
"Makasih ya....keluarga kamu nyenengin banget!" kata-kata Ramzy membuat Adel tertegun.
Baru kali ini ia mendengar suara boss tengilnya yang 'sedap' ditelinganya.
Suara Ramzy terdengar lirih. Seperti ada kesedihan disana. Tapi Adel tak ingin menyelidik. Tak baik jika dalam pertemanan terlalu kepo hingga berakhir menjadi pertikaian karena keingintahuannya. Adel lebih memilih menunggu. Menunggu Ramzy bercerita sendiri akan kesedihannya.
Ia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Keluargaku emang begini adanya, boss! Maklumlah... kami ini orang biasa saja! Hanya bisa saling dukung dikeluarga saja ketika dunia luar begitu kejamnya."
Ramzy menatap Adel lama.
"Kamu bersyukur, punya keluarga yang sangat mendukungmu. Dan selalu mensupportmu. Membuat kamu punya pribadi yang baik!"
"Ah, boss! Saya belum punya pribadi! Belum punya rumah pribadi, mobil pribadi, pesawat jet pribadi!"
"Adel? Hahaha... anak ini susah banget ya diajak ngomong serius!?" Ramzy tertawa mendengar jawaban asal Adel.
"Ini diluar jam kantor! Saya ingin lebih santai aja. Beda ngobrol dijam kantor! Lagian, sekarang khan kamu lagi jadi teman. Bukan boss tengil!"
"B boss tengil?"
__ADS_1
"Upppssss.... maaf Adel keceplosan!" Tawa Adel pecah melihat mimik wajah Ramzy yang terlihat bingung dan sedikit marah.
"Boleh khan aku sering-sering main ketemu papa mama?" tanya Ramzy sebelum masuk mobilnya.
"Hei? Sori ya.... papa mamaku 'no' kamu bajak! Lha boss khan punya papa mama sendiri! Aku ga ada fikiran berbagi papa mama sama boss tengil macam boss Ramzy!" jawaban Adel membuat Ramzy mencubit pucuk hidung Adel gemas.
"No debat. Aku anak bungsu mereka sekarang! Okey? Ya udah, aku pamit dulu ya kakak kedua! Suatu hari nanti, aku pasti akan berbagi rumah denganmu!"
"Eh??? Sembarangan kalo ngomong! Boss itu anak angkat! Eh, anak pungut deh... hehehe!"
"Ga papa anak pungut juga. Wew!! Yang penting paling disayang! Karena aku anak paling ganteng, kata mama tadi!"
Entah mengapa, saat itu Adel mendengar perkataan Ramzy seperti bocah umur 7 tahun yang imut dan manja. Ia senyum mendapati karakter Ramzy yang berbeda.
Adel memahami, Ramzy anak tunggal yang kesepian. Ia jarang mendapatkan kasih sayang dan belaian orangtua. Secara kedua orangtuanya adalah orang-orang super sibuk. Bahkan sepertinya mereka terlalu cuek pada anak semata wayangnya. Itu yang Adel tangkap dari percakapan dingin pak Rama dan Ramzy dirumah sakit tempo hari.
Sejak saat itu, dikantor Ramzy selalu mengirimi wa walaupun hanya emoji. Ia intens melakukan komunikasi via ponsel meski jarang Adel respon.
Seperti hari ini. Ramzy mengirimi Adel gambar menu makanan. Terlihat menggiurkan. Makanan ala-ala Korea. Entah maksudnya apa. Meledek Adel atau mengajak makan siang bersama? Adel tak faham. Dan tak ingin menjawab japriannya juga.
Hari ini Bang Rahman mengajaknya ketemuan ditempat biasa. StartDuck.
__ADS_1
"Bang! Ngapain jongkok begitu?" Adel tersenyum melihat Rahman yang tengah berjinjit dengan tumpuan pahanya.
"Sstttt....!! Jangan berisik! Masih ada ga cewek yang pake dress mini warna hitam, Del?"
"Mana? Ga da cewe yang pake dress model gitu? Kenapa sih?"
"Alhamdulillaah....! Udah ga da!" Rahman berdiri setelah menarik tangan Adel meminta bantuan berdiri.
Tapi karena Adel terkejut dan tak siap, ia nyaris terjungkal menimpa tubuh Rahman. Untungnya Rahman dengan sigap memegang pinggang Adel hingga gadis itu terjelembab dipelukan Rahman.
Sepasang mata yang tadi memperhatikan langsung melotot geram.
"Adu du...maaf bang!" Adel segera bangkit dari dekapan Rahman. Memerah wajahnya seketika karena malu.
"Maaf ya? Gara-gara aku, Adel hampir jatuh!" kata Rahman tak enak hati. Tapi sejujurnya hatinya berbunga-bunga, bahagia.
Adel tertawa sambil mengangkat kedua tangannya yang digoyang-goyangkannnya.
Mereka berjalan beriringan. Masuk ke cofee shop StartDuck dengan diiringi tatapan mata kesal.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•