PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
BIKIN BINGUNG


__ADS_3

Adel merutuk dalam hati. Ini boss koq lama-lama mirip boss songong difilmnya BCL ya? Yang diperankan aktor ganteng Reza Rahardian. Hhhh.... My Stupid Boss kalo ga salah judulnya.


Adel menunduk. Memperhatikan ujung sepatu ketsnya.


"Udah mengheningkan ciptanya?"


Eh?!?


Adel kaget menatap wajah bossnya yang tampan.


"Nih, belikan stabilo warna terang satu lusin!"


"Warna apa boss spesifikasinya?"


"Heh? Kamu ga tau warna terang? Ga pernah belajar warna-warna? Apa buta warna?"


Haiiissssh!!! Ni boss beneran ngeselin deh! Bikin bingung Adel. Akhirnya Adel mengangguk. Hanya berusaha membuat mulut si boss tengil bungkam.


Adel pamit pergi keluar pada bossnya yang tak menjawab ucapannya sama sekali.


Bomatlah! Emang gue pikirin! Gerutu hati Adel kesal.


ATK diseberang kantor ternyata cukup luas. Lebih mirip toko buku toserba. Membuat Adel terlupa akan niat awalnya ke toko ATK.


Terlebih tumpukan komik-komik jepang yang sangat membuai matanya untuk sekedar membaca ringkasan ceritanya dibelakang buku komik itu.


Hmmm.... Bagaikan hamparan pasir dipantai nan indah. Adel kesana kemari menelisik komik-komik terbaru yang belum ia baca.


"Senangnya, ternyata ada juga orang dewasa yang suka komik." Adel terkesiap. Seorang lelaki bertubuh tinggi semampai berkulit sawo matang bersuara tepat disampingnya.


Mata mereka saling beradu. Lalu senyum keduanya bagaikan magnet yang saling tarik menarik.


"Hehehe... Iya! Hamparan komik kadang bikin saya lupa diri, bang!" jawab Adel dengan agak malu.


"Sama. Sampe keluarga saya suka marah-marah kalau saya pulang bawa komik lagi komik lagi!"


"Hehehe... Untungnya keluarga saya ga seekstrim itu. Cuma mama yang kadang negur karena koleksi komik saya yang menumpuk, susah ditata dipojokan lemari karena saking banyaknya."

__ADS_1


"Hahaha..iya betul itu!"


Adel dan pria itu tertawa lepas. Seolah teman lama, mereka berdua cepat akrab. Bercerita segala macam komik, dari komik Detektif Connan sampai komik online yang sekarang sedang marak diaplikasi-aplikasi hape.


"Oh iya, keasikan ngobrol sampe lupa kenalan! Aku Rahman, kamu siapa namanya?"


"Oiya, aku Adelia. Karyawan percobaan dikantor seberang!"


"Hahaha karyawan percobaan? Asal bukan bunuh diri percobaan ya Del!"


"Ya ampuuun.... Aku lupa, aku kesini disuruh bossku beli stabilo!! Tamat riwayatku, bang!"


Adel memekik. Baru sadar tujuannya ada ditoko ATK ini. Ia pamit pada Rahman, berlari menyusuri rak-rak toko yang berbaris rapi. Mencari stabilo yang berwarna terang.


Akhirnya matanya tertuju pada warna kuning dan oranye. Warna terang bukan? Toh Adel tak bodoh-bodoh amat, karena ia juga suka membeli stabilo warna terang sewaktu masih jadi mahasiswi.


Bergegas menuju kasir. Masih diperhatikan seksama oleh Rahman, teman barunya itu.


"Bang Rahman! Aku duluan yaa... sampai jumpa lain waktu!"


"Adeeel.. Minta nomor hpmuuuu!!!"


Adel berlari cepat. Menyebrang jalan raya yang lumayan padat kendaraan karena maghrib hampir menjelang dan masih jam pulang kerja pula. Otomatis banyak pengguna jalan yang ingin cepat-cepat pulang kerumah bertemu keluarga tercinta meski sebagian mereka kadang melanggar peraturan lalu lintas, dengan membawa kendaraan melebihi ketentuan.


"Beli stabilo di Holland ya? Lama bener!" gertak boss Ramzy membuat Adel menunduk.


Bukan boss! Beli di Hongkong. Ingin rasanya Adel menjawab perkataan bossnya dengan seenak jidatnya juga. Tapi urung. Apalah dirinya. Hanya seorang cleaning service saja.


Lagipula memang salahnya, justru bermain-main diarea komik mirip bocil yang kegirangan menemukan koin uang seribuan.


Adel bergegas keluar. Kesana kemari menyusuri ruangan kantor yang terbuka. Siapa tahu ada karyawan lembur yang membutuhkan tenaganya.


Benar saja. Ada seorang karyawan yang sedikit lebih muda dari papanya, meminta tolong pada Adel untuk mengcopi kertas kerjanya sebanyak 20 lembar.


Adelpun dengan senang hati menyelesaikan tugas ringan itu. Baginya mesin fotokopi seperti lego yang mengasikkan. Pencet sana pencet sini, lalu keluar kopiannya. Hhhmmmm.... mata indah Adel berbinar seiring lampu mesin fotokopian menyala.


"Terimakasih ya dex!"

__ADS_1


"Panggil Adel saja, pak! Kembali kasih! Bapak mau Adel buatkan teh manis panas? ACnya kalau malam terkesan lebih dingin pak! Minum teh manis panas bisa buat tenaga lebih banyak!"


"Wah, pintar kamu Del! Boleh deh! Makasih banyak ya!?"


"Sama-sama pak! Bentar Adel buatin dulu ya!?"


Ia senang, bisa menjadi karyawan yang dibutuhkan. Setidaknya dihari pertama kerjanya, ada karyawan lain yang menyukai kinerjanya. Meski seharusnya atasannyalah yang menyukai hasil kerjanya.


Pukul 7 malam. Beberapa karyawan lembur mulai pulang satu persatu. Adel pun ikut sigap berganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang tadi awal ia pakai.


Upsss.... Hampir lupa. Boss Ramzy belum juga keluar dari sarangnya. Maksudnya ruang kantornya hehehe....


Tok tok tok!


"Permisi boss!"


Boss Ramzy masih berkutat dengan lembaran kertas yang tinggal beberapa lagi.


"Ah, tolong pijitin aku!"


Eh?!? Lah?! Berasa kacung kalo tugas cleaning service juga rangkap jadi tukang pijit.


Adel hanya berdiri mematung tak segera menurut.


"Heh! Kenapa malah bengong? Ini... tolong dipijat bagian pundakku!"


"Boss maaf, saya cleaning service bukan tukang pijat refleksi. Lagipula, jam lembur kantor sudah habis. Saya izin pamit pulang, boss! Khawatir orangtua saya bingung karena saya belum pulang!"


"Eleeeeh..... Hebatnya karyawan cleaning serviceku ini! Bilang aja kamu ga mau ikuti perintahku!"


"Maaf boss!"


"Aku kasih uang tips 100 ribu. Nih, bayar dimuka! Cukup pijat punggungku saja beberapa belas menit. Kram pundakku terlalu banyak menunduk."


Hhhh..... Uang jadi pemikat.


Sejujurnya Adel tak ingin ambil kesempatan ini. Selain memang bukan pekerjaannya, tapi karena ini hari pertamanya mau tak mau Adelasih menjaga sikap menuruti perintah atasannya.

__ADS_1


Meskipun rada nyeleneh.


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2