
"Mas! Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa itu, sayang?"
"Kita pindah dari rumah mama papa. Tapi aku ingin pergi dulu yang jauh. Boleh ga?"
Ramzy menatap lekat wajah istrinya.
"Kenapa tidak kembali kerumah kita, sayang?"
"Aku ingin menenangkan diri dulu. Aku.... masih belum, masih belum dapat memahami papa dan mamaku! Aku ingin pergi agak jauh dulu. Merehatkan jiwa dan ragaku, mas!"
"Aku sangat mengerti. Tapi kumohon, jangan mendendam mama terlebih papa, yang! Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari. Itu sebabnya, aku berusaha kuat mengurus dan menjaga papa mamaku yang kini sering sakit-sakitan dan juga emosian. Karena aku tak ingin menyesal belakangan!"
"Kamu sangat hebat, mas! Padahal aku yang lebih tua umurnya 2 tahun. Tapi kamu lebih dewasa!"
"Haish! Udah sering kubilang, jangan bahas umur! Masih bandel nih! Untung anak-anak kita ga ada disini. Dengar maminya yang bandel gini nih!" Ramzy pura-pura marah. Menjewer pelan telinga Ella yang terkekeh senang sambil menjulurkan lidahnya, meledek Ramzy.
"Kamu pasti sibuk ya, dikantor? Tapi aku malah menambah bebanmu. Maaf ya? Aku ini istri yang tak punya perasaan!"
Ramzy mengecup pipi istrinya lembut.
"Kau tau sayang? Aku kerja untukmu, untuk kita semua. Jika kamu mulai komplen karena kesibukanku, aku bisa koq melimpahkan sedikit kerjaanku pada Rahman!"
__ADS_1
"Boleh untuk tidak menyebut nama orang itu dulu didepanku akhir-akhir ini? Maaf,... aku sedang sangat sensitif karena papa! Kuharap mas mengerti!"
Ramzy tersenyum. Lalu mengangguk, mengerti.
"Aku kangen Rafa dan Rafi, mas!" kata Ella dengan kepala menyender mesra dibahu Ramzy.
"Sayangnya bayi-bayi kita tidak boleh masuk menjengukmu yang! Rumah sakit rentan penyakit. Anak-anak kita tidak boleh diizinkan masuk menjenguk pasien rawat inap."
"Aku ingin pulang, mas!"
"Alhamdulillah.... Besok lusa sepertinya mami cantik sudah boleh pulang! Jahitan diperut kamu ada sedikit infeksi. Kalau tidak sekalian diobati, bisa meriang kata dokter bedah!"
"Bodohnya aku ya yang, menyakiti diri sendiri. Ish! Sudahlah perutku disayat pisau bedah, kusayat juga urat tadiku. Ya Allaaah, betapa lemah imanku!"
"Maaas.... hahaha... itu iman yang lain! Iiiish, mancing-mancing aku jadi pengen ketawa ngakak! Sakit tauuuu... bekas jahitankuuu!"
"Hahaha... salah sendiri! Udah sembuh, malah dibuat sakit sendiri. Kalau mau dibuat sakit tapi enak, mending ngomong langsung aku yang! Kubuat enak sampe 3 ronde. Hahaha...haaaa, sakit mamiiii! Hiks, Rafa Rafiiii... tolongin papi niiiih! Mami jahat cubit-cubit papi niiiih!"
Keduanya tertawa bahagia. Meski sesekali Ella meringis menahan sakit. Luka jahitan diperutnya sedikit berasa mantaf sakitnya.
.......
"Oaaaa..... Oaaaaaa Oaaaaa..!!"
__ADS_1
Babies L menangis berbarengan. Seperti ada kontak batin antara mereka dengan maminya. Sepertinya dua bayi mungil yang tampan-tampan itu merindukan mami papinya.
Mama Ella segera menggendong salah satu dari mereka dari pangkuan babysitter yang mengasuhnya.
"Cup cup cup...! Kenapa sayaaaang!... Cup sayang, ini Rafa atau Rafi yaaa... hehehe maaf yaa, Eyang Uti masih belum bisa membedakan kalian berdua!" kata mama dengan suara super lembutnya.
Papa Ella yang baru selesai sholat Ashar langsung menggendong cucunya yang satu lagi juga.
"Hehehe... ini Rafa Eyang Utiiii! Eyang Kung udah kenal niiih, mana Rafa mana Rafi! Iya khan sayang, iya..iya!" Papa menciumi tubuh mungil yang ada dalam dekapannya.
Hatinya sudah sedikit lebih tenang. Kondisi kesehatan dan mental Ella sudah membaik. Itu kabar yang sangat menggembirakan dari menantu kesayangannya.
Tapi sedikit resah, karena Ramzy memohon padanya untuk tidak menjenguk Ella kerumah sakit. Karena khawatir, Ella akan kembali guncang jiwanya bila melihat papa lagi.
Kini ia pasrahkan semuanya pada Allah Ta'ala. Berharap putrinya Ella memaafkan kesalahannya dimasa lalu. Dan kembali ceria sehat seperti sediakala.
Bersyukur sekali istrinya tercinta selalu setia mendampinginya dimasa-masa sulit dahulu maupun kini. Dikecupnya tiba-tiba pipi mamanya Ella.
Cup.
"Papa? Ish, genit! Malu dilihat suster Irna dan suster Ria laaah! Hehehe..." Memerah wajah mama. Terdengar tawa goda dari para suster yang berumur sekitar 30 tahunan itu dua-duanya.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1