
"Mau bareng ga?" tanya Ramzy pada Ella.
Yap. Hari ini adalah hari pertama mereka kembali kerutinitas mereka sebagai pekerja.
"Beda arahlah!"
"Ga pa! Aku bisa puter balik!"
"Ga usah, aku pesen ojol aja deh! Pasti kerjaan kamu numpuk juga khan, seminggu lebih ga masuk." Ella menolak. Membuat Ramzy hanya mengangkat bahunya lalu keluar lebih dulu.
"Oiya, masing-masing pegang kunci ya! Aku kemungkinan malam ini ga pulang, harus terbang ke Singapura nyusul papa yang masih ada meeting sama grup OeShu Corp."
"Iya. Titi DJ, salam buat papa!" kata Ella.
"Hahaha...Titi DJ titip salam buat papa?"
"Asem!!!"
"Jiaaahahaha..... Paiiiiiiiit!!!"
Keduanya pergi ketempat kerja masing-masing.
Ella agak terburu-buru, karena ia bangun kesiangan. Sebenarnya hati kecilnya menginginkan duduk manis disamping Ramzy dalam mobilnya. Tapi urung ia ucapkan, teringat ia tak boleh terlalu menempel Ramzy. Khawatir jadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dan ia beneran bisa jatuh cinta pada kekasih adiknya itu.
"Ka Fi, hiks....kenapa telat?" tutur seorang karyawan yang baru saja ia temui didepan pintu kantor MENTARI DEPT STORE.
"Kenapa Wit?" tanyanya agak bingung. Fi adalah panggilannya di kantor. Karena namanya Fidellia Gabriella. Pernah ada yang memanggilnya Delia, tapi Ella menolak karena Del adalah panggilan untuk Adel nama adiknya. Begitu penjelasan Ella.
"Perusahaan bangkrut! Boss tukar guling sama perusahaan lain yang lebih kecil tapi menjanjikan katanya. Kita alamat di PHK massal! Makanya hari ini diusahakan datang tepat waktu. Boss baru lagi sidak tuh dimeja kerjanya mau sortir kinerja karyawan yang bakal dia pertahankan atau dia depak!"
"Hah??"
Witha membeberkan kasus perusahaan tempat mereka bekerja. Ternyata setelah bossnya menikah lagi, boss makin gila judi online sampai mempertaruhkan saham perusahaan.
Hhhh......
"Ayo, cepetan masuk!"
__ADS_1
Ella masuk tergesa-gesa mengikuti langkah Witha. Diruangan tengah meja kerjanya sudah berbaris para staff kantor lainnya yang tengah kena marah karena kinerja mereka dianggap buruk.
"Pantas saja, staff-staffnya pada santai begini! Manager Pemasarannya aja baru datang jam segini!" suara seorang pria menggelegar keras. Membuat Ella menunduk malu.
Ditengadahkannya wajahnya untuk memberi argumennya.
Hah? Apa????
Rahman menatap wajahnya dengan wajah cuek saja.
"Hei nona, helloww.... Jangan bengong di jam kerja!"
Ella menatap mata Rahman tanpa berkedip.
Sungguh dunia ini gila!
Rahman kini ternyata boss barunya. Pemilik tunggal MENTARI DEPT STORE yang baru.
Tapi Ella segera tersadar. Ini kantor. Dan posisinya adalah seorang manajer pemasaran yang harus bisa menjaga attitude jabatan. Untuk itu ia hanya bisa menelan ludah. Menelan kegetiran takdir buruk yang seolah kembali padanya.
"Maaf, pak! Saya baru kembali cuti setelah menikah! Saya tidak tahu kalau boss kami berganti orang!"
"Hm!" Rahman kembali duduk dikursinya. Tenang dan tak lagi membahas perihal telatnya Ella.
"Saya akan melihat kinerja kalian terlebih dahulu selama satu bulan! Bila kalian masih kerja malas-malasan, siap-siap saya rumahkan dan PHK dengan tidak hormat!" katanya lagi pada seluruh karyawan kantor pusat.
Semua diam mendengar perkataan boss baru yang terlihat tegas dan keras.
"Kalian faham?"
"Faham paaak!" serempak semua menjawab.
"Ya sudah. Kembali kemeja tugas masing-masing!"
Semua bubar. Dengan hati bergemuruh dan sibuk bergumam sendiri-sendiri.
__ADS_1
"Fidellia Gabriella! Ada yang ingin saya diskusikan! Tetap ditempat!"
"Ba..baik pak!" Ella menjawab dengan berat.
Ruang kini sepi. Hanya Ella dan Rahman. Berdua saja. Dengan badan saling memunggungi. Tapi hati mereka sama-sama meracau, tapi beda perasaan.
Rahman meracau karena kesenangan. Ella meracau justru karena kesal dan dipenuhi kemarahan.
"Maafkan aku!"
Plak.
Jemari kanan Ella lepas kendali. Dilayangkannya dengan keras ke pipi Rahman.
"Kau mengikuti aku sampai segininya kah?" ucap Ella pelan tapi jelas.
"Maaf, aku awalnya tidak tahu. Kalau kamu bekerja disini, nona!"
"Apa maumu? Apa ingin menguliti diriku? Apa kau punya dendam padaku? Sampai kau ingin menghancurkanku lagi dan lagi?" mata Ella mulai berkaca-kaca.
Rahman menggelengkan kepalanya. Ia berjongkok, hendak menyentuh lutut kaki Ella. Tapi Ella mundur beberapa langkah kebelakang.
"Bangun! Jangan permalukan dirimu dimuka umum! Ini kantor. Dan aku akan berusaha menjaga sikapku jika kau juga bisa menjaga sikap!"
Rahman bangkit, berdiri lagi. Ia menunduk. Malu dan sedih.
"Pak Havier bolak-balik memohon agar aku membeli saham perusahaan ini. Padahal perusahaan ini memang sudah diambang kehancuran sedari lama karena modal keuangannya terus menyusut dan berkurang banyak. Sebenarnya sama dengan aku bunuh diri membeli perusahaan ini. Aku melihat namamu di daftar nama karyawan. Membuat aku ingin sekali bertemu kamu lagi!" Rahman bercerita jujur. Membuat Ella hanya diam tak mampu berkata-kata lagi.
"Tolong bantu aku menyelamatkan perusahaan! Tolong bantu agar tidak ada pemecatan karyawan. Yang aku tahu, mereka sangat membutuhkan pekerjaan. Semoga perusahaan bisa kembali bangkit dan stabil! Untuk itu, aku mohon nona sudi bekerjasama denganku!" pinta Rahman penuh pengharapan.
Ella dilanda kebingungan. Satu sisi ia dipenuhi amarah kebencian, disisi lain ia juga merasa bertanggung jawab dengan karyawan lainnya.
Hhhh...
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1