PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
BELUM TERJADI APA-APA


__ADS_3


"Kenapa kita tidur dibawah?" tanya Ramzy pelan. Entah apa kesadarannya telah pulih atau belum. Yang pasti ia tak jua melepaskan pelukannya pada Ella. Membuat Ella menjadi nyaman didalam dekapannya.


"Aku ga mau terjadi sesuatu!"


"Sesuatu? Apa? Tolong jelaskan!"


Ella menutup mulut Ramzy dengan jemarinya. Membuat Ramzy menangkap tangan mungil Ella dan mengecupnya penuh perasaan.


Jantung Ella berdebar kencang. Ia tak menyangka Ramzy akan seberani ini memperlakukannya.


Ditariknya lagi tangannya mengingat Ramzy yang hanyalah bertindak diluar batas karena sedang dalam kondisi mabuk.


"Kamu cantik dan baik! Kamu wanita hebat, aku tergila-gila padamu!"


"Aku Ella, bukan Adelia!"


Ramzy menelan ludahnya. Menatap wajah Ella dengan sangat syahdunya.


"Aku tahu, kamu Ella. Kamu adalah istriku! Dan aku adalah suamimu!"


Ella memejamkan matanya. Menikmati suara parau Ramzy yang indah terdengar ditelinganya.



"Aku juga sedih, kesepian dan tak ada yang mengerti aku Zy! Aku sebenarnya lebih galau darimu!.... Kamu bersyukur, setidaknya pernah ada cinta luar biasa menyambutmu. Memberimu kebahagiaan walau hanya sesaat. Sementara aku...., hhhh.... hingga kini hingga detik ini, tidak ada seorangpun yang peduli aku. Bagaimana perasaanku. Bagaimana kehidupanku. Tiada orang memperhatikanku!"


Ramzy memeluk Ella erat.

__ADS_1


"Aku menyayangimu! Aku peduli padamu. Aku faham dirimu, seperti kamu faham diriku!"


"Saat ini kau sedang mabuk, dan kau sedang rindu Adel. Hingga kau bisa berkata begitu! Tapi besok, atau lusa,... keadaan kita, kembali seperti semula. Datar dan hambar!"


"Mari kita buat menjadi indah dan luar biasa!"


Ella tersenyum ketir.


Entah maksud Ramzy apa. Tapi yang jelas ia mengikuti alur yang Ramzy inginkan. Hhhh...


Ramzy menggendong tubuhnya menaiki kasur.



Menciumi tengkuk leher jenjangnya berkali-kali dengan lembut. Membuat bulu-bulu sekujur tubuhnya meremang. Menegang. Dan ia menahan diri untuk tidak berontak.


"Adel!!! Aku sayang kamu!"


Ini tidak benar. Aku tidak boleh memanfaatkan kesempatan mabuknya Ramzy, hanya ingin mendapatkan kasih cinta dan sayangnya. Apalagi Adelia adalah adikku. Tidak.


"Ella!! Kenapa?"


"Kau memanggilku Adel, tadi!"


"Maaf, Ella! Maafin aku!"


Ramzy tertidur dipaha Ella. Terlelap akhirnya. Tanpa berbuat apa-apa, membuat Ella kembali bernafas lega.


Ia pandangi wajah tampan dihadapannya itu. Sangat manis. Membuatnya kadang begitu ingin membelai wajah mulusnya itu. Memberikan kehangatan dan sentuhan, memberi isyarat bahwa ia suka pada calon adik iparnya itu.

__ADS_1


Tidak. Ella menarik lagi tangannya. Menghela nafas dan bangkit dari kasur setelah menidurkan kepala Ramzy pada bantal disebelahnya.


"Jangan pergi!" tiba-tiba tangan Ramzy menarik jemarinya.


"Sebentar! Aku ambil air hangat dulu buat melap wajahmu!" tutur Ella membuat Ramzy melepas pegangannya.


Tak lama kemudian Ella kembali dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil ditangan.


Ia mencari t-shirt Ramzy dilemari dan juga celana training panjang. Dapat.


Kembali mendekati Ramzy. Membuka satu persatu kancing kemejanya. Gugup sedikit gemetar. Tapi Ella tak ingin Ramzy sakit masuk angin karena kemejanya yang basah keringat.


Tubuh Ramzy terlihat kini. Putih, mulus meski agak kurus. Membuat Ella berusaha mengalihkan perhatiannya ke wajah Ramzy saja.


Melap dada dan leher serta tangan Ramzy dengan handuk yang dibasahi air hangat. Seketika tubuh Ramzy menggeliat. Membuat Ella semakin gugup dan mempercepat gerakan tangannya.


T-Shirt Ramzy perlahan ia pakaikan ketubuh suaminya itu. Lalu ia membuka celana katun Ramzy. Kini dadanya serasa mau meledak.


Dipicingkannya matanya agar tidak melihat hal-hal yang tidak boleh ia lihat. Tanpa memandang sedetikpun juga tidak ia lap, Ella cepat-cepat memakaikan celana training Ramzy. Agak sulit mengingat kaki panjang Ramzy pula. Tapi akhirnya berhasil juga, meski letaknya tidak sesuai. Uuufffhhh!!


Ramzy sudah tidur nyenyak.


Ella melap wajah Ramzy dengan tissue basah. Perlahan dan penuh kehati-hatian. Dahinya, pipinya, mata lalu bibir Ramzy. Malam ini ia puas menikmati semua itu.


Maaf, Adel! Kak Ella menyentuh tubuh juga wajah Ramzy! Maafin ka Ella ya!!! Hhhh....


Dipandanginya lagi wajah Ramzy dengan hati gamang. Ingin ia kecup bibir indah itu sambil berkata, "Aku sayang kamu Ramzy!" tapi tidak boleh. Tidak. Ramzy bukan miliknya. Bukan untuknya. Juga cintanya bukan padanya.


Ella bangkit. Pergi keluar kamar Ramzy dengan langkah gontai. Bersyukur, tidak terjadi apa-apa pada dirinya dan Ramzy. Batas waktunya hanya 5 bulan lagi. Ia dan Ramzy akan meneken surat perceraian mereka.

__ADS_1


Hhhh.....


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2