
Rahman masih terpekur sendirian dirumahnya yang dingin dan sepi. Sepeninggal Mira, ia hanya duduk melamun didepan teras memandang jalan raya yang lengang dihadapannya.
Ia memikirkan lagi semua ucapannya tadi kepada Mira. Menimbang-nimbang apakah mungkin ucapannya yang terlampau 'keras' pada istri tercintanya itu.
Selama ini, ialah yang sering lari dari kenyataan. Meninggalkan Mira untuk menenangkan fikiran. Kini, Mira seolah tengah membalas semua perbuatannya itu.
Dan ternyata, ditinggalkan dalam keadaan masalah masih 'menggantung' adalah suatu perasaan yang tidak mengenakkan. Kini Rahman menyadari, seperti ini mungkin perasaan Mira dulu. Ketika ia pergi berlalu hanya demi menghindar dari keributan.
Hhhh.....
Tuhan itu Maha Adil. Dan Rahman kini meratapi rasa yang sama seperti yang Mira rasakan kemarin-kemarin.
Hati kecilnya bertekad. Akan meminta maaf pada istrinya atas semua perbuatan tidak baiknya yang lalu-lalu.
Tadi sebelum pulang Ramzy memberitahukan kepadanya, bahwa ia harus waspada pada bawahan Mira yang bernama Vicky. Ella yang memintanya.
Bukan berarti Rahman percaya seratus persen pada Ella dan Ramzy. Tapi kedua teman yang telah ia anggap saudara itu tidak mungkin berkata sembarangan menuduh seseorang tanpa bukti.
Untuk itu, ini adalah PR nya nanti dihari senin di SOFTELLA DEPT STORE dihari pertamanya bekerja disana.
Memang ia sudah melihat gelagat kurang baik dari pria yang menjabat sebagai manajer Pemasaran di perusahaan istrinya itu. Ketika ia ikut pemotretan Mira di Puncak seminggu yang lalu.
Tapi Rahman tidak terlalu ambil pusing. Dan dia baru saja mengenal Vicky dihari itu juga. Mira memang terlihat akrab dengan pria itu. Kadang pria itu juga sering diam-diam memandang istrinya dan melempar senyuman pada Mira tanpa sebab. Rahman waktu itu menilainya biasa saja. Tak berfikir terlalu jauh tentang Vicky.
Makanya tadi Rahman sempat menegur dan mengingatkan Mira untuk langkah kedepannya. Tapi tanggapan Mira sungguh tidak dapat ia prediksi. Mira justru pergi meninggalkan dirinya sendiri dirumah.
Ini sudah lewat Maghrib. Rahman hanya bisa mengadukan kesedihan hatinya pada Allah Azza Wazzalla. Semoga Mira segera pulang dan komunikasinya dengan Mira kembali lancar.
__ADS_1
Treeet treeet treeet
Handphone Rahman berbunyi beberapa kali.
Mira menelponnya.
"Mira! Mira sayang! Dimana kamu, yang? Pulanglah! Maafkan kakak, Mira!"
[Kakak!..... Kakaaak! Maafkan Mira ya? Hik hik hiks....]
"Mira! Mira kamu dimana? Kenapa menangis sayang? Apa ada seseorang yang menyakitimu? Pulanglah Mira!"
[Iya kak, Mira dijalan pulang! Mira lagi nunggu taksi online pesanan Mira datang. Mira minta maaf ya kak? Sikap dan sifat Mira sangat kekanak-kanakkan..... Hik hik hiks... maaf ya]
"Alhamdulillaaaah..... Allah mengabulkan doa kakak! Kakak senang mendengarnya! Ya udah, cepat pulang ya sayang?!"
[Duarrrrr........... tuut tuuut tuuut]
........
Ternyata, ada sepeda motor yang tiba-tiba oleng dan menabrak Mira. Membuatnya mental setelah terseret beberapa meter.
Pukul 6.30 malam. Suasana sekitar kejadianpun ramai orang berkerumun menolong Mira yang pingsan.
Beberapa orang menahan orang yang menabrak Mira.
[Hallo! Hallo.... Maaf, kakak yang tadi ditelepon sekarang dibawa kerumah sakit Intan Permata, mas!]
__ADS_1
"Rumah sakit Intan Permata? Mas, saya suaminya. Kenapa dengan istri saya mas? Lalu bagaimana keadaannya?
[Istri mas pingsan, dan langsung dilarikan kerumah sakit Intan Permata. Ini hape sama tasnya ada disaya, mas! Kita ketemuan saja di rumah sakit supaya mas bisa ambil tas milik istrinya]
"Oh iya. Terima kasih banyak mas, atas bantuannya!"
Bagaikan terbang, Rahman membawa vespanya kerumah sakit tujuannya.
Airmatanya terus menetes khawatir akan keadaan Mira istrinya. Terlebih tadi Mira menangis ditelepon meminta maaf padanya. Membuat hatinya menciut kecil putus asa.
Rahman sangat takut Mira kenapa-napa.
Dicarinya ruang IGD Rumah Sakit. Ia terkejut, lemas lututnya melihat Mira yang terbaring lemah diatas ranjang besi rumah sakit. Dengan dahi dan pipinya yang memar penuh luka dan berdarah. Juga kakinya yang diperban.
Mira menangis melihat kedatangannya.
"Kakaaak!"
"Ya Allah, Mira sayangku!"
Mereka menangis saling berangkulan. Cukup lama Mira menumpahkan air mata penyesalannya yang dalam didada suaminya.
"Mira, kamu ga kenapa-napa khan yang?"
"Dahi dan pipi Mira luka kak! Terseret motor beberapa meter. Ini kakinya juga luka dan terkilir! Mungkin ini adalah karma dari Allah atas perlakuanku sama kakak selama ini!"
"Jangan bilang begitu sayang! Ini cuma musibah. Memang datangnya dari Allah, untuk penggugur dosa-dosa kita! Maafkan kakak yang tak bisa menjaga keselamatan Mira! Kakak juga bersalah banyak sama Mira!"
__ADS_1
Keduanya kembali saling rangkul untuk saling menguatkan. Menangis agak pelan, tersadar posisi mereka ada diruang IGD rumah sakit yang ada banyak ranjang pasien lain.
đź’•BERSAMBUNGđź’•