PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
ME TIME KAKAK ADIK


__ADS_3

Adelia membeli beberapa botol air mineral salah satunya air isotonik penambah tenaga. Beberapa bungkus roti isi dan biskuit non kolesterol kesukaan Ramzy.


Adel juga membeli buah pisang setandan dan apel merah satu cup berisi dua.


Ternyata pak Ryan asisten bossnya telah berada didalam ruangan. Adel senang. Ia bisa segera pamit pulang karena adzan Isya sudah terdengar beberapa menit yang lalu. Artinya ini malam kedua hari kerjanya ia pulang kerumah dalam jam lembur (seharusnya).


"Boss! Ini kartu ATMnya. Ini belanjaannya."


Ryan tampak terkejut melihat Adelia, si karyawan baru itu sudah terlihat akrab bahkan kartu ATM bossnya itu bisa dengan mudahnya berada ditangan gadis itu.


Padahal ia sendiri, yang sudah hampir satu tahun menjadi asisten, belum pernah sekalipun mendapat kepercayaan itu.


"Karena pak Ryan sudah datang,.... saya pamit undur diri. Saya permisi pak! Oiya, struk belanjaannya juga ada didalam papingbagnya ya boss! Mari pak Ryan!"


Adel segera bergegas walau boss Ramzy belum mengeluarkan suara. Diambilnya tas soren kecilnya. Lalu pergi melesat keluar.


Uufffffh. Aman sekarang. Lalala lalaaaa..


Adelia melangkah dengan bersenandung riang. Bebannya serasa terangkat kini. Meski tubuhnya ia rasakan penat dan punggungnya pegal, tapi hatinya lebih tenang. Bisa terbebas dari harusnya ia menemani boss tengilnya itu yang memang mempesona.

__ADS_1


Adel tersenyum malu mengingat senyum manis bossnya. Andai saja boss Ramzy lebih santai dan friendly, ia jamin ia adalah fans terdekat bossnya itu.


Tapi mengingat tabiat bossnya yang tengil, kembali Adel mencucutkan bibirnya. Sebal. Ugh!


"Sepertinya kerja membuat kita jarang ngobrol ya Del!" kata kak Ella dibalkon loteng rumahnya dipukul 9 malam.


Itu adalah kebiasaan lama mereka kakak beradik melakukan komunikasi berkualitasnya. Yakni dengan menyeruput susu coklat panas, dan bercerita tentang keseharian mereka sambil memandang jalanan dan genteng-genteng rumah tetangga dari atas balkon loteng rumah mereka.


Adel duduk dikursi santai.


"Ho'oh! Bossku agak sinting kak! Padahal wajahnya sangat tampan. Bahkan jika aku didekatnya, lupa aku kalau aku adalah istri gelap Kim Taehyung. Itu saking kerennya dia, kak!"


Fidellia sangat mengenal adiknya itu. Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dunia Adel baginya bagaikan dunia dongeng yang indah. Hingga Ella selalu menyukai apapun cerita Adel tentang dunianya.


"Biasalah, boss begitu diawal-awal. Mungkin lagi cari tau, seberapa loyalnya kita sama dia."


"Ugh.... Udah kayak warga net +62 aja! Seberapa gregetnya kamu sama boss! Aku diajak makan sama boss, makanannya aku buang, bossnya aku jilat!"


"Iyuwww.... Ga jebo dodol! Apaan sih, penjilat boss luu..."

__ADS_1


"Hahaha.... Dodol enak tuh!"


"Enak kalo udah kebelet, Del!"


"Itu 'modol', oncom!"


"Lah? Adel kira oncom itu odol?"


"Aaaaarrggggh... Kak Ellaaaaa.... ! Slepet nih! Kayak orang kuno amat sih, main plesetan!"


"Hahaha.... Bukannya Adel suka plesetan dari kecil? Inget ga, bahkan pernah nyungsep di plesetan waktu TK?!"


"Itu prosotaaaaan bukan plesetaaaaan..... Aaaarrrrrghhh..... Iiiiih mamaaaaaaa, kak Ella jailin Adel niiiiiih!!!"


Mereka tertawa pecah. Lupa akan usia. Bercanda bagaikan bocah balita.


Itulah Adelia. Selalu manja bila didekat Fidellia. Dan begitulah Ella. Selalu suka iseng pada adiknya. Juga hanya pada Adel-lah, Ella menunjukkan wajah bahagianya. Tawanya yang indah.


Bagi Ella, kebahagiaan adiknya adalah segalanya. Meski kadang keusilannya membuat Adel merengek kesal, tapi justru disitulah poin penting bahwa Ella sangat care dan menyayangi adiknya.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2