
Ramzy makan lahap sekali. Ia dengan malu-malu meminta tambah nasi pada Ella. Membuat hati Ella yang paling dalam bahagia. Masakannya dihargai begitu tingginya dengan pujian suaminya itu. Terlebih namanya yang disebutnya.
"Enak, Ella! Mantul! Ikan guramenya juga! Apalagi sambalnya! Mmmm..... Nikmat semuanya!"
Ia pernah melihat Ramzy dulu makan bersama sewaktu masih ada Adel. Kegembiraan Ramzy malah terlihat lebih.
Ya. Ramzy memang hampir dua bulan ini makannya sangat tidak teratur. Sejak Adel tiada sepertinya. Hingga Ella bisa melihat bobot tubuh Ramzy yang dulu gagah proporsional kini agak berkurang drastis kelihatannya.
Ia bisa melihat pinggul Ramzy lebih ramping dari yang dulu.
Ella menutup mulutnya. Malu ia memiliki fikiran bahkan sampai memperhatikan pinggul Ramzy, kekasih adiknya itu.
"Kenapa? Kemasukan duri ya? Hati-hati kalau makan ikan!" Ramzy menuangkan air putih kedalam gelas. Menyodorkannya segera kepada Ella untuk diminum. Membuat Ella tertegun pada kebaikan Ramzy padanya.
Ramzy semakin panik melihat Ella diam. Dibulatkannya nasi utuh menjadi sebesar kelereng.
"Nih telan! Kata orang tua dulu kalo ketulangan, telan nasi bulat-bulat. Jangan dikunyah biar tulang yang nyangkut ikut terbawa."
Kali ini makin membuat Ella terharu. Membuatnya menuruti perkataan Ramzy, padahal ia sama sekali tidak menelan tulang.
"Gimana? Mendingan?"
"Iya. Makasih ya Zy!"
Ramzy tersenyum. Melanjutkan makannya. Kembali asik dengan ikan gurame pesmolnya yang kini ia makan terpisah.
"Aku juga makasih, atas masakannya Ella!"
Senangnya Ella. Ramzy menyebut namanya. Bukan nama Adel.
"Sebagai balasan, aku yang cuci piringnya deh!"
"Ga usah, biar aku aja!"
"Jangan kuatir! Aku bukan tuan besar yang ga bisa cuci piring. Aku terbiasa mengerjakan sendiri sebenarnya sewaktu sekolah! Jadi, urusan cuci piring itu mudah!"
__ADS_1
"Hehehe... Ga kusangka! Tuan muka datar bisa juga diandalkan!"
"Tuh khan, ngajak berantem!"
"Hahaha.... ish ambekan! Makin datar mukanya!"
"Ga jadi ah, cuci piringnya! Malesin!"
"Eh? Ingat...! Ucapan yang sudah keluar dari mulut anda, tidak bisa ditarik lagi tuan CEO muka datar!'
"Hei nona es batu balokan! Kamu ini preman ya? Suka sekali cari keributan!"
"Tidak! Saya suka cari uang!"
"Hahaha.... dasar!"
Suara tawa menggema diruang makan seiring mereka bekerja sama mencuci piring dan merapikan meja makan.
"Adelia pasti sangat bahagia bersuamikan kamu, Zy!" tiba-tiba Ella berkata yang membuat Ramzy terdiam.
"Rumah ini, sebenarnya sengaja aku bangun setahun yang lalu. Untuk kami setelah menikah nanti. Dan rencana tanah belakang yang sekarang itu jadi kandang kalkun mau kubuat kolam renang mini berikut yacuzzi dan gazebonya. Sengaja aku rahasiakan ini dari Adel. Targetku rumah ini rampung keseluruhan tahun depan. Ternyata,..... hhhhh.... semua diluar kendaliku!"
"Jadi Adel sama sekali belum pernah kamu bawa kesini?"
"Belum. Kami biasa menghabiskan waktu di apartemen bersama."
"Oh begitu ya!?"
"Oh iya, aku dapat kabar dari pihak apartemen. Semuanya akan beres dua hari lagi. Kita bisa pindah lagi kesana kalau kamu mau!"
"Mmmm.... boleh aku memilih tinggal disini?"
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya justru disini lebih jauh dari tempat kerjamu nanti, La?"
"Aku suka disini. Lebih nyaman dan damai! Boleh kah?"
"Ya udah! Aku sih terserah kamu aja, disini juga enak. Peliharaanku bisa selalu kupantau terus khan, hehehe!"
"Makasih ya Zy!"
"Atas?"
"Pengertian kamu. Mengikuti keinginanku!"
"No problemo! Aku setuju-setuju aja jika itu bisa membuatmu bahagia. Karena Adel telah berpesan agar kita bahagia bukan? Itu adalah amanat terakhir Adel yang tak kan mungkin bisa kulupa."
Ella terdiam. Ingin bahagia. Tapi apakah ini kebahagiaan yang nyata? Entahlah. Apa ini definisi kebahagiaan? Ini adalah definisi kenyamanan saja menurutnya. Tapi bisakah kenyamanan membuat seseorang bertahan meski tanpa cinta dan tidak diciptakannya cinta diantara mereka? Hhhh.... Ella menghela nafas.
Sejujurnya ia memilih tinggal di tempat ini karena Ramzy belum memiliki kenangan dengan Adel disini. Jahatkah ia jika ia ingin membuat kenangan tersendiri dengan Ramzy? Apakah ia kini telah terjerat cinta yang perlahan tumbuh menjalar direlung hatinya?
Lagi-lagi Ella menggeleng. Ia bersyukur Ramzy tak melihat kegalauannya. Ia ingin sekali menolak pesona Ramzy yang kian hari menyergapnya tanpa permisi.
Ditambah lagi kini Ramzy juga mulai mencair dan melunak temperamennya. Bahkan kadang cenderung kemanisan dimata Ella. Semakin Ella terhanyut jadinya.
Ella menangis dalam sujud malamnya. Memohon petunjuk Tuhannya agar memberinya jalan. Menghilangkan benih-benih suka yang bisa saja menjadi cinta jika ini hanyalah sesaat.
Enam bulan saja. Ia hanya butuh 6 bulan untuk bersama Ramzy. Dan setelah itu, semua selesai sudah.
Semua kembali keasalnya. Kembali pada jalurnya masing-masing. Seperti perjanjian yang ia sepakati dengan Ramzy.
Ella takut terjelembab jatuh dan kembali tak sadarkan diri karena kesedihan dunia. Cinta pada harta, rupa dan tahta adalah cinta dunia semata. Sedang ia menginginkan cinta dunia akhirat. Cinta yang datang dari dasar hati atas nama tulus dan tanpa pamrih. Cinta yang tidak egois hanya menang sendiri, yang hanya ingin kelebihan tanpa mau mengerti kekurangan.
Ella inginkan cinta tulus yang abadi. Dan lagi-lagi matanya basah. Berharap cinta suci itu sungguh hadir menghampirinya, membawanya bahagia sebenar-benarnya..dalam suka maupun duka, dalam senang ataupun susah.
Mungkinkah semua itu jadi kenyataan? Akankah semua itu datang dikehidupannya kelak? Hanya airmata pengharapan pada Tuhannya ia haturkan.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1