PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
CINTA


__ADS_3

"Assalamualaikuum! Permisi mbak, ada kiriman surat undangan!"



"Oh iya! Terima kasih mas!" Mira menerima sepucuk surat undangan berwarna merah maroon berpelat pita emas. Indah sekali.


"Mari mbak, permisi!" Mira tersenyum mengangguk.


Dibukanya segera karena penasaran. Ternyata ada gambar foto pengantin cantik dan tampan disana. Dan itu adalah foto gadis yang pernah Mira lihat. Mantannya kak Rahman.



Mira menatap dengan seksama. Hatinya penuh harap, semoga dengan datangnya surat undangan ini bisa membuat kak Rahman terbuka mata dan hatinya padanya.


Panjang umur. Yang difikirkannya baru saja memarkirkan motornya diteras rumah kontrakan. Kak Rahman memang baru pulang dari mengirim barang.


"Kak, nih! Surat undangan dari mantan!"


"Oh!"


"Cuma 'oh'? Ya ampuuuun..... gitu doang responnya?"


"Terus harus bagaimana Mir? Hehehe... Jingkrak-jingkrak bilang "horeeeee" gitu?"


"Aaaaah ngeselin deh lama-lama!"


Rahman hanya duduk sembari membuka surat undangan dari Ella dan Ramzy itu.


"Alhamdulillah, akhirnya mereka nikah juga!" katanya pelan seraya tersenyum simpul.


Mira yang diam-diam memperhatikan Rahman, ikut tersenyum. Salut juga ia akan ketegaran 'kakak' ketemu gedenya itu. Hatinya begitu besar menerima kenyataan bahwa mantannya menikah lebih dulu.


Sedang ia, memikirkan Peter saja sudah ogah dan muak. Peter. Cowok stres yang sempat membuatnya terbang melayang keawang-awang. Ternyata hanyalah pria hidung belang yang hanya mengambil keuntungan darinya saja.


"Mir, Mira?"


"Ah, iya kak?"


"Kamu bengong, kenapa?"

__ADS_1


"Ga papa! Sedih aja jika lihat surat undangan orang!"


"Koq, aneh deh kamu! Harusnya diundang kepernikahan itu senang, bukan sedih!"


"Ya sedih. Mikirin, kapan aku yang ngasih undangan itu ke orang-orang! Hhh..."


"Sabar, Mir! Kalau sudah waktunya, pasti kamu juga akan buat surat undang macam ini!"


"Dengan siapa? Ga ada yang mau sama gadis tapi bukan perawan macam Mira begini! Miskin dan yatim piatu pula!"


"Mira? Jangan ngomong kayak gitu! Jangan pesimis gitu! Ga boleh!"


"Kak Rahman aja ogah nikah sama Mira. Iya khan?"


"Aku sudah tua Mira! 34 tahun, dan Mira 22 tahun. Jomplang banget khan? Mira bisa dapetin yang lebih baik dari kakak."


"Ga da yang lebih baik dari kak Rahman! Kak Rahman ganteng, baik.. dan sepertinya tanggung jawab orangnya!"


"Kata siapa aku ini orang bertanggungjawab Mir! Aku justru adalah orang paling bejad paling bobrok karena tidak punya tanggung jawab!"


"Kalo gitu, kak Rahman harus tanggung jawab sama Mira! Harus mau nikahin Mira dan urus Mira sama Ahmad sampai akhir hayat kakak!"


"Khan Mira dah kata! Ucapan Mira serius kak! Bukan main-main karena Mira juga sudah dewasa. Sudah 22 tahun dan ingin ada pria yang mau melindungi juga menyayangi Mira! Mira capek terus-terusan dibohongin laki-laki kak! Dijanjikan akan dinikah, tapi justru diselingkuhi malah ditipu mentah-mentah! Nasib Mira buruk, Kak!"


Mira menangis. Meratapi nasibnya. Membuat Rahman terenyuh dan menariknya kedalam dekapannya.


Tanpa suara, tapi hatinya sangat mengerti perasaan Mira. Usia Mira masih terlalu muda. Tapi sudah begitu besar beban hidupnya.


