
Ramzy benar-benar seperti kehilangan akal. Ia kukuh ingin membawa tubuh Adel pulang kerumah Adel dalam pelukannya. Tidak ingin dimasukkan dalam mobil ambulan.
"Izinkan Ramzy menggendong Adel untuk yang terakhir kalinya. Jangan larang Ramzy! Adel bukan mayat, yang harus dibaringkan dan ditutup kain kafan!" teriaknya histeris. Membuat semua akhirnya membiarkan tindakan Ramzy yang diluar kebiasaan itu.
Ia merangkul tubuh Adel dan memeluknya erat.
"Kamu cantik sekali istriku! Bahkan ketika kamu tengah tidurpun! Adel sayang! Kita akan ijab kabul sebentar lagi. Selangkah lagi sayang! Semua sudah papa mama siapkan! Kita akan sah jadi suami istri, Del!"
Mama Adel yang duduk disampingnya tak henti-henti istighfar berurai air mata sambil mengusap-usap tubuh putrinya yang telah dingin itu dalam pelukan calon menantunya.
Ella dan papanya yang duduk dikursi belakang saling berpelukan tak henti-hentinya menangis.
"Ssssttt...!! Jangan berisik, ma pa! Adel lagi tidur," bisik Ramzy semakin membuat seisi mobil itu menangis keras.
Mobil berjalan cepat. Dengan dibantu sirene yang menyala dari mobil depan yang ditumpangi keluarga Ramzy. Membuat mereka tiba segera dikediaman Adelia.
Ramzy menggendong tubuh Adel menuju ruang tamu. Ia duduk sambil tetap memangku tubuh kekasihnya yang semakin dingin dan mulai kaku.
"Baringkan, Zy!"
"Ga usah, pa! Ga papa, Ramzy kuat! Biar Adel bangun sendiri dalam pangkuan Ramzy!"
"Ramzy!.... Adel.... udah.. tiada, nak! Ikhlaskan nak! Kasian Adel, nak!"
__ADS_1
"Apa sih maksud papa? Hhhh.... Adel lagi tidur pa! Kasian Adel kecape'an ngurusin pernikahan kami. Ga papa, Ramzy kuat koq mangku Adel sampe Adel bangun kembali!"
"Zy, Ramzy....! Tubuh Adel mulai kaku, nak! Kasian Adel sayang! Jangan begini, Ramzy!"
"Apa sih, ma?! Kalian ini pada kenapa sih? Kami ga berbuat mesum. Cuma mengungkapkan rasa saling sayang aja. Iya. Kami bisa tahan sampai kami menikah sebulan lagi, ma! Janji, Ramzy janji. Akan jaga Adel! Ga akan macam-macam!"
"Sini, Zy! Gantian, papa juga mau gendong Adel ya! Nanti kalau kalian sudah menikah, papa ga boleh lagi gendong Adel!" papa Adel berusaha membujuk Ramzy. Dan berhasil.
Orang-orang yang sudah berdatangan ta'ziah hampir seluruhnya ikut terhanyut akan kesedihan Ramzy dan keluarga Adelia. Mereka menangis juga melihat Ramzy yang masih tak bisa menerima kenyataan.
Pak Teguh membaringkan Adel dilantai yang telah disiapkan sanak saudaranya.
"Pa! Kenapa Adel dibaringkan disini? Ramzy gendong deh, bawa keatas kamar Adel, ya?"
"Papaaaaaa.. . Adel belum meninggal papaaaaa. !! Adel masih hiduuuup... Adel ga mungkin tinggalin Ramzyyyyyy... Adel masih hiduuuuuuup.."
"Sayang! Sayang, nak sadarlah nak! Istighfar, nak!"
"Mamaaaaaaaa...."
Ramzy memeluk erat tubuh Adelia. Pecah lagi tangisnya setelah kesadarannya pulih.
"Adeeeeeel.... Adelia Wilhelmina! Bangun, bangun Adel! Kamu janji, akan melahirkan putra-putri kita! kamu janji khan? Iya oke deal, cukup dua ga usah dua belas. Bangun Adel, bangun sayang! Jangan tinggalin akuuuuuuuu....."
__ADS_1
Ruang tamu rumah Adel kembali riuh tangisan. Semua orang menangis melihat Ramzy yang masih tak bisa menerima kenyataan. Sampai beberapa orang ustad dan pengurus menghampirinya dan memberinya wejangan.
"Sudah mas, kasihan mbak Adel! Jangan diberatkan kepergiannya oleh tangisan. Itu menyiksanya, mas! Tangisan kita yang masih hidup justru menyiksanya berkali-kali lipat, mas! Mas sayang mbaknya khan? Mari kita ikhlaskan, kita lapangkan dan doakan, mbaknya khusnul khotimah disisi Allah Subhana WaTa'ala. Diterima iman islamnya, ditempatkan ditempat yang indah syurgaNya Allah! Mari mas! Izinkan kami mengurus mbaknya ya mas!"
Ramzy dipeluk papa mamanya. Dibawa menyingkir dari tubuh Adelia yang hendak dimandikan dan dikafankan.
"Ramzy boleh disini, ya? Ramzy mau deket Adel, boleh?" tutur Ramzy setelah tubuh pujaan hatinya itu telah rapi dibungkus dan hendak di sholatkan.
"Ambil wudhu, nak! Adel mau kami sholatkan segera. Biar hari ini juga, pemakamannya bisa dilaksanakan, nak! Biar lebih tenang Adelnya!" kata paman Adel yang telah berkumpul dan ikut mengurus keperluan Adelia.
"Adel mau disholatkan? hik hik hiks....padahal Adel janji, jika kita menikah nanti, kita akan sholat berjamaah. Tapi kenapa, justru berjamaah dengan Adel yang..... yang... yang telah tiada! hik hik hiks huuuuuuhuuu..."
Beberapa orang mengangkat tubuh Ramzy. Mereka mengerti kesedihan hati Ramzy, tapi proses pemakaman jenazah Adelia harus segera dilaksanakan saat ini juga. Setelah disholatkan berjamaah.
Hati Ramzy benar-benar hancur. Menjadi butiran debu yang kini terbang entah kemana.
Cinta dan harapan cita-citanya membangun rumah tangga bahagia bersama Adelia, kini pupus sudah.
Apa mau dikata. Takdir Yang Maha Kuasa berkata lain. Semua sudah suratan, tidak bisa ditolak.
Andai waktu bisa diputar ulang kembali, ingin ia meralat semuanya hingga terhindar dari perpisahan ini. Terhindar dari kecelakaan maut yang merenggut nyawa kekasih hatinya itu.
Hhh.... Kita manusia. Hanya bisa berencana. Tapi Tuhanlah Yang Maha Kuasa.
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•