
Keputusan telah disepakati. Keduanya menyetujui melanjutkan acara pernikahan yang memang harusnya digelar antara Ramzy dan Adelia.
"Tapi jangan undang banyak tamu, seperti yang dulu kalian niatkan. Ella ingin keluarga besar saja yang menghadirinya!" pinta Ella dihadapan papa mamanya.
Mamanya memeluk Ella. Tangis kesedihan bercampur tangis keharuan karena akhirnya Ella mau juga menerima dan mengikuti pesan terakhir adiknya.
Usianya yang kini 29 tahun. Sudah lewat jika disejajarkan dengan banyak teman-temannya yang rata-rata sudah beranak 2, baik teman wanita juga pria. Membuat hati kecil mamanya terselip kebahagiaan juga.
Semua berjalan dengan semestinya.
Sementara Rahman, setelah mengalami banyak luka akibat pukulan dan cakaran Ella, berangsur-angsur pulih meski ada beberapa bekas cakaran diwajah manisnya.
Ia berniat mendatangi makam Adelia. Berniat juga mengunjungi rumahnya dengan niatan melamar Ella. Semua data tentang Ella telah ia kantongi dari orang suruhannya.
Ella masih gadis. Bahkan masih sendiri alias jomblo alias tidak memiliki kekasih. Tekadnya bulat. Melamar Ella meski nanti pada akhirnya, kepedihan yang ia dapati. Setidaknya satu langkah ia maju demi untuk membayar dosa-dosanya pada Ella.
"Adel! Adelia...... Seperti mimpi rasanya aku kini hanya bisa datangi pusaramu. Hhhh.... Juga seperti mimpi, kalau ternyata gadis yang pernah kurusak kesuciannya adalah kakak tercintamu. Adel! Maafin bang Rahman, Del! Andai waktu bisa diputar ulang kembali, aku mau dijodohkan dengan Ella. Sungguh mau Del! Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin membahagiakannya. Hik hik hiks....."
Isak tangis Rahman pelan tapi lirih. Ia tak bisa menyalahi Tuhan dengan semua aturanNya. Tapi ia masih tak bisa percaya pada Takdir yang Tuhan beri untuknya.
Penyesalan demi penyesalan, yang selalu ia dapatkan. Rahman terpekur diatas pusara Adelia sendirian. Lama, hampir satu jam.
Dilangkahkan kakinya dengan menguatkan tekad.
"Kealamat yang tadi aku beri ya pak!" katanya pada supir pribadinya yang setia.
"Baik boss!"
__ADS_1
Rumah Adelia didepan matanya. Sederhana diantara puluhan rumah diarea perumahan yang nyaris serupa.
Sepi. Entah memang biasa sepi, atau memang penghuninya sedang pergi, Rahman hanya mengira-ngira.
Ditekannya bel rumah yang tersedia dipinggir tembok garasi.
Seorang wanita setengah baya keluar. Itu mama Adelia.
"Cari siapa mas?"
"Saya ingin bertemu dengan kedua orangtua Ella, bu!"
"Oh, iya saya sendiri. Sebentar ya!.... Mari silahkan masuk, mas!"
Rahman tersenyum. Ia senang disambut hangat mamanya Adel dan Ella.
Wajahnya menelisik. Masih cantik meski telah berusia lebih. Pantas kedua putrinya cantik manis rupanya.
Tak lama, datang seorang bapak. Mungkin papanya! gumam hati kecil Rahman. Ia berdiri sambil memberi salam dan menjabat tangan papa Ella.
"Silakan mas!" mamanya kembali datang dengan nampan berisi minuman dan kue, seraya menawarkan.
"Terima kasih banyak bu!"
"Ada perlu dengan Ella?"
"Ah iya, pak! Maaf kalau saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Rahman. Saya, maksud kedatangan saya kemari....niat ingin melamar Fidellia Gabriella menjadi istri saya."
Papa dan mamanya Ella tertegun. Menatap wajah Rahman lekat.
__ADS_1
"Mm... Mmm gimana ya saya ungkapkannya!... Ella minggu besok akan menikah, mas!"
"Menikah?... Dengan siapa pak?"
"Dengan Ramzy. Nak Teuku Ramzy!"
"Ramzy kekasihnya Adelia?"
"Mas kenal Adel juga Ramzy?"
"Saya turut berduka cita atas wafatnya Adel pak, bu! Saya sebenarnya hadir juga diacara pemakaman Adel, tapi tidak berani menganggu kekhusu'an pemakaman gadis yang paling saya sayangi."
"Maksud.....mas?"
"Saya dan Adel bersahabat. Lebih tepatnya, Adel sudah menganggap saya abangnya dan saya seperti mendapat adik manis yang baik hati juga ceria!"
Semua diam mengenang Adel. Kesehariannya. Keramahtamahannya pada siapa saja. Juga kesahajaan dan kelembutannya. Adel bagaikan sinar matahari pagi yang hangat dan menceriakan.
"Jadi,.... Ella....sungguh akan menikah dengan Ramzy?"
"Sebenarnya itu amanah Adel sebelum menghembuskan nafas. Kami akhirnya menyepakatinya. Ramzy akan naik ranjang menikahi Ella. Itu istilah yang sering disebut kebanyakan orang. Maksudnya, melanjutkan pernikahan tapi dengan kakak simempelai."
Kini Rahman yang tertegun. Bingung dan kecewa. Entah rasa apalagi, karena semua bercampur menjadi satu.
Dan, yang paling menyakitkan.... lagi-lagi nama Ramzy yang ia dengar.
Rahman meyakini jika diantara keduanya sudah dipastikan menikah tanpa cinta. Dan pasti hanya mengikuti amanah. Yang entah sebulan atau dua bulan kemungkinan besar keduanya pasti berpisah. Karena Rahman tahu betul bagaimana bucinnya Ramzy pada almarhumah mendiang Adel. Tak mungkin menaruh rasa pada kakaknya meski mereka dijodohkan.
Rahman masih punya pengharapan. Ia mengangguk kembali membulatkan tekad.
__ADS_1
Baginya, menunggu Ella bahkan 1.000 tahun lamanya ia siap. Ia bernazaar, mendedikasikan hidupnya untuk memuja Ella. Hanya Ella seorang.
đź’•BERSAMBUNGđź’•