PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
TERBUKANYA SEBUAH RAHASIA


__ADS_3

Adel setengah berlari keluar ruangan. Mengambil ponselnya dan mencari nama "BOSS TENGIL" diaplikasi kontak hapenya.


Tuut...tuuut....tuuuut


Tidak diangkat. Padahal berdering.


Adel semakin gelisah. Feellingnya mengatakan kalau keadaan Ramzy sedang tak baik kini.


Adel menaiki tangga gedung. Lupa ia kalau gedung perkantorannya terdiri dari 12 lantai otomatis ada liftnya juga.


Hatinya gegana. Dag dig dug tak karuan. Hingga dilantai kedua, Adel baru tersadar. Ia berlari menuju lift. Pergi kelantai 3, kantor boss Ramzy.


"Boss! Boss!!!!!"


Kosong. Boss Ramzy tidak keruangan kerjanya. Membuat Adelia berkeringat padahal AC begitu dingin terasa.


Langkahnya kembali dipercepat. Menuju lift lagi. Kini lantai 12, rooftop gedung.


"Boooossss!!! Boss Ramzyyyyy.....!!!!"


Suara Adel menggema. Terdengar lirih dan putus asa. Adel menangis sesegukan. Entah kenapa hatinya seperti teriris dan luka.


Seseorang menubruknya dari belakang. Juga terdengar isak tangis yang tertahan.


Harum aroma tubuh yang Adel kenali.


"Boss!!!"


Adel berbalik. Membalas pelukan Ramzy yang tak lama melemah dan menggelosor ke lantai.


Ramzy menangis seperti bocah kecil. Tangisannya terdengar lirih dan memilukan.


Adel ikut berjongkok. Kembali memeluk tubuh Ramzy yang dingin dan basah keringat juga airmata.

__ADS_1


Lama keduanya larut dalam tangisan masing-masing. Hingga tersadar pada apa yang telah mereka lakukan.


"Kenapa kamu tahu kalau aku ada disini?" tanya Ramzy dengan suara pelan.


"Feellingku mengatakan!"


"Aku memang ingin bunuh diri!" kata Ramzy lagi.


Adel menggenggam jemari Ramzy.


"Bunuh diri itu perbuatan dosa boss! Jiwa kita juga tidak akan diterima bumi dan langit. Roh kita terombang-ambing kesana kemari tak jelas tujuan. Dosa besar boss!"


Ramzy terdiam. Sesekali menyeka airmatanya yang masih menetes tak bisa ia hentikan.


"Kamu ga ngerasain jadi aku!"


"Banyak orang kepingin seperti boss. Bahkan sebagian mengkhayalkan diri andaikan mereka adalah boss Ramzy. Kaya raya, mapan diusia muda, ganteng tajir melintir. Harusnya boss bersyukur!"


Ramzy diam.


Adel kini yang terdiam. Mencoba menjadi pendengar yang baik.


"Sejak kecil, aku tidak ada yang memberi cinta dan kasih sayang. Bahkan mbok Sumi, satu-satunya orang yang paling mengasihiku meninggal dunia didepan mataku sendiri ketika usiaku 16 tahun. Itu sebabnya, setamat SMA.. papa mamaku mengirimku ke luar negeri. Melanjutkan studi sampai sarjana. Aku tinggal diasrama khusus pria. Dan aku, disana aku dibully.... diperlakukan tidak manusiawi karena rasku ras asia. Aku,... aku...aku juga mendapatkan pelecehan s*ksual dari teman-teman asramaku. Hik hik hiks... !!!"


Cerita Ramzy bagaikan kran air yang mengalir deras. Bahkan tanpa sadar, rahasia hidupnya pun kini ia buka lebar kepada Adelia.


Adel terhenyak. Tak menyangka kisah hidup bossnya begitu tragis menyedihkan. Adel ikut terisak kembali. Menangis bahkan lebih keras dari Ramzy. Ia tak sanggup membayangkan, orang-orang asing itu memperlakukan Ramzy dengan tidak senonoh.


Jahatnya mereka.


"Kenapa boss tidak ceritakan kejahatan mereka pada orangtua juga pada pihak kampus setempat?" lirih nasehat Adel.


