
Ella mencoba memberi kekuatan baru pada Ramzy. Diusapnya punggung jemari Ramzy. Gayung bersambut, pria itu menarik jemarinya dan akhirnya kedua tangan mereka bersatu erat.
"Terima kasih ya,... sudah menjadi bagian dari hidupku! Terima kasih juga untuk semua pengorbanan dan pengertianmu padaku!"
"Kamu Zy! Kamulah penguat aku. Aku bisa sekuat dan sekokoh ini karena kamulah kini pendampingku! Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu!"
Keduanya bertatapan. Dengan netra berkaca-kaca lalu kemudian berbinar indah. Bagaikan ledakan kembang api terindah dimalam tahun baru. Keduanya perlahan mengungkapkan rasa bahagianya karena saling memiliki.
Akankah perasaan mereka bisa makin berkembang kearah yang lebih baik?
Sesungguhnya mereka berdua sama-sama ingin kearah itu. Tapi trauma masa lalu, membuat keduanya bergerak lambat. Bahkan teramat lambat membuat siputpun gemas melawan pergerakan hati mereka.
Hhhh....
"Ella!"
"Ya?"
"Mm.... mmm... Boleh ga, aku... mmm minta ditemenin tidurnya malam ini?" tiba-tiba Ramzy memberanikan diri mengucapkan satu kalimat permintaan setelah Ella mengurusnya memberinya obat pukul 8 malam dikamar tidurnya.
Ella terhenyak. Senang dalam hatinya akan keberanian Ramzy.
"Hanya menemani tidur, ti tidak lebih! Maaf, beberapa hari dirumah sakit membuatku terbiasa tidur disampingmu Ella!" katanya lagi dengan suara terbata-bata. Takut Ella marah karena kekurang-ajarannya itu.
Ella tersenyum. Mengangguk malu-malu. Membuat Ramzy tersenyum lebih lebar dan matanya berbinar-binar.
"Terima kasih La!"
"Tidurlah! Istirahat! Ingat kata dokter, gejala tipes bisa berbahaya kalau kurang istirahat!" tutur Ella lembut sembari merapikan selimut Ramzy. Seperti seorang ibu memperlakukan anak kesayangannya.
"I iya! Khan ada kamu yang selalu mengingatkanku!" balas Ramzy persis seperti bocah nakal yang sedang merajuk karena takut ibundanya marah.
"Hihihi... aku koq kesannya tua banget ya? Nasehatin kamu mulu ish! Hahaha..lama-lama pasti kamu illfeel sama aku ya Zy!?"
"Ga koq, ga sama sekali! Aku suka sekali perhatianmu! Aku, jujur...merasa bahagia sekali mendapatkan nasehat darimu. Terima kasih suhu!"
"Aaaaaa.... Ramzy, tuh khaaan... Aku jadi dapat julukan baruuuuu.... Iiiiiih!!!" Ella teriak manja. Membuat dirinya pun merinding sendiri melihat tingkahnya yang kekanakan dihadapan Ramzy.
__ADS_1
Ramzy tertawa terbahak-bahak. Ia memang sengaja melemparkan 'joke' candaan ditengah gempuran detak jantungnya yang tak karuan.
Ia sebenarnya ingin merengkuh tubuh Ella. Mengajaknya rebahan bersama. Sambil bercengkerama berkhayal tentang masa depan yang indah. Menapaki jalan bersama berdua. Sambil tertawa-tawa bahagia.
Tapi ia takut kalau gerakannya terlalu frontal. Membuat Ella kembali menjauh karena ketidaknyamanannya. Ia mengerti, Ella memiliki trauma dimasa lalu. Sama seperti dirinya. Sehingga harus perlahan dan tidak dengan gerakan yang tiba-tiba. Seperti tadi siang ketika ia begitu gemas dan mengecup pipi Ella.
"Zy!"
"Mm?"
"Koq bengong? Kenapa?"
"Mikirin kamu!"
"Hah? Aku? Kenapa mikirin aku?"
