PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
RAPAT KELUARGA


__ADS_3

Hari berjalan terasa lambat. Bagaikan pedati penuh muatan. Semua orang diliputi kedukaan yang mendalam.


Bahkan hanya untuk bersuara ataupun mengungkapkan kegundahan rasapun, semua enggan lakukan.


Tahlilan demi tahlilan yang digelar keluarga Adelia Wilhelmina terasa dingin meskipun hikmad. Bahkan Ramzy yang selalu duduk dipojokan, dengan buku Yassin ditangan...hanya cucuran airmata yang tak tertahan.


Lelah hatinya, tapi harus bertahan. Para ustad mendekatinya dengan berbagai wejangan. Mengatakan kalau ia sungguh-sungguh sayang Adel, ia harus ikhlas. Tapi bagaimana ia bisa ikhlas? Sedang kini ia hanya seolah hidup seorang diri. Tiada lagi ada yang menemani.


Harinya semakin sunyi senyap tanpa suara tawa Adel yang renyah. Hidupnya semakin terasa hampa tiada lagi canda Adelia yang selalu ceria.


Adelia Wilhelmina. Bagaikan putaran film yang diulang-ulang, semua begitu mengena dihati dan fikirannya. Bagaimana awal mula ia bertemu Adel, bagaimana ia bisa menyukai gadis tangguh yang agak aneh nyeleneh baginya itu. Dan bagaimana Adel pelan-pelan membangkitkan rasa penasarannya ingin mengenal lebih dalam lagi, hingga rasa cemburu yang berhasil menguasai sanubarinya jika melihat Adel bercanda dengan pria lain.


Adel. Gadis itulah yang mampu membuatnya gagah perkasa kini. Bahkan karena Adel-lah, ia bisa merasakan kebanggaan lagi sebagai pria sejati.


Airmatanya tak bisa berhenti mengalir. Mengingat nasibnya yang telah ditinggal kekasih, pujaan hatinya. Andai tiada papa mama dan kedua orangtua Adel yang selalu mendampinginya dalam keterpurukan ini, ingin rasanya ia ikut Adel pergi dari dunia.


"Zy, minum!" papa Adel menyodorkan segelas air putih pada Ramzy yang terlihat kembali merapuh.


Semua orang sedih. Apalagi papa dan mama Adel. Tapi Ramzy lebih sedih, karena semua impian bayangan masa depan indah bersama Adelia tercinta telah musnah sudah. Itu sebabnya, sampai hari ini Ramzy menginap dikamar Adel, bersama beberapa kerabat yang juga menginap. Hingga hari kelima tahlilan.


Sementara papa mamanya hanya bisa menitipkan putranya pada keluarga Adelia karena kesibukan sebagai pebisnis. Meski kadang malam mereka datang menyambangi rumah keluarga Adel untuk menengok Ramzy.


Sementara Ella, juga lebih banyak diam dibelakang. Sesekali sibuk membantu kerabat yang menyiapkan minuman dan camilan ala kadar untuk para tamu yang ikut tahlilan dan yassinan.


Kamar Ella dijadikan tempat disimpannya barang-barang seserahan Ramzy untuk Adel karena khawatir Ramzy makin terpuruk melihat semuanya itu jika ditaruh dikamar Adel.


"Adel! Kakak harus apa? Kakak bingung dengan semua barangmu ini! Mengapa kamu harus meninggalkan kami semua secepat ini?! Mengapa Tuhan begitu cepat memanggilmu?" Ella terisak dikamarnya sendirian. Ia juga sama seperti Ramzy, tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Belum bisa.

__ADS_1


....


Ini hari ketujuh. Mama papa Ramzy kembali berkunjung untuk membawa putranya pulang.


"Pulanglah, Nak! Kita doakan Adel dari rumah. Doakan disetiap sujudmu!"


Ramzy menunduk. Pedih, perih hati dan jiwanya. Dirumah ini, semua menyayanginya. Menemani kesepian dan kesendiriannya. Bahkan mama Adel menyuapinya makan hanya untuk sesuap dua suap agar Ramzy mau makan dan tidak sampai jatuh sakit.


Ia takut sendiri. Ia takut keimanannya melemah dan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Seperti bunuh diri misalnya.


