
Rahman akhirnya pulang kerumah pukul 8 malam. Dan Mira terlihat lega meski harus menunggu lama.
"Kakak! Darimana?" tanya Mira dengan suara serak habis menangis.
Rahman menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. Membuat Mira pecah tangisnya.
"Kakak jangan kayak gitu lagi! Huhuhu... kalo kita lagi ribut jangan pergi lagi! Janji yaaa huhuhu hik hik hiks!"
"Maaf sayang, aku pergi bukannya marah sama Mira! Tapi marah pada diriku sendiri, karena istriku curiga terlalu dalam sama aku! Tapi aku belum bisa jujur terbuka semuanya. Maaf ya... maafin aku!" Rahman mendekap Mira. Mengecup keningnya membuat luruh semua beban kekesalan yang tadi menumpuk dibatin Mira.
"Kak! Aku hanya merasa kakak tidak mempercayaiku sepenuhnya sampai kakak ga berani jujur ungkapkan masa lalu kakak. Apa aku ini istri yang tidak bisa diandalkan?"
"Bukan Mira! Bukan begitu! Kakak cuma belum siap membuka semuanya pada Mira. Kakak takut Mira illfeel, lalu benci kakak lalu.... minta pisah, lalu...kakak sendiri lagi!"
"Ga laaaah, itukan hanya masa lalu! Ga mungkin Mira akan permasalahkan masa lalu! Mira juga punya masa lalu suram. Dan Mira juga akan cerita semuanya kalau kakak berani cerita!"
"Hahaha....ya ampuuun, Mira sayang! Udah udah,... ini episode panjang banget ya? Ga kelar-kelar! Plis deh, yuk kita keluar...cari angin! Mira pasti belum makan khan? Yuk kita kulineran, Mira mau kemana...kakak akan antar Mira kemana pun!"
Mira menatap wajah suaminya. Betapa ia cinta Rahman dari hati yang paling dalam. Rahman cinta pertamanya diusia 12 tahun. Setelah itu Rahman pergi menghilang. Dan Mira juga memiliki banyak cinta yang datang silih berganti. Pergaulan muda yang menyilaukan menyesatkannya dalam 'cinta sesaat'. Hingga ia memberikan 'harta paling berharga' bagi seorang perempuan yakni 'keperawanan'nya dengan begitu cerobohnya mengatasnamakan CINTA. Hhhhhh.....
Mira memeluk tubuh Rahman erat. Tak ingin ia kehilangan raga dan jiwa pria yang kini begitu banyak memberinya cinta.
Rahman mengusap lembut pipi Mira.
"Kakak tahu, kamu pasti memendam perasaan kecewa sama kakak! Tapi kakak mohon, Mira bersabar juga sama sifat kakak yang ini yaa... Plis....!! Suatu saat, akan kakak ceritakan semuanya sama Mira. Semuanya. Hanya sama Mira. Karena Mira adalah istri kakak tercinta!"
__ADS_1
"Aaaaaaa........!" Mira meleleh mendengar ucapan Rahman. Hanya Rahman lah satu-satunya pria yang memperlakukannya dengan manis baik lewat perkataan maupun tindakan.
"Yuk, kemana kita? Mau naek motor apa sewa mobil? Hm?... Mira mau kemana?"
"Terserah kakak, Mira ikut aja! Hehehe..."
Motor vespa kesayangan Rahman jadi pilihannya. Malam itu mereka berkeliling seputaran pinggiran kota. Turun di rumah makan Padang, setelah itu nongkrong di kafe yang sedang viral dipinggiran kotanya.
Mira menggelendot mesra dipundak Rahman. Sementara Rahman memeluk erat pinggang ramping istrinya. Keduanya terhanyut dengan buaian life music yang tersedia dikafe mereka.
Keduanya begitu mendamba cinta, kasih sayang dan kebahagiaan. Bahkan tanpa sadar, Rahman memagut bibir istrinya. Meski dipojokan, tapi ternyata dikafe itu cukup ramai pengunjung datang karena kafe ini viral di medsos.
Mira dan Rahman tertawa malu sendiri mengingat kelakuan mereka. Melihat kesekitar berharap semoga tiada yang melihat keintiman yang tadi mereka lakukan.
Dikebutnya motor vespanya berharap cepat sampai kerumah mereka.
Pukul 12 malam kurang. Terlihat Ahmad masih asyik dengan gadgetnya diruang tengah.
"Tidur dek, udah malam! Besok sekolah khan?" ucap Rahman dengan mengusap lembut kepala Ahmad.
"Besok aku libur kak! Darimana sih kalian? Ish, aku ditinggal sendirian!" jawab Ahmad sedikit menggerutu.
Mira hanya tertawa sambil memberikan bungkusan kebab porsi jumbo dan satu cup es boba rasa coklat pada adiknya itu.
"Waah, gini dong pengertian! Makasih ka Rahman!"
__ADS_1
"Koq makasihnya sama kak Rahman? Sama aku engga'?"
"Karena ini pasti kak Rahman yang inget buat beliin aku! Weeew," jawab Ahmad langsung masuk kamarnya.
Rahman hanya tertawa melihat keributan kecil antar kakak beradik itu. Mira dan Ahmad sudah biasa seperti itu. Dan itu juga yang selalu membuat Rahman bahagia merasakan memiliki keluarga.
Pintu kamar Ahmad sudah tertutup rapat. Membuat Rahman memangku tubuh Mira menggendong dengan style bridal kekamarnya.
"Malam ini Mira harus tanggung jawab karena udah buat hati kakak sedih!" bisiknya ditelinga Mira. Ditaruhnya lembut tubuh istrinya itu diatas ranjang besarnya.
"Idih? Hihihi... Kakak tuh yang bikin hati Mira lebih sedih!"
"Siapa suruh jadi orang itu baperan!Percaya suami yang, inshaaAllah keberkahan yang kamu dapatkan....Juga, .... mmmm juga muaacht...!! Aku sayang dan cinta kamu Mira!"
Mira merasakan tubuhnya menegang. Rahman membuatnya menahan nafas dibuai rangsangan yang sangat intens itu.
Bibir dan lidahnya bermain nakal membuat Mira menggeliat keenakan. Begitu juga kedua tangannya yang cekatan, kadang membelai lembut kemudian menekan dengan lihai.
Entah karena terlalu lama menjomblo, setelah menikah Rahman memang memiliki 'energi' yang luar biasa. Bisa nambah 2 atau 3 sekali tempur. Membuat Mira terkapar kelelahan tapi mengakui kehebatan suaminya itu.
Siapa bilang umur mempengaruhi hubungan suami istri. Yang jelas, Rahman adalah salahsatu pengecualian.
Malam indah itu adalah milik mereka berdua.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1