PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
SELALU BEGITU


__ADS_3

"Adel!!!!"



Figura kecil itu membuat Ramzy tersentak kaget. Wajah cantik Adelia Wilhelmina terpampang jelas disana. Dengan sorot matanya yang indah dan tajam, seolah tengah menatap wajahnya.


Ia memang masih memajang foto Adelia dikamarnya. Tepatnya diatas galar kepala ranjang tidur kayu jatinya. Dibawah figura besar foto pernikahan penuh senyum kepalsuannya kala itu bersama Fidellia Gabriella, kakak dari gadis pujaan hatinya itu.



Sengaja ia taruh foto Adel disana, untuk memudahkannya berkomunikasi dengan pujaan hatinya jika tengah dilanda sedih dan kesepian.


Ella terkejut mendengar suara Ramzy. Matanya ikut menatap figura itu. Ada rasa sakit menghujam jantungnya. Tapi lebih banyak rasa penyesalan yang muncul dari dalam dirinya.


Pertanda apakah ini? Wajah Adel seolah terlihat menghakiminya. Seperti berkata keras dan meneriakinya perusak hubungan dirinya dan Ramzy.


Ella merasa seperti seorang pecundang. Seorang pencuri hati kekasih adiknya sendiri. Membuatnya buru-buru bangkit dan menarik selimut diranjang Ramzy.


Ella menutupi tubuhnya dan membalutnya sesegera mungkin. Ia lalu berjalan keluar kamar Ramzy dengan berjinjit.


"Ella, tunggu!" Ramzy berusaha menenangkan gadis itu. Tapi terlambat. Ella telah masuk kekamarnya dan mengunci diri disana.


Ella hanya bisa menangis. Tak tahu harus berbuat apa. Ia menyesal. Hampir saja ia menjadi seorang perusak hubungan adiknya sendiri. Iya kah? Tapi ia juga bingung dan galau. Karena sang adik kini telah berada dialam yang berbeda. Tapi seolah sosoknya masih ada diantara dirinya dan Ramzy.


Adel! Maafkan kakakmu ini, Adelia! Kakak tak bisa menahan gejolak cinta yang memuncah karena perlakuan manisnya Ramzy pada kakak. Jangan marah adikku, sayang! Tolong maafkan kakakmu ini, Del! Maafkan kekhilafan kak Ella ya Del ya!


Airmata Ella tumpah ruah. Tubuhnya yang masih setengah telanj*ng terbalut selimut Ramzy tergolek lemah diranjangnya kini.


Malam itu, sejoli penghuni dua kamar itu banjir airmata.

__ADS_1


Ramzy juga ternyata melakukan hal yang sama. Ia menangis sesegukan sembari memeluk figura foto Adelia. Tangannya basah keringat dan wajahnya basah airmata.


Adel. Adelku tercinta. Maafkan mas mu ini kesayanganku! Hik hiks.... Apakah kamu marah padaku Adel? Apa kamu marah aku menyentuh kakakmu?... Maaf, maaf beribu-ribu maaf! Aku... aku menginginkan kasih sayangnya, Adel! Aku ingin diberi sentuhan kelembutan yang nyata olehnya. Tidak. Cintaku hanya untukmu Adel! Tidak akan pernah terbagi. Bahkan sampai kumati. Dan kau menjemputku untuk bersama di syurga nanti. Maafkan kesalahanku Adelia ku! Hik hik hiks..


Terdengar lenguhan suara kalkun Ramzy. Kemerduannya seolah tersilaf oleh kesedihan yang mendalam dari hati dua insan anak manusia yang dilanda asmara buta itu.


Asmara buta kah mereka? Salahkah jika mereka jatuh cinta? Apakah jahat jika mereka melakukan hubungan yang memang seharusnya sebagai pasangan suami istri?


Ella menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih berlinang airmata, berusaha menghapus kenangan indah yang tadi ia buat bersama Ramzy, kekasih tercinta adiknya.


Ia bangkit. Mencari-cari handphonenya. Menandai kalender diaplikasinya. Masih tersisa 2 bulan 1 minggu lagi, masa pernikahannya dengan Ramzy.


Dan kini ia putuskan. Untuk mengambil sikap menjaga diri dan mengakhiri hubungan pernikahannya bersama Ramzy tepat waktu. Seperti yang telah mereka sepakati diawal pernikahan.


....


Ia sudah ambil cuti selama 4 hari. Otomatis banyak kerjaan menumpuk diatas meja kerjanya. Cukup menyita waktunya membuatnya tidak selalu terfokus memikirkan Ramzy semata.


Rahman yang selalu memantaunya dari kejauhan, melihat wajah Ella yang buram dan menyeramkan. Tidak seperti biasanya, yang selalu manis dan ramah ketika karyawan lain menyapanya.



Membuat Rahman semakin takut melakukan kesalahan dan terpergoki kalau-kalau ia memperhatikan Ella.


"Mey, ini kenapa ada barang yang rijek tapi masuk masuk stock opname ini? Gimana sih? Coba kamu cek ulang! Ini kalau sampai customer periksa, kena tegur kita!" katanya tegas dan pedas pada Meynar.


"Oh iya kak Fi, maaf... aku lupa mencoretnya kemarin! Maaf!"


Ella tak menjawab. Kembali menekuni catatan buku besarnya lagi. Fokus. Lebih tepatnya sengaja fokus guna membuat fikirannya tak melulu memikirkan Ramzy.

__ADS_1


Pukul 4 sore. Waktunya pulang karena jam kerja kantor telah habis.


Semua karyawan satu persatu bubar meninggalkan kantor dengan berbagai keruwetan dunia pekerjaan. Demikian juga Ella dan Rahman.


"Awassss, kak Fi!!!!" Sebuah motor besar melesat cepat kearah Ella didepan kantor yang memang lokasinya bertepatan langsung dengan jalan raya. Meynar dan karyawan lain memekik keras.


Tiba-tiba sesosok tubuh tinggi langsing melesat menarik tubuh Ella secepat kilat. Hingga tubuh keduanya berguling ditrotoar pinggir jalan didepan kantor mereka.


Motor besar itu cabut melarikan diri setelah melihat ada korban.


Rahman memeluk tubuh Ella yang masih tak percaya ia hampir menjadi korban tabrak lari.


Sebagian orang yang adalah karyawan MENTARI DEPT STORE mengerubunginya.


"Kak Fi, boss... apa kalian baik-baik saja?"


Rahman dan Ella bangkit berdiri. Rahman meringis merasakan sakit dan ngilu pada lengan dan pangkal pahanya.


"Ada luka boss? Kak Fi?" tanya beberapa karyawan yang menyaksikan kejadian dari tadi.


"Aku tidak apa-apa! Terima kasih!"


"Aku juga baik-baik saja. Hanya,... sepertinya ini terkilir tadi!" kata Rahman membuat Ella merasa tak enak hati.


"Disana diblok F ada sinshe tukang urut patah tulang boss! Langsung urut saja kak!" Meynar memberi saran.


"Bisa jalan?" tanya Ella pada Rahman sedikit ketus. Rahman mencoba berjalan tapi ngilu dikakinya membuatnya memejamkan mata berusaha menahan diri untuk tidak berteriak kesakitan dihadapan Ella.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2