"Boleh saya bahas soal amanah terakhir almarhumah?" tiba-tiba papa Adel/Ella menyela ditengah percakapan.


Semua diam saling pandang. Tiada yang berani memulai pembicaraan serius ini.


Ella ada diatas, didalam kamarnya. Sementara Ramzy sama sekali tak lagi peduli pada arah percakapan para orangtuanya. Ia hanya diam seribu bahasa. Bahkan otak seolah berhenti berputar dan berfikir.


Istrinya menurut. Pergi berlalu meninggalkan riungan keluarga.


"Saya bisa bicara dengan putra saya diluar?" pinta mama Ramzy agak gugup.


Papa Ella mengiyakan, membuat Ramzy dan mamanya pergi keluar rumah dan berbicara diterasnya.


"Ramzy! Apa kamu mau menikah dengan kakaknya Adel?" selidik mamanya. Tapi tiada jawaban. Ramzy hanya diam.


"Zy! Kamu bisa dapatkan gadis lain! Mama percaya kamu bisa move on! Kamu bisa! Mama bantu pasti!"


"Cuma Adel satu-satunya yang bisa ngertiin Ramzy! Ga da wanita lain. Ramzy ga akan menikah seumur hidup Ramzy! Cukup Adel dan hanya Adel! Cintaku sudah mati bersama Adel. Kami akan bertemu nanti di syurgaNya Allah!"

__ADS_1


"Ramzy! Sadar, nak! Kamu harus move on! Kamu masih sangat muda! Kamu pasti bisa! Memang perlu waktu! Mama ga setuju kamu menikah naik ranjang dengan kakaknya Adel!"


"Ma! Apa mama tau, apa yang pernah aku alami selama hidupku? Apa selama ini mama peduli pada hidupku? Tidak. Mama hanya sibuk mencari uang. Mama berdalih semua untuk aku! Tapi apa, mana? Aku juga butuh kasih sayang dan perhatian! Mama bahkan tidak tahu aku punya trauma dalam hidupku!" kali ini Ramzy bersuara. Bahkan lantang dan panjang.


"Kamu trauma apa? Selama ini kami tak pernah menelantarkanmu sayang! Bahkan ketika kamu sedih, mbok Sumi meninggal dunia, kami sengaja mengirimmu sekolah ke Boston!"


"Ya. Mama dan papa sengaja mengirimku ke neraka!"


"Ramzy!?"


"Mama tidak tahu aku bagaimana hidup disana!"


"Kamu tinggal diasrama sekolah ternama. Bahkan kamu sendiri pasti terbelalak jika mama bilang nominal semesterannya disana! Kamu bilang itu neraka?"


"Apa mama tahu, apa yang juga kudapatkan disana selain toga kebanggaan mama papa? Hinaan dan bullyan! Bahkan aku diserang psikis juga fisik! Aku dilecehkan secara s*ksual! Mama tahu?..." mamanya kaget terdiam.


"Mama tahu, aku kena penyakit kelainan biologis setelah kejadian itu dan apa mama tahu, alasan aku dihina para wanita mantan-mantanku sebelumnya? Karena juniorku tidak bisa bangun!" Ramzy teriak. Nyaris terdengar kedalam.


"Dan hanya Adel yang memahamiku! Adel membantuku melewati semua itu! Adel ma, Adel! Perempuan yang kakaknya kini ia titipkan padaku, untuk aku jaga ma! Dan mama seperti tidak menyukai Ella juga seperti dulu diawal mama sama tidak sukanya pada Adel!" Ramzy menangis berjongkok. Wajah tirusnya terlihat pucat pias karena gejolak emosinya akhirnya pecah juga dihadapan mamanya yang berlinang airmata.


Menyesal ia selama ini tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Apalagi beban penderitaan Ramzy, putra satu-satunya yang selalu ia pikir selalu ia berikan yang terbaik.


Menangis keduanya sesegukan. Akhirnya mama memeluk erat tubuh Ramzy dengan berkali-kali meminta maaf.


Papanya keluar menyusul. Menuntun keduanya kembali masuk karena Ella sudah berada ditengah-tengah mereka.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2