
"Saya dengan berat hati, meminta kesediaan bapak ibu, menerima keputusan kami...mengikuti amanah almarhumah Adelia! Saya mohon, mari kita bicarakan dengan kepala dingin!"
Ella tersentak. Matanya menatap wajah papanya.
"Ini amanat terakhir Adel! Bisakah pernikahan tetap dilangsungkan tapi kini antara Ella dan Ramzy?" kata papa lagi setelah menelan saliva.
"Papa!"
"Kami sedih, Adel telah pergi meninggalkan kami. Tapi kami juga ingin melaksanakan amanahnya!"
"Tidak pa! Ella tidak setuju!"
"Ella, ini amanat terakhir adikmu!"
"Tidak! Ini tidak benar!... Itu bukan amanat. Itu adalah perkataan Adel yang dalam keadaan setengah sadar! Ella tidak mungkin menikah dengan Ramzy! Adel dan Ramzy lah pasangan sejati yang sesungguhnya!"
"Ella, kami faham nak maksudmu!" mamanya berusaha menenangkan putri sulungnya itu.
Ella menangis. Berdiri hendak pergi meninggalkan rapat keluarga.
"Ma, pa....! Ella mohon maaf, Ella tidak akan melakukan itu! Tidak bisa! Ella tidak ingin seolah bahagia diatas kepergian Adel! Maaf. Sekali lagi maaf!" katanya sebelum beranjak.
Semua terdiam. Tiada yang berani membuka mulut bersuara. Bahkan Ramzy sekalipun.
Kedua orangtua Ella telah tahu adat tabiat putri-putri mereka termasuk kekerasan hati Ella. Membuat keduanya hanya bisa menghela nafas dan menunduk diam.
Akhirnya keluarga Ramzy pulang dan berhasil membawa serta Ramzy ikut bersama mereka.
Sunyi dan sepi. Kini hati Ramzy semakin tenggelam dalam kehampaan.
Sementara Ella sesegukan diatas ranjang tidurnya. Hampir menyepak barang seserahan Ramzy untuk Adel, tapi urung dilakukan karena mengingat Adel yang telah tiada.
Ia membuka handphonenya. Mencari nama dokter Prita dikontaknya. Ella mengetik kata-kata ingin bertemu diklinik besok.
Dokter Prita yang kaget mendapati wa Ella segera membalas dengan mengatakan kalau ia akan selalu ada untuk Ella. Meski jantungnya berdegub kencang karena kini ia ada ditengah kisah hidup Ella dan Rahman yang masih berseberangan.
"Hallo, mas Rahman! Besok aku ada pertemuan dengan Ella di klinik. Aku kasih kamu kesempatan melihat dan menemui dia. Tapi jangan harap aku memihakmu! Dan satu lagi, tolong...jangan dulu muncul sebelum Ella bisa berdiskusi denganku. Oke?"
__ADS_1
Diseberang sana Rahman yang mendengar suara dokter Prita yang menelponnya langsung bersorak senang. Berkali-kali ia ucapkan kata terima kasih pada dokter Prita.
Hatinya berdebar menunggu esok tiba. Gugup sekaligus takut, tapi ia telah siapkan mental dan jiwanya pada apapun yang terjadi.
Esoknya.
"Dok!" Ella menghambur kepelukan dokter Prita dengan linangan airmata.
"Sabar ya Ella! Takdir Kuasa Allah! Kita semua ummat-Nya hanyalah ciptaan-Nya! Dia Yang Maha Kuasa! Allah lebih sayang Adel daripada kita semua," tutur dokter Prita membuat Ella semakin tenggelam dalam pelukan hangatnya.
"Bagai mimpi mbaaak!" isak Ella.
"Iya. Aku juga, seperti masih mimpi rasanya!"
Keduanya masuk kedalam ruangan praktek dokter Prita sambil berjalan masih berangkulan.
Dokter Prita memberi Ella segelas air putih dari dispensernya. Hangat-hangat kuku.
Ella meminumnya seperempat gelas. Lalu menaruhnya dimeja didepannya.
"Adel tidak mungkin bicara dari hati! Ia sangat mencintai Ramzy dan aku ga mungkin menerima amanah itu untuk menikah dengan si Ramzy kesayangannya! Tidak akan pernah!"
"Hhhh.... Cukup pelik juga, karena ini amanah!"
"Tapi aku ga akan menuruti keinginan mama papa! Ramzy bisa jadi anak mereka tanpa harus menikah denganku khan, mbak?"
"Iya juga sih! Tapi yang jadi masalahnya ini amanah almarhumah ya?!"
"Mbak juga berfikir aku harus mengikuti amanah itu?"
Tok tok tok ...
Keduanya kaget mendengar pintu diketuk.
"Ya masuk!" kata dokter Prita. Jantungnya berdegub kencang. Mulai gundah karena feellingnya yang tidak enak.
"Dokter Prita! Saya perlu bantuan dokter!"
__ADS_1
Mata Ella membulat. Nanar dan penuh amarah.
"K kau?..."
Rahman masuk kedalam ruangan. Ia pura-pura kaget bertemu dengan Ella. Seolah ini kali pertamanya ia tahu Ella adalah pasien dokter Prita.
"Sebentar mas, saya masih ada pasien tengah konsultasi. Apa tidak ada resepsionis didepan yang mencegat mas masuk?" ujar dokter Prita juga pura-pura marah.
Ketiganya bagaikan patung yang membatu. Terlebih Ella yang kembali berlinang airmata.
Ia bangkit menyerang Rahman dengan pukulan dan cakaran diseluruh wajah juga tubuh pria yang pernah mengambil kegadisannya itu.
"Bangs*aaaaaat! Baj*ngan! Ibl*s!!!!"jerit Ella lepas kendali.
Ella benar-benar melampiaskan semua amarahnya. Dokter Prita sendiri hanya diam bengong melihat Ella yang bagai kesurupan.
Hingga akhirnya ia baru sadar kalau kuku jari jemari Ella berlumuran darah Rahman. Membuat dokter Prita segera memeluk Ella untuk menenangkannya.
Sementara Rahman terkapar dengan wajah serta tangan berdarah-darah kena cakaran maut Ella. Ia menangis rebah dilantai. Memohon ampunan Ella ditengah isak tangisnya.
"Pergi kau ibl*iiiiis! Jahanam, pergiiiiiiii!!!!"
"Aku mohon nona, aku mohon maaf! Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku. Katakan apapun yang kau mau, aku akan melakukannya!"
"Pergi kau ke neraka! Pergiiiiiii!!!! Hik hik hiks..."
Dokter Prita memeluk Ella erat. Menenangkannya dengan mendekap kepala Ella didadanya. Tangis Ella pecah. Histeris dan menyayat hati.
"Menikahlah denganku nona! Aku akan membayar semua penderitaanmu dengan kebahagiaan!"
"Apa? Menikah? Hahaha... Enak sekali kau bicara! Kau fikir dengan gampangnya kau menyeretku kesemak-semak dan kini kau bilang akan menikahiku? Hei,... kau fikir aku ini apa? wanita murahan? wanita sembarangan yang bisa luluh oleh kata manismu dan bualan gilamu?"
Bug.
Ella menendang tubuh Rahman hingga terpental kepojok ruangan.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1