Yatim piatu bersama satu adik lelakinya yang masih kecil. Berjuang mencari nafkah dirinya sendiri dan adiknya, Ahmad. Berusaha keras memajukan usaha bisnis onlinenya yang kekurangan modal. Itu adalah pencapaian luar biasa Mira dimata Rahman.


"Kamu perempuan hebat Mira! Kamu hebat bisa melewati semua! Kakak kagum sama Mira! Kakak yakin, Mira bisa bahagia."


"Bagaimana bisa Mira bahagia? Siapa yang akan membahagiakan Mira kak? Tak ada!" isaknya sedih dalam pelukan Rahman.


Aku, Mira! Aku akan bahagiakan dirimu. Semoga selamanya. Bathin Rahman dalam hati.


"Kamu sungguh mau sama kakak? Maksudnya mau nikah? Mau mendampingi kakak yang udah tua ini? Kakak pria 34 tahun yang miskin dan tak punya apa-apa ini, Mira!"


Mira mendongak. Menatap wajah manis Rahman. Mengangguk cepat sembari menangis keras. Ia terharu sekaligus bahagia. Karena akhirnya Rahman memastikannya mau menikah dengannya.

__ADS_1


"Aku ingin menikah dengan kak Rahman! Jangan lihat aku yang umurnya jauh lebih muda 12 tahun kak! Cinta tak pandang usia. Tak mengenal kasta. Juga tak menilai harta. Yang Mira ingin, kita menikah dan bahagia bersama. Saling menerima dan memberi. Saling menutupi dan melengkapi. Hingga tiada lagi yang namanya kesedihan dan kesendirian!"


"Meskipun kita hidup sederhana?"


"Meskipun kita hidup susah. Yang penting selalu saling bantu dan bekerja sama hingga menutupi beban biaya hidup kita!"


"Sungguh?"


"Iya!"


"Okey, Deal! Tunggu kakak datang melamar Mira ya?"


"Bener? Beneran ini? Haaaa.... yeeeaaaah hahahaha.... Alhamdulillaaaah.... makasiiih ya Allah, Mira bahagia! Hik hik hiks huhuhu..."


"Katanya bahagia, tapi koq nangis!"


"Ini tangis keharuan tauuuu, iiiiih hik hik hiks jangan digodain dong kak!"


"Hahaha... iya Mira iya! Silahkan deh kalo mau nangis!"


"Aaaaaaah... peka' dikit napa? Hibur, peluk kasih kata-kata yang indah dan romantis kek,.. biar Mira ga nangis lagi! Malah dipersilahkan nangis aaaaaaaa....!!"


"Yassalaaaam.... hahaha... masih salah juga ternyata! Ampun deh aaaah, wanita itu selalu benar dan pria selalu salah. Hahaha... ! Sini, sini..! Cup cup cup, mau nangis apa mau dipeluk?"


"Dipeluk hehehe...!"


"Maaf ya, kalau kakak kurang peka' karena Mira terlalu sempurna untuk kak Rahman! Kakak takut terlalu tinggi mengharap! Sedang Mira hanyalah menggoda kakak saja!"


"Mira sayang kak Rahman! Sejak masih kanak-kanak. Dan kakak lah cinta pertama Mira!"


Rahman mengecup dahi 'gadis kecil'nya itu. Bahagia hatinya, mendapati dirinya dicintai gadis manis bernama Mira Yulita. Gadis kecil yang dulu sering sekali mengganggu istirahatnya. Yang cengeng dan mudah menangis jika ia tak membantunya mengerjakan PR.


Siapa sangka ternyata gadis yang rentang usia 12 tahun dengannya itu adalah jodohnya.


Mira. Tak pernah sebersitpun fikiran bisa mendapatkan gadis berumur 22 tahun itu. Bahkan dikala fikirannya masih dan masih tertuju pada Ella. Tuhan mendekatkan Mira padanya. Anugerah Tuhan Maha Dahsyat indahnya. Rahman menerima semua takdir Tuhan dengan pasrah dan rasa syukur saja. Hingga bahagia itu datang padanya secara tak diduga.


Itulah Rahasia Allah.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2