
Hampir satu jam lamanya mereka saling berangkulan ditengah derainya linangan airmata.
Dan ketika tersadar, membuat keduanya hanya diam malu-malu. Terlebih Ramzy yang sembab matanya karena semua keluh kesah hatinya selama ini, yang dia pendam belasan tahun lamanya telah ia ungkapkan semua pada Adelia.
"Mmmm.... mmmm..., ku antar pulang sekarang ya?" kata Ramzy dengan suara serak.
Tangan Adel masih digenggamannya. Adel yang juga malu-malu, mengangguk sambil tersenyum. Tak berniat melepas genggaman tangannya pada Ramzy.
Keduanya turun ke basement. Menuju mobil Pajero milik Ramzy. Tanpa suara sepatah katapun. Hanya hati keduanya yang bergaduh bagaikan gendang yang bertalu.
Ramzy membukakan pintu mobilnya untuk Adel. Memegang kepala Adel agar tak terbentuk atap pintu mobil. Sweet.
Adel hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Dibalas senyuman manis milik Ramzy.
Mobil meluncur perlahan. Meninggalkan parkiran basement gedung perkantoran RAMA CORP.
Adel menarik nafas panjang ketika Ramzy membukakan lagi pintu mobil untuknya. Kini ia siap mengenalkan Ramzy secara resmi pada mama papanya. Berharap kedua orangtuanya itu menerima putusan Adel.
"Masuk ya? Ada yang ingin Adel sampaikan sama papa mama!"
Ramzy menelan saliva menatap Adel. Akhirnya ia mengangguk pelan.
Papanya terlihat senang, setelah dua minggu lebih tak melihat Ramzy datang kerumahnya.
"Hei, anak muda! Sibuk ya?"
Ramzy hanya tersenyum sambil mencium punggung tangan papa Adel.
__ADS_1
"Mama mana, pa?"
Adel mencari mamanya dikamar. Menuntunnya keluar dan mengajaknya duduk.
"Ka Ella udah pulang?" tanya Adel lagi dijawab papanya 'ship malam'.
Ini sudah pukul 9 malam lebih. Otomatis sebentar lagi kemungkinan Ella pulang. Adel duduk disamping Ramzy. Menatap penuh harap pada kedua orangtuanya.
"Pah, mah!... Adel,...mmmm....memiliki,"
"Pah, mah!.... saya Teuku Ramzy. Saya mohon izin papa dan mama untuk memulai suatu hubungan serius dengan Adelia Wilhelmina. Saya mohon restu papa mama untuk kami!" Ramzy tiba-tiba mengambil alih ucapan Adel.
Adel menoleh menatap Ramzy.
Gentle nya kau mas! Dan aku suka!
"Dilangkahi juga ga papa! Aku senang, adekku bisa secepatnya memberi papa mama cucu!"
Tiba-tiba Ella sudah berdiri di depan pintu dengan suara khasnya.
"Kakak!" Adel melesat menghambur kepelukan Ella. Tangisnya pecah dibahu Ella.
"Adel ga da maksud gitu, kak!"
Ella mengangguk-angguk seraya membimbing adiknya kembali duduk dikursi.
Papa dan mamanya tersenyum menatap wajah dua gadis kesayangan mereka bergantian.
"Hei anak muda! Punya apa kau sampai berani-beraninya hendak menyunting putri bungsuku yang cantik jelita?" papa tiba-tiba bertanya lantang pada Ramzy.
__ADS_1
Ramzy hampir melonjak kaget. Ia menatap papa Adel menyakinkan keteguhan hatinya.
"Saya hanya punya cinta yang luas seluas samudera. Meski cinta saya tak sebanding cinta kalian pada Adel, tapi saya janji.....saya akan berusaha sebaik mungkin memberikan Adel kebahagiaan."
Papa tersenyum sambil memberikan dua jempolnya pada Ramzy.
Ella dan mama saling peluk. Mereka tertawa bahagia.
"Ella juga dong, kenalin segera temen deket Ella!" gurau mama.
"Khan mama udah kenal temen deket Ella!"
"Maksud mama, pacar Ella!"
"Hehehe.... cariin dong Del! Yang ga jauh beda dari Ramzy deh!" jawab Ella meledek Adel.
"Ga da tuh, cowok sesempurna mas Ramzyku!" Adel sontak menjawab. Membuat Ramzy terbatuk-batuk dengan hati dan perasaan berbunga-bunga.
"Idih? Kemaren-kemaren nyebutnya boss tengil! Koq sekarang mas Ramzyku yang sempurna?" Ella kembali menggoda adiknya yang spontan langsung mencubit lengan kakaknya pelan. Tawa mereka pecah. Semua bahagia.
....
Ella menangis diatas ranjangnya. Airmatanya meleleh. Dan berkali-kali ia usap dengan cepat. Karena tak ingin terlihat melankolis.
"Tuhan! Bahagiakanlah kedua orangtuaku! Bahagiakanlah adikku satu-satunya! Hanya itu yang berani kupinta padaMu! Aku pasrah atas semua rencana-Mu padaku, Tuhan!" lirih doanya terdengar pelan.
Ia menyimpan rapat-rapat kedukaan hatinya selama ini. Ia tak mau berbagi. Karena kesedihan baginya cukup disimpan dalam hati.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1