"Orangtua? ...Hahaha...papa justru menamparku ketika tahu, aku kabur pulang ke Indonesia. Apalagi kalau aku cerita pada orang lain? Pasti mereka juga sama tidak pedulinya. Bisa jadi mereka juga mentertawakanku yang sangat bodoh, hingga bisa dibully mereka. Hik hik hiks!"

__ADS_1


Adel merengkuh pundak Ramzy. Membiarkan Ramzy menangis diatas dadanya. Menumpahkan semua kegundahan hati juga keresahan jiwanya selama ini.


"Dan aku..... tiga kali berpacaran, aku selalu diselingkuhi mereka. Karena kejadian di Boston itu, membuat otakku selalu menekan hasrat biologisku hingga alat vit*lku tidak bisa berfungsi dengan benar! Dan mereka mengataiku pria lemah!!! Huaaaaa....hik hik hiks!!"


Tangis Ramzy meledak didada Adel. Membuat Adel semakin erat mendekap wajah Ramzy yang dingin dan basah.


Hatinya ikut teriris. Sakiiiit sekali rasanya. Seolah ia bisa merasakan penderitaan batin Ramzy selama ini. Dan ia melepaskan rasa sayangnya pada Ramzy, dengan menciumi kening pria itu berkali-kali.


"Sudah, sudah cukup. Jangan cerita lagi!"


"Biarkan aku cerita! Biarkan semuanya terbuka. Dan biarkan kau tau, seperti apa aku. Hingga kau juga bisa dengan bebas menghina dan merendahkanku seperti mereka. Silahkan Adel! Setelah itu, izinkan aku pergi dari dunia ini! Aku lelah dan capek dengan kisah hidupku ini!"


"Cukup! Cukup, mas!.... Istighfar mas! Aku akan bersamamu. Aku akan selalu bersamamu, mas! Mari kita lewati semuanya bersama-sama! Genggam tanganku dan jangan kau lepas mas Ramzy! Maasss.... Jangan!"


Adel menarik tubuh Ramzy yang hampir melesat hendak berlari kepinggir atap gedung.


Berhasil. Kedua tangannya memegang erat kedua kaki Ramzy. Tak ia rasakan tubuhnya yang terpelanting dan jatuh dibawah kaki Ramzy.


"Adelia! Kini aku sudah tidak punya harga diri lagi dihadapan kamu! Maafkan aku! Tolong lepaskan aku Adel!"


"Tidak! Tidak, mas! Jangan buat Allah murka. Mas hanya tengah down. Jangan jadikan tindakan yang membuat penyesalan seumur hidup mas! Adel sayang mas Ramzy! Adel sejujurnya menyukai mas Ramzy! Dan Adel juga cinta mas Ramzy! Tapi Adel takut, mama papa Adel juga kecewa pada Adel jika Adel lebih dulu memiliki pasangan. Kak Ella belum menikah. Belum memiliki pacar juga. Adel hanya ingin menjaga perasaan keluarga Adel. Itu sebabnya Adel menekan perasaan ini!"


"Bohong! Kamu pasti bohong khan? Kamu hanya kasihan sama aku! Kamu ingin aku berubah fikiran khan? Hahaha... kamu gadis pintar!"


"Tidak! Demi Tuhan mas!"


Ramzy masih berteriak disela tawa kesedihannya. Airmatanya terus menetes tiada henti. Begitupun Adel.


"Baiklah. Kalau mas Ramzy tetap pada pendirian. Mari kita lompat bersama-sama! Pegang tangan Adel, mas! Mari kita akhiri hidup bersama-sama. Seperti Romeo dan Juliet, yang meminum racun bersama. Tapi kemungkinan salah seorang dari mereka masih bisa bertahan hidup. Dan Adel rela, jika Adel yang lebih dulu diambil Yang Maha Kuasa!"


"Adel!!!!" Ramzy melompat ketubuh Adel. Memeluknya erat. Tangis keduanya pecah. Terdengar begitu menyayat hati.


Keduanya bersimbah airmata dilantai rooftop. Hanya angin malam berhembus dan sinaran bulan yang redup tanpa bintang. Yang menjadi saksi kisah keduanya diatas atap gedung perkantoran milik kedua orangtua Ramzy.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2