"Kenapa istriku ini cantik sekali. Baik hati dan sempurna buatku! Apakah Tuhan sungguh-sungguh mengirimkannya untukku? Apakah Tuhan hanya ingin mengujiku saja?"
Ella terpekur mendengar ucapan Ramzy. Keduanya kini tengah rebahan diatas kasur yang sama. Dengan wajah menghadap keatas flavon dan bergelut dengan fikiran masing-masing.
"Uhuk!... Ah, hatiku tertembak panah asmaramu Ella!"
"Ramzyyyyyy....!!! Iiiih, bisa ga sih serius dikit? Aku udah tambal mukaku nih jadi tembok cuma buat melontarkan kata-kata tadi, malah digodain terus!" Ella pura-pura marah. Ia membalikkan tubuhnya memunggungi Ramzy.
"Maaf, maafkan aku Fidellia! Aku.... aku suka sekali mengganggumu! Aku senang menggodamu! Aku suka kamu meresponku. Jika aku kelewat batas candanya, aku minta maaf ya!" Ramzy merengkuh tubuh Ella dari belakang.
Dipeluknya erat seolah takut kehilangan. Kini ia tak peduli, mungkin Ella akan menyikutnya atau mungkin memukulnya akibat tingkahnya yang semakin liar.
Tapi, Ella diam. Bahkan Ella seolah menikmati sentuhan kedua tangannya yang masuk kepinggangnya dan meraihnya perlahan.
Memang, tubuh Ella sedikit ia rasakan menegang. Ia telah siap jika tiba-tiba Ella berontak dan mendorongnya.
Tapi ternyata. Ella masih tetap diam. Membuatnya menambah lagi volume keberaniannya 'menekan' tubuh Ella.
Sesuatu miliknya yang paling berharga mengembang sempurna. Terasa nyeri dan ngilu membuatnya menahan nafas, menariknya perlahan hingga hembusan nafasnya mengenai tengkuk Ella yang halus lembut dengan anak rambut yang manis menumbuhi sekitarnya.
"Ella!"
__ADS_1
"Mmmh...!" Suara jawaban Ella semakin memancingnya untuk berbuat lebih jauh.
"Ella!... Bolehkah aku..." Ia menarik tubuh Ella lebih mendekat. Hingga bisa ia rasakan punggung belakang dan bagian bawahnya Ella yang indah bersatu dengan sesuatu miliknya.
Ramzy memberanikan diri bangun. Lalu merengkuh tubuh Ella yang terbaring kepelukannya.
Ella seolah menurut. Wajah sendunya membuat Ramzy semakin tergila-gila.
Dikecupnya tengkuk Ella perlahan. Sangat perlahan.
"Aku sayang kamu, Ella!"
Ella diam. Beribu kunang-kunang seolah mengelilingi jiwa dan raganya yang bahagia.
Dipejamkan matanya menikmati desahan lembut pengakuan Ramzy padanya.
"Aku sayang kamu Ella! Aku sangat menyayangimu! Jangan pernah tinggalkan aku ya, sayang!"
'Sayang'. Kata-kata yang selama ini Ella tunggu meluncur lembut dari bibir Ramzy. Membuat pertahanan Ella luluh dan porak poranda.
Ella berbalik menghadap kearah Ramzy. Kini, wajah mereka berhadapan. Dekat sekali. Hingga nafas keduanya yang kencang bisa mereka rasakan satu sama lain.
Ramzy membelai lembut wajah Ella. Dikecupnya kedua jemari Ella. Lalu kembali kewajahnya. Dahinya, mata, hidung, pipi Ella kiri dan kanan... perlahan Ramzy jelajahi dengan bibirnya.
Lembut sekali gerakannya. Membuat Ella benar-benar pasrah pada apa yang akan Ramzy lakukan padanya.
Ramzy mengecup bibir Ella. Hanya mengecup pelan. Lalu matanya memandang mata Ella.
"Bolehkah?" tanyanya memastikan apa ia bisa melakukannya lagi dan lagi pada Ella.
Ella malu. Mengangguk ia sambil menunduk.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1