PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
MASAKAN YANG MENGGODA


__ADS_3

"Udah, Ci? Apa kamu bilang?" tanya Rahman setelah ia melihat kembali asisten rumah tangganya.


"Udah tuan! Seperti pesan tuan tadi! Nona muda itu minta maaf, janji akan bilang pada suaminya untuk menjual lagi ayam kalkunnya!"


"Hm!"


Cici tersenyum kecut mendengar jawaban tuannya yang memang super cuek itu.


Memang sudah 2 hari Rahman sedang dirumah. Ambil cuti sakit dari kerjaannya. Migrainnya kumat. Membuatnya semakin dingin dan kini lebih jutek. Terlebih setelah ia mendapat penolakan serta kabar bahwa Ella telah menikah dengan Ramzy.


Mungkin hatinya patah, membuat semangat hidupnya semakin kurang. Tapi ia masih punya pengharapan, suatu saat Ella bisa memberinya maaf serta hati dan jiwa raganya.


Selama ini hidupnya yang datar, juga dihantui dosa dari rasa bersalahnya yang dalam, membuatnya tidak bisa mencintai wanita. Sekalinya ia punya rasa itu, gadis yang dicintainya lebih memilih pria lain. Dan gadis itu adalah adik dari korban kejahatannya. Hhhh... Takdir yang rumit dan aneh untuknya.


.....


Ella merasa lebih nyaman tinggal diperumahan itu, meski sikap dan kelakuan Ramzy masih tetap sama. Cuek dan masa bodoh. Pergi tak pernah bilang, pulangpun semaunya.


Ini hari kedua Ella tinggal dirumah bukan diapartemen. Lusa kemungkinan ia akan kembali masuk kerja. Karena hanya 6 hari Ella mendapat cuti menikah ditempat kerjanya, MENTARI DEPT. STORE.


Hari ini ia berniat masak sendiri. Bosan ia makan makanan siap saji dan pesanan online. Ia ingin makan masakan rumah.


Dengan ojol, ia menjelajah pasar sekitar perumahan. Menyenangkan ternyata hang out ke pasar tradisional.


Pulang pun dapat sekeranjang sayur mayur, ikan segar dan bumbu-bumbu yang ia butuhkan untuk memasak.


Menu pilihannya adalah sayur asem, ikan gurame bumbu pesmol, sambal terasi dan teri kacang balado. Mmmm.... terbayang nikmat diangannya.


Ella terbiasa membantu mamanya didapur. Ia memang memiliki kesukaan mengolah rasa didapur ketimbang membuat kue seperti Adel. Adel adalah seorang pembuat pastry, sementara ia dijuluki koki handal dalam keluarga. Bahkan dulu papanya pernah mendorongnya untuk ikutan lomba MASTER CHEF, tapi Ella tolak halus.


Ramzy sejak pagi sudah pergi, entah kemana. Membuat Ella bisa sesuka hati memasak bebas tanpa gangguan pria dingin itu.


Harum aroma masakan menyeruak dapurnya. Dengan waktu satu jam lebih, ia bisa menyelesaikan semua masakannya.


Ia kembali segera bebersih dapur agar kembali rapi dan tak kotor lagi. Tapi ia terkejut melihat hasil masakannya yang lumayan banyak itu.


Sepanci besar sayur asem, belum tentu Ramzy mau makan masakannya. Lalu empat ekor ikan gurami besar. Membuatnya bingung juga takut mubazir.


Ella menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Aha. Mbak Cici! Akhirnya ide untuk memberi hantaran kepada asisten rumah tangga tetangganya itu muncul dikepalanya.

__ADS_1


"Moga mbak Cici suka masakanku!" Ia mencari wadah tapperware untuk diisi masakannya itu. Ada juga rupanya. Rantang kecil dipojok lemari dapur milik Ramzy. Membuat Ella terkesan juga pada 'suami kontrak'nya itu, karena bisa hunting perabot rumah tangga hingga sedetil-detilnya.


Ella menengok kanan kiri di gerbang rumah tetangganya. Yakni rumah Rahman.


Dicari-carinya bel. Tapi belum ia temukan.


"Mbak Ciciii....! Mbaaak, Assalamualaikuum.... " ia teriak tapi tak terlalu keras. Khawatir mengganggu tetangga lain juga siempunya rumah. Yakni tuan rumah sekaligus tuan mbak Cici.


"Ciciiii....!"


"Iya tuan!"


"Sepertinya ada tamu tuh!" kata Rahman yang tengah duduk diruang tamu.


"Iya tuan!" Dengan tergopoh-gopoh Cici bergegas keluar. Ia sedang membereskan ruang tengah yang dibongkar tuannya. Rahman memang suka sekali menggonta-ganti posisi perabotan furniturenya guna menghilangkan kejenuhan hidupnya.


"Nona!"


"Mbak Cici, maaf aku ganggu ya?"


"Ga koq, saya lagi bebenah. Tuan sudah 3 hari libur. Jadi agak sibuk dikit, hehehe...!"


"Oalaaa...suka sekali saya! Untuk saya?" mata Cici berbinar.


"Iya. Kalo tuan mbak mungkin ga doyan ya, secara holang kaya! Hehehe..."


"Kikikikik... iya sepertinya non! Jarang makan dirumah juga tuan itu! Makasih ya, masuk dulu non...saya tukar wadahnya!"


"Nanti aja deh, ga enak sama tuan rumahnya!Nanti mbak bisa kena tegur tuannya! Aku pulang ya," kata Ella.


"Ya ampuun...non baik banget sih! Ya udah, ntar wadahnya saya balikinnya ya non!"


"Oke!"


Ella kembali pulang.


Ia terkejut melihat Ramzy tengah duduk didepan meja makan.


Kapan pulangnya itu orang? gumam hati kecil Ella.


"Darimana?"

__ADS_1


"Dari tetangga. Bagi masakanku, kebanyakan!"


"Mmmmmmm....harumnya! Nak makan boleh?" rujuk Ramzy membuat Ella tertawa kecil.


"Macam bocah tingkahmu!"


"Hehehe....! Masakannya menggoda!"


Ella menyendokkan nasi kepiring Ramzy. Membuat wajah pria itu berbinar senang.


"Maaf ya, kalau rasanya kurang memenuhi seleramu! Kalo ga enak, bilang jujur ya!"


Ramzy tersenyum simpul. Matanya menatap mata Ella. Ada riak disana yang tidak bisa Ella artikan. Membuat Ella kalah dan menunduk.


"Apa itu?"


"Hantaran dari nona tetangga yang cantik dan baik hati tuan!"


"Untukku?"


"Bukan! Untuk saya katanya. Hehehe...!"


"Wah, pengagummu ternyata ya Ci! Awas, jangan-jangan dia lagi pancing kamu buat pindah kerja dirumahnya!"


"Hahaha...mana ada, tuan!"


Rahman terbelalak melihat rantang yang dibuka Cici dimeja makan. Ia memang masuk mengikuti Cici dan penasaran ingin tahu isinya.


"Waah, keliatannya enak!" ucap Rahman, menetes air liurnya.


"Tuan suka masakan menu beginian?"


"Ini menu masakan favoritku! Boleh berbagi ya Ci?"


"Maaf tuan, ini untuk Cici seorang!"


"Nih 50 ribu! Ini semua buat aku! Eh, tapi jangan ember ya kamu bilang-bilang sama tetangga sebelah kalau masakan kirimannya dibeli aku!"


Cici tertawa. Ia senang juga gembira. Uang 50 ribu masuk kantongnya dengan cuma-cuma.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2