PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PENYIMPANGAN YANG MENAKUTKAN


__ADS_3

"Karena.... saya.... saya menyukai boss Ramzy!"


Ramzy menatap nanar wajah pucat pasi dihadapannya.


Ya. Ryan. Asisten pribadinya. Yang telah bekerja mengabdi padanya selama 3 tahun, ternyata telah tega mengkhianatinya. Dengan bekerjasama pada orang yang menjadi musuhnya dan papinya dimasa lalu.


"Apa maksudmu? Menyukaiku tetapi kau berkhianat menusukku dari belakang!"


"Boss Ramzy sekarang tak lagi memperhatikanku!"


"Apa?? Memperhatikan bagaimana??? Aku tak faham jalan pemikiranmu, Ryan!.. Aku percaya kamu sepenuhnya. Memberimu banyak kuasa ini itu mengatur tanpa aku selidik karena aku percaya kau! Kau, sudah seperti sahabat bagiku, Ryan!"


"Aku tahu, boss! Aku tahu boss sangat baik padaku!Tapi...., sejak boss menikahi ibu Ella,... boss melupakanku! Hiks!"


"Hah? Apa??"


"Hik hik hiks....."


"Kau ini kenapa Ryan? Heh? Sadarkah kau dengan ucapanmu?"


"Boss tak lagi memperhatikanku!! Boss cuek dan dingin padaku! Bahkan boss tak lagi menchatku seperti dulu, menanyakan apa aku sudah makan atau belum seperti dulu. Bahkan boss sering mengirimiku stiker lucu yang bertuliskan "Makan! Kalau tidak, kupecat kau!"! Huhuhuu hik hik hiks!"


"Hah? Alasan apa itu? Bullshit! Alasan mengada-ngada! Itu perkataan konyol, jika kau menjegal tenderku hanya karena hal itu!"


"Karena aku mencintai boss!"


Ramzy melotot kaget. Mundur sedikit kebelakang, melihat seksama wajah dan tubuh Ryan.


Apa si Ryan ini gila atau sudah engga' waras? Mengapa perkataannya membuat bulu kudukku merinding.

__ADS_1


"Kau... kau tak salah bicara, Ryan?"


Tiba-tiba Ryan maju mendekat kearah Ramzy. Wajahnya didekatkan kewajah atasan tampannya itu.


"Boss kejam! Boss tidak punya perasaan!" Ryan menatap mata Ramzy tajam. Meski butiran-butirannya bergelimpangan jatuh dipipinya.


"Kau... kau tidak normal, Ryan!"


"Aku mengikutimu dari Boston sana! Melindungimu meski dari kejauhan. Mendoakanmu agar selalu fight dan tetap semangat! Dan ketika ada kesempatan menjadi asisten pribadimu, aku adalah orang yang loyal dan totalitas dalam pekerjaan! Tapi.... tapi balasan boss justru menyakitkan!"


"Apa maksudmu?"


"Aku adalah adik kelasmu di MIT Boston. Apa kamu benar-benar lupa padaku, boss? Namaku Mac Bryan Winarno. Dan kau selalu memanggilku Bry, Bri kadang Bray! Ingat?"


"Kau... kau bukan Bryan! Wajah dan tubuhmu sangat jauh berbeda!"


"Itu karena wajahku sudah kuoperasi setelah hidung dan wajahku terkena tetesan air keras yang bangs*t-bangs*t itu percikkan!"


"Aku.... sama sepertimu, Zy! Kita ini senasib! Itu sebabnya, aku pulang ke Indonesia setelah berhasil mengubah wajahku menjadi lebih baik di Korea Selatan. Dan aku melanjutkan kuliahku di Indonesia. Mencarimu kemana-mana dan ketemu. Aku bersyukur, Tuhan seolah mendekatkanmu padaku! Kau sedang mencari asisten baru ketika asisten lamamu ternyata selingkuhi pacar sintingmu itu!.... Lalu aku masuk kerja diperusahaanmu.


Aku bahagia, Zy! Aku sangaaaat bahagia, bisa berada disampingmu selalu walau tidak sampai 24 jam. Aku yang menemanimu disaat-saat kesendirianmu! Aku yang menghiburmu ketika jiwamu merapuh dan kita hangout ditengah malam buta untuk pergi minum-minum dinight club bersama. Kamu lupa, Zy?"


Ramzy hanya menatap wajah Ryan dengan pandangan kosong dan fikiran jauh mengembara, tak menduga.


"Kau 'sakit' Bry!"


"Ya, aku sakit karenamu Zy!"


"Istighfar Bry! Istighfar! Kita memang pernah mendapatkan pelecehan s*ksual oleh sesama jenis, tapi bukan berarti kita juga harus 'belok' Bry! Sadar Bry! Tuhan bisa marah jika kau berfikir menyimpang begitu!"

__ADS_1


"Kau dulu tidak bisa melakukan hubungan int*m dengan perempuan bukan? Kau sendiri yang cerita di Boston sebelum wisuda kelulusanmu! Kau lupa Zy?"


"Tidak Bry! Aku tidak lupa. Karena memang benar seperti itu adanya. Tapi, aku tidak pernah berfikir untuk melanjutkan dengan mencoba hubungan sesama jenis! Itu dosa! Cukup kaum nabi Luth saja, aku tidak mau!'


"Zy!.... Izinkan aku mencium bibirmu sekali saja, setelah itu...terserah kamu mau apapun juga aku pasrah!"


"Shit! Gila!"


Ramzy menghindar mengelak tubuh Ryan yang nyaris menubruk tubuhnya.


Ditekannya tombol pesawat teleponnya yang menyambung ke telepon meja resepsionis dilantai dasar.


"Ratih, panggil 3 orang sekuriti keruanganku! Cepat!"


Ryan menangis menatap wajah boss tampannya.


"Boss! Izinkan aku mencium bibirmu, sekali saja! Hik hik hiks... Tidakkah kau kasihan padaku, boss? Aku memujamu sedari dulu. Bahkan setia menemanimu! Sekarang kau tahu kenyataannya kalau aku adalah pecinta rahasiamu. Berilah sedikit kebaikan hatimu untukku! Please boss!"


"Istighfar Bryan, muji woy muji Bry!"


Dengan nekad Bryan menarik tangan Ramzy. Mencoba mendekap tubuh gagah bossnya dengan nafsu tinggi emosi jiwa.


"Ataghfirullahal'adziim....!"


"Cepat bawa orang gila ini keluar! Cepaaat!!!"


"Baik pak!"


Ketiga sekuriti membawa Ryan keluar segera dari ruangan Ramzy. Membuatnya bisa kembali bernafas lega. Karena Ryan sudah dibawa. Dan Ramzy masih merasakan bulu-bulu dikuduknya merinding ketika mengingat Ryan lagi.

__ADS_1


Uffffhhh.......


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2