PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
LEPAS KENDALI


__ADS_3

Ramzy dan Ella kembali menjauh lagi. Begitu rumitnya kisah cinta mereka untuk terjalin. Meski hati keduanya begitu ingin bersatu. Tapi bayang-bayang Adelia masih terus menghantui mereka.


Keduanya juga seperti sedang bermain kucing-kucingan. Tak ingin bertemu satu sama lain. Padahal dibelakang semua itu mata dan telinga mereka saling mengintip dan mendengarkan. Dengan lebih teliti dan ingin lebih jelas mengetahui apa-apa yang satu sama lain kerjakan.


Hhhh... Sungguh cinta yang rumit.


Perusahaan MENTARI DEPT STORE perlahan bergerak maju ke arah yang lebih baik. Bahkan pencapaian pemasukan diakhir bulan ini membuat semua karyawannya bersorak gembira. Grafik penjualan melesat naik dan nyaris stabil dalam beberapa hari belakangan ini.


Tak sia-sia Ella dan Rahman melobi banyak perusahaan konveksi yang sudah mendapat kepercayaan pasar untuk bekerja sama menaruh barang bagus mereka dioutlet-outlet perusahaan mereka. Membuat kepercayaan konsumen besar kembali melirik toko-toko kemitraan mereka. Alhamdulillah!


"Thanks gaess.... Kalian semua luar biasa! Terima kasih atas kerja keras dan loyalitas kalian pada perusahaan ini! Terima kasih, terima kasih!" ucap Rahman dihadapan para karyawannya yang tersenyum dan bertepuk tangan menyemangatinya.


"Saya berjanji, jika dalam dua bulan ini penjualan kita terus merangkak naik omsetnya, saya akan memberikan kalian bonus setengah bulan kerja. Maaf, hanya setengahnya saja. Nanti tahun depan semoga bonus bisa bertambah berkali-kali lipat!" katanya lagi. Kali ini applouse tepuk tangan para karyawannya semakin meriah. Bahkan separuh dari mereka berteriak "hore" saking bahagianya.



Rahman tersenyum puas. Akhirnya, ia dan para karyawannya bisa bernafas lega karena pengorbanan mereka tak sia-sia.


"Fidellia! Bisa saya minta waktunya sebentar?"


Ella terpaksa menuruti perkataan bossnya. Ia pun ikut masuk kedalam ruangan Rahman. Berdiri agak jauh tak ingin mendekat.


Meski ia tahu Rahman tak punya niat jahat, tapi ia kadung membenci pria yang dicapnya bajingan itu.


"Tolong tandatangani berkas ini, Ella!" pintanya dengan suara lembut seraya menyodorkan map bersampul coklat itu.

__ADS_1


"Berkas apa? Maaf, aku tidak mau sembarang tanda tangan!" tolaknya tegas.


"Bukan. Ini bukan apa-apa. Dan berkas ini tidak akan menyusahkanmu, Ella! Sumpah demi Tuhan!"


"Cukup! Jangan bawa-bawa Tuhan! Jangan sok alim dihadapanku! Jangan merasa seperti orang suci yang sedang dalam perjalanan mencari kitab suci!"


"Aku bukan biksu Tong Sam Cong, pencari kitab suci. Aku juga bukan Sun Go Kong si kera sakti apalagi si Pat Kay yang meskipun berwatak mesum tapi masih mau mengikuti gurunya kemana pun ia pergi! Aku tidak sebaik mereka!"


Nyaris saja pecah tawa Ella mendengar jawaban Rahman yang tidak ia sangka-sangka. Rahman berkata dengan wajah serius membuatnya hampir tersedak menahan ingin terpingkal-pingkal.



"Jangan berusaha melawak didepanku! Stop ocehanmu! Aku pergi!"


"Apalagi maumu? Hah?"


"Tandatangani berkas ini. Jika tidak, kamu akan menyesal. Kau pasti tidak ingin melihat rumah papa dan mamamu disita bank bukan?"


"A apa? Apa maksudmu, baj*ngan? Bicara yang jelas!!"


"Tandatangani dulu, baru aku akan menerangkan sejelas-jelasnya!"


"Tidak! Terangkan dulu!"


"Maaf, aku bersikukuh akan menyita rumah kedua orangtuamu!"

__ADS_1


"Bangs*t!! Aku benar-benar lepas kendali akibat perbuatanmu! Dimana aku harus menandatanganinya?"


"Disini. Tidak ingin kamu baca dulu, Ella?"


"Tidak! Ingat, mungkin akhir bulan ini aku akan pergi dari perusahaan ini! Jangan ganggu-ganggu lagi kehidupanku!" Ella pergi meninggalkan Rahman yang hanya berdiri mematung sambil menatap punggung Ella yang semakin menjauh.


Remuk redam hatinya membuat gadis pujaannya itu salah faham hingga melontarkan kata-kata kasar padanya. Tapi Rahman tak patah dan putus asa.


Sebenarnya, ia melakukan tindakan ini untuk memberikan Ella 'kebahagiaan'. Jauh-jauh hari sudah sangat matang ia pertimbangkan. Tentang segala perlakuan dan tindakannya dihari ini.


Seperti yang Ella pernah ucapkan. Gadis itu pasti akan hengkang dari perusahaan ini meninggalkannya pergi. Dan inilah yang ingin ia 'berikan' pada Ella. Sebagai tanda 'perpisahan'nya.


Ella galau tingkat tinggi. Mendengar kicauan Rahman tentang rumah orangtuanya yang katanya akan disita bank.


Kenapa sampai disita? Ada urusan apa orang bank sampai ingin menyita rumah papa mamanya? Apakah papanya telah mengambil pinjaman besar tanpa persetujuan dulu darinya? Tapi meminjam uang untuk apa? Toh mereka sudah bebas dari beban menafkahi dan membiayai sekolah putri-putrinya? Bahkan untuk makan mereka berdua, Ella rasa cukup dari uang pensiun papa ditambah kiriman transferan dirinya setiap bulannya. Untuk apa papanya meminjam? Untuk bisnis? Bisnis apa? Tak pernah ia dengar!


Pusing kepala Ella tiba-tiba memikirkan semua itu.


Giginya gemerutuk. Mengingat betapa seringnya dulu Rahman bolak-balik menyambangi rumah kedua orangtuanya tanpa ia ketahui dengan alasan menyambung tali silaturahmi.


Haisssh! Bajingan tetaplah bajingan. Anjing tetaplah anjing! Kesal Ella semakin menjadi-jadi. Semakin ditekuknya wajahnya karena kabar yang menyesakkan dadanya dari pria bajingan yang sangat dibencinya itu.


Ia ingin segera pergi kerumah orangtuanya. Menanyakan papa mamanya perihal urusan keduanya yang tidak ia ketahui selama ini.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2