
"Istriku ga mau pindah ke Surabaya, Zy!" Rahman seperti biasa, curcol diruang kerja Ramzy.
Entah. Sejak mereka bekerjasama membuka hati dan perasaan Ella sewaktu Ramzy mengutarakan niatnya menikahi ulang Ella, Rahman merasa cocok berteman dengan Ramzy. Begitu pula sebaliknya.
Sungguh rahasia Allah tidak dapat ditebak. Seharusnya mereka masih 'perang dingin' mengingat hubungan keduanya yang sangat rumit dimasa lalu.
Mungkin seharusnya seperti yang Ella bilang pada Mira, Ramzy lah disini orang yang paling terluka. Bagaimana tidak, kegadisan Ella istrinya tak dapat ia nikmati karena direnggut Rahman.
Tetapi kini mereka justru berteman dan bekerjasama dalam bisnis. Bahkan sekarang semakin dekat karena seringnya mereka sharing, terlibat dalam pembicaraan serius hingga ngopi santai.
Ramzy pun tak menampik. Ia benci Rahman jika mengingat masa lalu. Tapi Rahman adalah pribadi yang bisa ia percaya karena kedewasaannya juga dalam mengurus perusahaan. Ramzy belajar banyak dari Rahman. Dan Rahman ternyata teman yang sangat baik menurutnya.
Ramzy juga merasa nyaman berteman dengan Rahman. Ternyata teman Rahman banyak. Meski tak semua temannya baik. Berbeda dengannya, yang sama sekali tak punya teman sedari kecil. Ia memang introvert dan agak kesulitan memilih teman. Selain pemilih, ia juga takut sekali berteman dan membuka diri. Terlebih setelah kisah sedih dimasa lalunya terjadi.
"Aku sudah menduga sih! Karena Mira itu cewek metropolis. Sepertinya akan susah adaptasi jika harus tinggal dipedesaan. Tapi ya mau gimana lagi! Istrimu menolak pindah khan!?"
"Aku sejujurnya ga enak sama kalian, terlebih lagi sama Ella!"
__ADS_1
"Ella bukan orang yang susah memaafkan sebenarnya. Bukan maksudku membela istriku sendiri. Tapi hati Ella begitu bersih dan sangat rapuh sebenarnya. Apalagi kini hormonnya yang memang sedang tidak stabil karena tengah mengandung buah cinta kami. Kuharap kalian mengerti Ella sama sepertiku!"
"Aku faham Zy! Aku yang salah. Aku ga tahu istriku menghubunginya dan ngajak bertemu!"
"Sudahlah! Ella kini sudah lebih baik. Aku sudah menghiburnya dan memberinya pengertian. Aku juga akan bilang perkataanmu tempo hari juga hari ini. Tapi sebaiknya SOFTELLA kita bagi dua saja. Biar nanti Mira ikut andil disana. Setidaknya istriku bisa tenang dirumah jika ada yang mengurus departement store itu."
"Makasih Zy, atas pengertiannya. Tapi aku tak yakin, Ella mau bekerjasama dengan Mira setelah kejadian itu. Dan aku takut juga, Ella tak cocok dengan istriku."
"Biarlah semua mengalir seperti air, bro!"
Tok tok tok.
"Masuk!" perintah Ramzy karena pintu ruangannya diketuk seseorang.
"Pak Ramzy, ada seorang gadis ingin bertemu bapak. Sebenarnya 2 hari lalu dia kemari juga, tapi bapak sedang dinas luar. Katanya dia sepupu pak Robert, orang HRD yang berniat mengajukan izin magang diperusahaan ini."
"Bagaimana Man? Terima ga? Sepertinya mahasiswi yang hendak magang!"
__ADS_1
"Ya sudah, suruh masuk saja dulu. Kita lihat CV nya. Bisa ditempatkan dimana nanti !"
"Iya, suruh masuk saja, Mutia!" kata Ramzy pada Mutia, sekretarisnya.
"Baik pak!"
Tak lama kemudian, pintu ruangan Ramzy kembali diketuk seseorang.
"Masuk!" kata Ramzy mempersilahkan.
"Adel?!?!?" suara Ramzy dan Rahman berbarengan. Membuat gadis yang baru saja masuk kedalam ruangan itu bengong melongo menatap wajah-wajah pria dewasa yang sangat tampan dihadapannya memanggilnya dengan sebuah nama yang tidak ia kenal.
Ufffh....
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1