PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
SAH


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Fidellia Gabriella binti bapak Teguh Suwandi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan emas 100 gram dibayar tunai!"


"Sah?


"Saaaaaah!!!!"


"Barokallaah fi kum...... Bismillahirrohmaanirrohiim................... ."


Doa setelah ijab kabul dikumandangkan pak penghulu yang menikahkan keduanya.


Dihotel bintang lima dengan mewahnya dekorasi pelaminan dan juga tata cahaya. Dihadiri tak lebih dari 100 tamu undangan yang tak lain adalah kerabat keluarga mereka sendiri.


Kedua orangtua mereka terharu sampai banjir airmata. Terlebih mama Ella yang berkali-kali menyusut airmatanya.


Meski menolak memakai gaun pengantin selayaknya pasangan pengantin, tapi keduanya hari itu tampil cantik dan tampan bak pasangan soleh dan sholeha.




Keduanya membubuhkan tanda tangan didua buku nikah yang disodorkan pak penghulu. Dan kini resmi sah sebagai pasangan suami istri.


Ella gemetar mencium punggung jemari Ramzy. Ramzy juga gugup menyematkan cincin dijari manis Ella. Semua tepuk tangan bergembira menyambut pasangan baru dengan harapan semoga samawa. Tuhan memberkahi dan melimpahi rahmatNya pada kedua mempelai yang terlihat kikuk itu.


Alunan musik gambus mengiringi acara makan-makan yang tersedia dimeja prasmanan hotel.


Ramzy dan Ella juga ikut makan meski duduk dikursi pelaminan. Makan sendiri-sendiri tanpa ada inisiatif bicara apalagi saling suap. Karena diantara keduanya memang tiada cinta walaupun kini telah resmi berumahtangga.


Setelah 2 jam acara, satu persatu kerabat dan saudara undur diri. Acara resmi dibubarkan.


"Jadi kalian bersikukuh ingin pindah dan memilih hidup terpisah dari kami para orangtua?" tanya mama Ella sekali lagi.

__ADS_1


"Kenapa ga dirumah kami?" mama Ramzy lagi-lagi menawarkan diri.


"Kami akan tinggal diapartemen ma! Ini keputusan kami berdua. Mohon pengertian kalian! Ramzy ingin belajar mandiri, begitupun Ella! Izinkan kami meninggalkan rumah kalian semua! Tapi kami janji, tiap minggu kalau ada waktu pasti menyambangi kalian semua!"


Hhhh.... Semuanya seolah kompak menghela nafas. Terpaksa menerima keputusan putra putri mereka yang kini telah lepas dari tanggung jawab masing-masing.


"Ma! Ella pamit! Mama papa baik-baik ya? Ella akan sering telpon mama papa!" Ella memeluk kedua orangtuanya penuh haru. Kini ia berstatus seorang istri. Dan bertekad mengikuti langkah suami. Meski hanya suami diatas kertas saja.


Ramzy juga melakukan hal yang sama. Pamitan pada mama papanya. Hingga mereka berdua bertukar orangtua.


"Titip Ella ya nak Ramzy! Wataknya memang keras, tapi sebenarnya Ella anak baik juga penurut. Tolong Ramzy lebih sabar menghadapi Ella! Papa percaya, Ramzy bisa membimbing Ella!"


Ramzy menunduk mendengar wejangan papa mertuanya kini. Ia mengangguk. Mencium punggung lengan kedua orangtua Ella yang masih belum bisa merelakan keputusan keduanya untuk langsung pindah.


"Tolong jaga Ramzy mama ya Ella! Selama ini, mama bukanlah mama yang baik untuknya. Mama lupa kalau Ramzy juga butuh cinta, kasih sayang dan perhatian selain uang. Mama gagal sebagai orangtua! Kini... hik hik hik mama pasrahkan Ramzy pada Ella!"


Entah kenapa aura mereka begitu syahdu karena kesedihan hati para orangtua mereka.


Seolah harapan tertumpu dipundak keduanya, untuk saling jaga dan saling memperhatikan.


Kini keduanya melangkah menuju masa depan. Walau tidak dengan pengharapan hari esok bahagia, tapi mereka percaya. Pelangi akan datang setelah hujan. Meski kini pelangi tak selalu bisa dipercaya datang, tapi setidaknya sesekali pelangi menampakkan dirinya bila hujan selesai disore hari yang cerah.


Ramzy dan Ella sengaja pisah ruangan. Ella dikamar depan sedang Ramzy diruangan sofa. Sebenarnya Ella merasa tak enak hati, karena ia ditempatkan dikamar Ramzy yang mungkin penuh privasi. Tapi justru Ramzy menolak, karena pernah ada banyak kenangan dikamar itu. Kenangannya dengan Adelia.


Hari beranjak malam tapi keduanya enggan untuk mempertemukan diri hingga pagi hari.


Mungkin karena lelah hati, jiwa dan raga,... keduanya seolah kompak mengurung diri dikamar hingga lupa makan malam. Keduanya pun terlelap dengan mimpi masing-masing.


Pagi hari, didepan pintu kamar Ella dan Ramzy tanpa sengaja berpapasan. Masih dengan muka bantal hingga keduanya saling berlarian kembali masuk kamar, menghindar. Apalagi melihat kostum tidur mereka yang ternyata nyeleneh. Ramzy hanya memakai boxer pendek dan kaos singlet ketat sedang Ella berdaster kaos tanpa lengan bergambar minion.


Rambut keduanya yang acak-acakan, terlebih rambut Ella yang panjang dan mirip singa jika bangun tidur membuatnya berkali-kali menjitak dahinya sendiri.

__ADS_1


Untungnya mereka memiliki kamar mandi masing-masing. Ella kamar mandinya tersedia didalam kamar. Sedang Ramzy memakai kamar mandi diruangan tengah.


Ramzy lupa sesuatu. Dengan agak malu-malu ia mengetuk pintu kamar yang kini adalah area privasi Ella.


Tok tok tok.


Pintu dibuka, tapi hanya sedikit. Dan muncul kepala Ella karena ia ternyata masih handukan dan belum berpakaian.


"Apaan Adel?" Ia lupa, kalau yang mengetuk pintu kamarnya bukanlah adiknya tetapi seorang pria yang kini berstatus suaminya.


Ella merah padam wajahnya melihat Ramzy yang juga terbelalak melihat leher jenjang Ella dan pundaknya yang terbuka.


Bruk!!!!


"Maaf,... ada apa?" tanyanya dari dalam pintu setelah menutup pintu.


"Mh mh... aku mau ambil cream pencukur kumisku!" sahut Ramzy gugup.


"Apaan? Cream pencukur rambut?... Dimana?"


"Dikamar mandi," jawabnya sambil membalikkan tubuh dari daun pintu kamar Ella.


"Ini?" Ella keluar sambil menyerahkan paperbag berisi benda yang dimaksud Ramzy.


Ramzy gugup, malu untuk berbalik. Hingga benda dalam paperbag itu berjatuhan. Membuatnya dan Ella sibuk memungut satu persatu wadah cream juga botol-botol alat perawatan wajah Ramzy.


Uffffh. Ramzy menarik nafas lega. Ternyata Ella telah memakai kaos atasan dan celana training.


"Apa sih? Makanya liat pake mata napa!?"


"Idih? Emang selama ini aku liat pake hidung?"

__ADS_1


Ella hampir terkikik mendengar jawaban Ramzy yang ketus dan nyeleneh. Tapi kembali sadar dan ia harus jaga imej.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2