
Hingga sore, Mira masih menyimpan rasa penasarannya. Sampai Rahman pulang dari kerja dengan motor vespanya.
"Assalamualaikum!" salam Rahman tak dijawabnya. Karena hati dan fikirannya dipenuhi angkara murka pada suaminya.
"Kenapa Dex? Ada masalah sama toko onlinenya?"
"Fikir aja sendiri!"
"Eh?.... Hehehe..., fix! Pulang kerja aku dikasih soal susah."
"Ga lucu! Malah dibecandain!"
Hhhh.... Rahman menghela nafas. Ia menarik senyumnya. Mencoba mengubah sikapnya dengan mencium kening istrinya. Berharap Mira kembali ceria dan menyambut kepulangannya dengan senyum sumringah.
"Jangan cium-cium aku deh!" Respon Mira makin membuat Rahman tak berdaya. Akhirnya ia mengalah lalu masuk kedalam rumah. Mandi lebih dulu adalah caranya mengurangi kepenatannya seharian berkutat dikantornya.
Mira sama sekali tak peduli keperluan dirinya. Biasanya selalu stand bye memberi Rahman handuk dan baju ganti telah tersedia diatas ranjang besar mereka. Ini tak ada.
Bahkan Mira masih duduk melamun diteras rumah mereka. Sendirian saja.
"Ahmad kemana Mir?" tanya Rahman setelah selesai berpakaian. Tiada jawaban. Hanya bahu yang diangkat Mira. Membuat Rahman seperti mati kutu.
"Kenapa sayang? Sini, ceritakan ada apa?"
"Bukan aku yang bermasalah! Tapi kamu! Kamu dan masalah masa lalumu!"
"Aku? Ada apa?" tanyanya agak gugup.
Mira lalu menatap tajam mata Rahman.
__ADS_1
"Aku japri kakak tapi gak dibalas!"
"Maaf, hape belum kuaktifkan yang!" Rahman langsung mencari handphonenya didalam tas kecilnya yang biasa ia bawa kerja. Menyalakan lalu tersenyum melihat chat istrinya yang masuk.
"Mau periksa hapeku? Ini..." Rahman berusaha bernegosiasi agar Mira mau tersenyum.
"Apa hubungan kakak dengan kak Ella?"
"Maksud Mira? Tolong perjelas! Kakak sama sekali tak ada hubungan dengan kak Ella!"
"Bohong!"
"Hhhh.... Beneran yang! Ada apa sih, kenapa sampe seserius itu pertanyaannya?"
"Karena ini masalah serius! Bukan masalah sepele!!" Mira membentak Rahman saking emosinya. Membuat Rahman hanya terpaku menatap wajah Mira dengan sendu.
"Aku buka koper besarmu dilemari! Aku baca surat-surat dokumentasimu! Ada surat keterangan pengalihan perusahaan antara kakak dengan kak Ella. Itu maksudnya apa? Apa kalian pasangan suami istri yang nikah siri lalu cerai dan harta gono gini jatuh ketangan mantan istri?"
Dada Rahman bagaikan genderang perang yang ditabuh. Ia lupa menitipkan koper itu pada Cici. Hingga akhirnya Mira membuka dan mengetahui isi-isinya.
"Hhhh.... Boleh kakak tidak menceritakannya sekarang yang? Kakak belum siap!"
"Apanya yang belum siap? Belum siap untuk meninggalkan kak Ella? Belum siap untuk move on? Lalu apa gunanya kakak menikahi Mira?"
Mira berlari masuk kamarnya. Menangis menjatuhkan dirinya diranjang tidurnya. Sesegukan ia sendirian.
Rahman yang lemas terduduk dengan wajah menunduk menatap keramik lantai rumahnya yang berwarna putih. Perutnya yang tadi lapar kini terasa kenyang. Kenyang oleh kata-kata pedas Mira yang cukup menyakitkan.
Sejujurnya ia tak ingin menutupi terus masa lalunya. Karena sepandai-pandainya ia menyimpan bangkai, bau busuknya akan tetap tercium juga.
__ADS_1
Seperti hari ini, Mira mendapatkan kopernya dan sudah pasti penasaran akan isinya. Rahman tak menyalahkan Mira sepenuhnya. Hanya ia belum bisa sepenuhnya membuka diri pada istri yang kini begitu ia cintai itu. Karena ia takut, Mira yang masih 22 tahun itu menganggap dirinya adalah iblis menakutkan.
"Mira! Maafin kakak, sayang! Ini adalah masa lalu kakak yang sangat suram. Yang kakak sendiri sedang berusaha melupakannya! Tolong bantu kak Rahman, Mira sayang!"
"Bagaimana mungkin, kakak menutupi terus jatidiri kakak sama Mira. Bahkan tempat kerja kakak dimana. Terus apa kerjaan kakak, Mira sama sekali gak tau! Hik hik hiks huhuhu....!!"
"Kakak akan ajak Mira ketempat kerja kakak. Besok boleh koq, Mira mau ikut?"
"Kakak kerja sebagai apa? Apa kerjaan kakak itu membahayakan atau justru kerjaan yang dibenci Tuhan?"
"Astaghfirullaah adeeek! Kerjaan kakak halal. Kakak sekarang ini kerja di sebuah perusahaan kecil yang bergerak dibidang ekspor import. Kakak jadi bawahannya Ramzy, diperusahaan retailnya."
"Jadi kakak bawahan kak Ramzy? Suami kak Ella? Apa dia tahu kalau kakak itu ada sesuatu dengan istrinya? Apa kakak, jangan-jangan kakak menikahi Mira cuma untuk menjadi kedok agar bisa terus dekat kak Ella apalagi sekarang kerja di perusahaan suaminya. Begitu?"
"Mira!! Tolong jangan berfikir terlalu jauh!"
"Gimana aku tidak berfikir yang aneh-aneh, karena aku sama sekali tidak faham kak Rahman! Kak Rahman ini menikahiku karena cinta aku atau karena hal lain?" bentak Mira semakin kasar. Ia terbakar emosi.
"Ya karena aku cinta kamu! Kamu bisa liat sendiri kedalaman hati aku! Dari caraku memperlakukan kamu, kenapa kamu memandangku dengan kecurigaan begitu?" jawab Rahman dengan suara tegas. Hampir ia balas membentak istrinya jika tak mengingat malu karena usianya yang jauh lebih tua diatas Mira.
"Karena kamu pemain sandiwara hebat kak!"
"Aku bukan artis Mira! Aku bukan Arya Seloka yang saat ini dipuja-puja karena aktingnya!"
"Dan aku juga bukan Amanda Manopo yang bisa bikin baper para ibu-ibu yang menggandrunginya karena bermain peran sebagai istri si Aldebaran!"
"Hellooooo......!!! Ini drama korea ya? Teriak-teriak ngomongin akting, peran?" Ahmad yang tiba-tiba baru pulang ikut teriak membuat keduanya tersadar, pintu kamar mereka terbuka lebar membuat semua pertengkaran mereka didengar adiknya itu.
Hhhh....
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•