
Pukul 9 malam, Ramzy pamit pulang. Setelah puas bermain dengan papa Adel, makan malam bersama, membantu mama beres-beres, ia tanpa merasa bersalah pada Adel yang sedari tadi diam.
"Boss... bisa kita bicara?"
"Aku capek nih! Mau pulang Del! Kecuali kamu mau nyuruh aku nginap, boleh juga sih!"
"Boss! Apa maksud boss mendekati keluargaku? Bahkan tanpa minta persetujuan terlebih dulu padaku?"
"Kenapa harus minta persetujuan kamu? Papa mama senang koq kalo aku sering main. Mereka malah nyuruh aku menganggap rumah sendiri!"
"What??? Terus boss dengan seenaknya mengikuti perkataan mereka?"
"Mereka itu orangtua Del! Wajib kita dahulukan ucapannya! Ga salah khan aku!?"
"Maksud boss apa sih? Boss bisa main kerumah karyawati yang lain. Tapi jangan terus-terusan kerumah saya! Tidak baik boss! Apa pandangan karyawan lain nanti tentang saya!"
__ADS_1
"Aku rasa bukan pandangan karyawan lain yang kamu risaukan. Tapi pandangan pacarmu si tukang jaket kulit itu khan?"
"A apa maksudnya?"
"Apa dia sudah kamu kenalin sama papa mama? Bagaimana responnya? Terus,... apa kamu juga sudah mengenal keluarganya? Bibit bebet bobotnya? Bujangan, duda atau mungkin dia pria beristri! Jangan seenaknya kamu berikan tubuhmu untuk dipeluk meski kamu cinta!"
Mata Adel melotot. Rahangnnya mengeras. Marah.
"Boss pikir saya perempuan semurah itu? Dan boss ga bisa seenaknya men-judge saya seperti itu! Saya tidak punya kekasih dan tidak sembarangan juga pelukan dengan pria! Saya sudah menolak boss dimalam setelah kita makan di rooftop gedung restoran mewah yang boss booking! Lantas, untuk apa boss masih melakukan semua ini? Apa gunanya?"
Adel tak sangka, Ramzy lebih keras bersikukuh dengan pendiriannya.
Antara malu dan kesal. Adel masuk kedalam rumahnya meninggalkan Ramzy yang belum menyalakan mesin mobilnya.
"Kamu marah Adel? Bagaimana denganku? Kemarahan hatiku melihat kamu berpelukan dengan lelaki itu! Dan kamu tak sadar, malah bilang tidak mudah berpelukan dengan pria. Lantas tadi siang itu apa?" tutur Ramzy pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Menarik tuas gigi mobilnya. Perlahan menyetir mobilnya berjalan pulang.
Ramzy sedih tapi bahagia. Senang tapi terluka. Entah perasaan apa ini namanya. Hingga tanpa sadar airmatanya menetes. Ia sedih mendapati dirinya yang jauh dari belaian kasih sayang yang sesungguhnya.
Tuhan memberikannya segalanya. Harta, Tahta, tapi tidak wanita. Tabungan pribadinya mendekati angka miliaran. Ia juga telah memiliki apartemen sendiri. Walau pekerjaan masih ikut papa, tapi dimasa depan perusahaan itu akan menjadi miliknya pribadi.
Tuhan menganugerahkannya wajah tampan. Badan yang keren dambaan setiap pria. Banyak wanita juga tergila-gila padanya. Tapi setiap wanita yang ia cintai, selalu saja menikungnya. Menghujamkan hatinya dengan senjata cinta yang mematikan. Hingga selalu terbunuh 'rasa'nya. Hancur lebur bagaikan debu tak berharga.
Mengapa Tuhan memberinya cobaan hidup yang tak mudah baginya? Sedang kedua orangtuanya sendiri sibuk dengan dunia mereka sendiri. Yang mereka labelkan "untuk kebahagiaan anak juga pastinya". Kebahagiaan yang mana? Harta dan tahta saja? Lantas bagaimana dengan cinta? Cinta tulus nan sejati. Cinta yang tak pandang bulu. Cinta yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik dan masa depan cerah yang indah.
Sedangkan orangtuanya sendiri yang menjadikannya sama sekali "lupa" untuk memberinya cinta. Bagaimana dengan orang lain?
Hhhhh......
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1