahlah!
"Siapa diluar Nak?" tanya mamanya kepo.
"Bu bukan siapa-siapa ma! Orang iseng ga da kerjaan!"
"Oh, ya udah! Masuk yuk ah!"
"Ma! Itu ada tamu diluar, kenapa pada lesehan berasa lagi nunggu pesanan diwarung nasi kucing Malioboro? Suruh masuk ma!" tiba-tiba papa Ella membuka pintu depan dan terkejut melihat Rahman dan Ramzy duduk-duduk didepan pintu pagar.
Ya ampuuuuun! Kenapa juga si papa buka pintu depan? Ella kesel dan keki melihat tingkah polah Rahman Ramzy yang bagai bocah TK tak mau pergi.
"Ya udah, silakan papa terima tamu-tamu papa! Aku no comment, aku ga merasa kedatangan tamu yang kagak jelas model mereka! Ini papa lihat aja! Mereka mengirimiku surat ini! Silakan papa bisa liat sendiri!
Ella masuk kedalam rumah. Menaiki anak tangga, pergi tidur ke kamarnya. Dengan perasaan kesal dan tidak terima karena kini dia telah berstatus menjadi jandanya Ramzy. Tapi orang itu dengan tebal mukanya, justru mendatanginya dengan sebuket bunga besar. Tanpa rasa malu pada kedua orangtuanya.
Haish! Sungguh edan! Jaman emang udah edan. Orang-orang isinya juga edan-edan! Gerutunya kesal.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1