
"Dokter Prita!"
Rahman datang dengan senyum sumringah ke tempat klinik dokter Prita. Dan ia pun disambut senyum hangat wanita yang kini menangani ketidakberesan jiwanya itu.
"Jadi....., prediksi dokter, pasien dokter itu bukan orang yang saya cari?"
"Maaf, mas Rahman! Memang memiliki sedikit kecocokan kisah. Tapi ternyata setelah saya telusuri, nona itu bukan yang mas cari. Maaf, saya tidak dapat membantu lebih! Kecuali, membantu sedikit mengurangi beban mental mas dengan pengobatan dan meditasi ala saya."
Rahman menghela nafasnya. Ada gurat kekecewaan diraut wajahnya. Ia yang duduk bersila dilantai ruangan praktek dokter Prita hanya bisa menunduk.
"Tapi saya bertemu gadis itu, tepat didepan klinik ini!" katanya kekeuh pada dokter Prita.
"Kemungkinan pencarian mas sudah semakin dekat. Mungkin dia memang sudah disekitar mas! Saran saya, banyak-banyaklah berdoa. Minta pada Tuhan dengan kesungguhan hati, agar dipertemukan lagi dengannya. Dan mas jangan patah semangat! Harus terus berusaha move on! Jika kita ingin merubah hidup kita lebih baik, pasti Tuhan bukakan jalannya."
Rahman mengangguk pelan.
"Tolong bantu doakan saya bertemu gadis itu lagi ya dok?"
"Pasti. Saya selalu doakan pasien dan teman-teman saya untuk yang terbaik!"
"Makasih dokter, atas bantuannya!"
Rahman pamit. Meninggalkan klinik dokter Prita dengan langkah gontai juga tatapan kasihan dokter Prita.
Maafkan saya, mas! Tak berani memberi banyak bantuan. Berdoalah, itu saja saran saya. Semoga kalian diberikan kesempatan bertemu dilain kesempatan. Aku menjaga kerahasiaan Ella juga perasaannya yang menanggung beban karena perbuatanmu dulu. Aku tidak memihak disini. Hanya berusaha menjaga semua keadaan yang sudah terjaga baik selama ini digenggamanku. Cukup Tuhanlah yang pada akhirnya mempertemukan kalian. Kata hati dokter Prita sedih.
..........
..........
Tanpa terasa, hubungan Adel dan Ramzy telah berjalan hampir dua tahun. Semuanya begitu indah. Sangat indah malah.
Hingga suatu ketika diapartemen Ramzy. Pria itu telah menjadi lelaki normal dengan segala kehausannya segera bercinta dan merasakan kenikmatan cinta.
__ADS_1
Wajah Adel ia ciumi bertubi-tubi membuat Adel merinding dan ikut terangs*ng.
"Mas, kendalikan mas! Aku ga mau kita kebablasan!" bisik Adel ketika ia tersadar. Wajah Ella kakaknya terlintas difikirannya. Tak berani ia melangkah jauh.
"Kamu gemesin Del! Kapan hubungan kita ini beranjak maju? Aku ga kuat begini terus!" kata Ramzy lirih. Penuh nada menahan hasratnya.
"Sabar mas! Tunggu kak Ella menikah!"
"Huh!? Kapan nona es batu itu menikah!" rungutnya kesal membuat Adel menggelitik pinggangnya membuat Ramzy semakin buas menerjang Adel.
"Mass.... stop, stop hahaha...iya ampun iya! Udah, udah! Adel mau pulang!"
"Ramzy? Adel?"
Kedua pasangan yang dimabuk cinta itu sontak kaget namanya disebut keras seseorang.
"Mama?" Ramzy kaget mamanya sudah ada berada didalam kamarnya. Dengan tangan berkacak dipinggang.
Keduanya melompat dari ranjang tempat tidur dan duduk dipinggirannya.
"Engga'lah maaa!" bela Ramzy. Sedang Adel menunduk malu.
"Adel! Kamu pulang sekarang!"
"Ma! Apaan sih? Kami ini dua orang dewasa! Bukan pelajar yang ketauan berdua-duaan dan mama marah sebegitunya! Lagipula mama juga ga punya sopan santun masuk apartemen Ramzy tanpa izin permisi. Maen selonong kekamar juga, lagi!"
"Diam kamu! Jangan bantah! Adel, pulang!! Bilang mama papa kamu, kalau besok mama papanya Ramzy akan datang kerumahmu! Awas kalo kamu ga sampaikan!"
Adel menelan salivanya. Jantungnya bergemuruh melihat amarah calon mertuanya itu. Airmata mulai merebak disudut kedua bola matanya.
"Maaf, ma! Tapi demi Tuhan kami ga berbuat kejauhan, ma!" kata Adel terisak memohon maaf mamanya Ramzy.
__ADS_1
"Pulang sekarang! Naik taksi online saja! Jangan diantar Ramzy, bahaya!"
Adel langsung dirangkul Ramzy. Tapi Ramzy tanpa ampun kena pukulan pedas mama.
Buk, buk, bukk
"Ini anak! Susah sekali dikasih tau! Kalian milih dipisahkan atau turuti kata mama?!?"
Adel pamit sambil menghapus lelehan airmatanya. Ia pergi keluar setelah mencium punggung tangan mama Ramzy dan cipika-cipiki kanan kiri.
"Jangan lupa, bilang papa mamamu soal kedatangan kami besok!" Adel mengangguk lemas.
Dirumah, ia bingung memulai kata.
"Ma!" Ia menggelendot dipundak mamanya yang tengah menyiram tanaman.
"Ish, manjanya datang!"
"Maaaa!!! Hik hik hiks..."
"Eh kenapa? Koq datang-datang nangis?" kaget mama melihat putri bungsunya yang tiba-tiba terisak itu dipundaknya.
"Tadi mamanya Ramzy marah besar sama Adel," ceritanya disela tangisnya.
"Kenapa? Kamu buat salah apa sampe kena marah mamanya Ramzy?" selidik mama. Jengkel juga ia mendengar anak gadisnya dimarahi orang. Meskipun notebenenya itu adalah calon mertua anaknya sendiri.
Adel mengangkat bahu. Malu bercerita kalau ia dan Ramzy terciduk tengah berduaan diatas ranjang walaupun tidak berbuat hal yang dilarang. Tapi memang tubuh keduanya saling berhimpitan.
"Mereka mau datang besok kemari untuk membicarakan hal tadi!"
"Bicarakan apa?"
"Adel ga tau, maaa! Mereka suruh kami putus mungkin!"
"Hei, ga bisa seenaknya gitu dong! Mentang-mentang orangtua, terus seenaknya ngatur-ngatur hubungan anaknya!" Mama Adel mencak-mencak marah.
__ADS_1
Sedang Adel berlari masuk kamar sambil menangis. Antara malu dan sedih. Fikiran buruk menyeruak memenuhi sanubarinya. Takut kalau-kalau hubungannya dengan Ramzy harus diputus paksa sedang ia kadung cinta.
đź’•BERSAMBUNGđź’•