PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
DAGELAN DIRUMAH KONTRAKAN


__ADS_3

"Bu, mmm... beli osk*don pereda nyeri sama ..... pembalut!"


"Osk*donnya berapa bang?"


"Satu strip deh!"


"Yang satunya lagi? Pembalut luka?"


"I iya!"


"Besar ga lukanya? Sebesar apa? Butuhnya perban apa plester?"


"Mmm maksudnya pembalut softex, bu!" Rahman gugup, suaranya makin hilang.


"Hah? Apaan? Soket? Merk plester baru ya? Adanya hansaplash, handyplash! Sama aja, buat luka bang!"


"Hhh... pembalut wanita bu!"


"Oh... hahaha maaf, ibu bolot ya!? Habis suaranya ga jelas, malu ya?! Buat istri bang? Eh? Saya sering liat abang ganteng akhir-akhir ini, tinggal di kontrakan mana sih bang?"


Lebih gugup lagi Rahman ditanya-tanya bu Hani.


"Saya karyawannya Mira. Ikut numpang di kontrakannya, bu!"


"Walah? Numpang? Kalian itu bukan muhrim koq tinggal satu atap? Ga bener itu!"


"Tapi misah kamar bu!"


"Ga boleh biar misah kamar! Mira lajang, kamu? Punya istri?"


"La lajang juga!"


"Ga bagus itu! Kamu udah lapor pak RT belum?"


"Belum!"


"Ya Allaaah.....!!! Kamu tinggal dikontrakan ibu dulu aja! Ada yang kosong satu. Perbulan 500 ribu! Pindah malam ini juga! Saya yang urus lapor ke pak RT! Nama abang siapa?"


"Saya Rahman, bu! Ya udah, saya pulang dulu. Saya bilang Mira dulu!"


"Iya. Nanti saya susul kalo bang Rahman ga datang-datang! Bahaya itu! Bisa menimbulkan fitnah bahkan mendatangkan mudhorot itu! Ini osk*don sama softexnya, jadi 12 ribu!"


Taktik ekonomi perdagangan. Gumam Rahman geli sendiri.


Mira tersenyum melihat Rahman telah kembali dari warung.

__ADS_1


"Makasih ya kak!"


"Aku kena tegur bu Hani khan!"


"Kenapa?"


"Katanya kita ga boleh tinggal satu atap! Aku disuruh ngontrak pisah, Mir!"


"Eh? Iya kah?... Alasannya?"


"Bukan muhrim, tidak boleh katanya!"


"Iya sih, tapi kita khan ga berbuat aneh-aneh! Itu sih akal-akalan bu Hani, kak! Kecuali kakak mau nikahin aku! Aku siap!"


"Hahahaha... nikah gampang, serius gak nih?"


"Serius laaah! Masa' enggak!?"


"Dasar kamu ini! Kebelet kawin ya? Tar deh, kak Rahman cariin jodohnya dulu!"


"Gimana kalo jodohnya aku itu kakak? Kakak mau bilang apa?"


"Ya ga bilang apa-apa juga!"


"Ga Mir, ga da yang salah! Okey, kakak nyerah deh hehehe... bawaan kalo cewe lagi mens suka ambekan itu fakta ya, bukan mitos!"


"Bawaan kalo cowok usia diatas 30 tahun ga peka' itu fakta bukan mitos!"


"Hehehe iya iya! Maaf!"


"Ga mau maaf, mau diobrolin serius!"


"Ya udah, Mira minum dulu cepet obat pereda nyerinya. Katanya tadi nyeri! Terus cepet pake pembalutnya, katanya tadi mau pake pembalut!"


"Tapi lepas ini kita bicara serius! Janji?"



"Janji Mir, janji!"


Entah kenapa Rahman begitu penurut dihadapan Mira. Padahal gadis itu usianya 12 tahun lebih muda darinya. Harusnya Miralah yang menuruti perkataan Rahman karena ia lebih dewasa. Tapi kenyataannya,...


Rahman tersenyum kecut. Tapi ia suka tinggal bersama Mira. Mereka layaknya keluarga. Makan bersama, nonton TV bersama. Berdiskusi juga dalam urusan pekerjaan.


Mira memang terkesan suka mengaturnya. Tapi sebenarnya Mira justru mengerti dirinya, selalu meminta pendapatnya dalam hal apapun.

__ADS_1


"Dex Miraa... Assalamualaikum!" Bu Hani datang. Tapi, koq bawa seseorang!? Rahman hanya menepuk dahinya. Grogi juga ia jika urusan jadi panjang.


"Bu Hani?"


"Ini pak RT, bang Rahman! Sekalian sensus warga katanya, hehehe! Miranya mana?"


"Di belakang, biar saya panggilkan dulu ya!?"


Mira keluar dengan wajah agak kesal pada bu Hani yang 'ember' dan kepo dengan urusannya."


"Nama adek? Alamat asal? Status, menikah, duda atau lajang?" pak RT bertanya tentang jati diri Rahman. Tak salah memang, itu sudah seharusnya prosedur yang sesuai sebagai pendatang disuatu lingkungan rukun tetangga. Supaya tidak menimbulkan sangka sahwa yang berimbas juga pada seluruh warga disekitarnya.


"Bapak RT statusnya apa?" celetuk Mira iseng.


"Duda!"


"Bu Hani statusnya apa?" tanya Mira lagi. Terlihat usil karena sebenarnya ia tahu status bu Hani.


"Janda!"


"Nah tuh? Apa jadinya kalau duda dan janda jalan berdua?" tanya Mira pedas.


Bagaikan tersedak bon cabe level 5, bu Hani terbatuk-batuk gugup juga dia.


"Dex Mira ini,... koq jadi menyudutkan saya! Ya jelas diantara kami ini tidak ada apa-apa!"


"Lantas diantara saya dan kak Rahman menurut ibu bagaimana?"


"Kalian tinggal serumah. Itu tidak bagus, jadi omongan tetangga! Bang Rahman bersedia juga koq ngontrak ditempat saya!"


"Iya bu, iya! Maafkan Mira, mohon jangan sampai terjadi kesalahfahaman ya bu!" lerai Rahman.


Rahman akhirnya mengontrak ditempat bu Hani. Setelah memberinya uang 500 ribu dan mendapatkan anak kunci dari beliau.


"Ayo, dex Mira bisa juga antar bang Rahman pindahan ketempat ibu!"


"Tar aku kena marah ga kalo aku sambangi kak Rahman?"


"Ga lah! Asal ga nginap ga papa! Iya khan pak RT?"


Pak RT yang sudah berumur 50 tahun itu tersenyum tipis. Mengangguk-angguk bagai burung beo. Takut juga ia ternyata dengan bu Hani.


Hadeeeuh!


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2