
"Akibat bubuk perangsang yang terlalu banyak, membuat aku sering bolak-balik pipis ke pinggiran semak-semak. Entah, hhhh....... Mengapa tiba-tiba, ada seorang gadis manis lewat mendekat... membuat aku..... melampiaskan.... melampiaskan semuanya padanya!"
Mira menatap Rahman tak berkedip. Membuat pria itu menunduk diam menelan ludahnya sendiri. Berusaha meredam kegugupannya dihadapan Mira.
"Lalu?" suara Mira lebih mirip bisikan.
"Lalu,.... entah memang aku sudah berubah menjadi monster Mira! Aku tidak sadar dengan apa yang kuperbuat saat itu. Ketika kusadar, gadis itu sudah tidak ada lagi. Dan aku kehilangan jejaknya!"
Mira berusaha menenangkan Rahman dengan menepuk-nepuk bahu suaminya. Sedikit merinding ia mendengar kisah kebejadan masa lalu suaminya itu. Tapi ia telah berjanji dalam hati, seburuk apapun Rahman, telah ia siapkan gudang maaf yang luas untuk suami tercintanya itu.
"Beberapa hari setelah kejadian itu, papi dan mami kecelakaan pesawat terbang diperairan Natuna. Mereka meninggal dunia dengan memberiku cukup banyak warisan ditambah uang santunan dari pemerintah juga. Hhh.... Aku, menjadi pria muda yang sombong dan pongah setamat SMA. Rumahku penuh dengan teman-teman setiap hari setiap malam. Kerja kami hanya pesta dan pesta. Makan, minum, foya-foya, judi hingga dua tahun lamanya.
Satu persatu.... aset-aset kendaraan mulai habis kujual untuk biaya hidup kami semua. Saham perusahaan papi juga habis kujual. Awalnya ada teman yang mengajak usaha bersama, tapi ternyata entahlah.... jangankan untung, modal awal pun raib tak bersisa. Terakhir, rumah...... hhhhh..... peninggalan papi mami ludes, habis sudah ketika umurku 21 tahun. Aku resmi gembel sejak saat itu. Pergi dari satu rumah kerumah temanku yang lainnya."
"Kakak tidak berusaha mencari gadis yang kakak lampiaskan waktu itu?"
"Pertanyaanmu mengingatkanku pada Adel?"
"Siapa lagi itu Adel?"
"Adel itu adiknya Ella. Dia sahabatku satu-satunya. Hhhh.....!"
"Adel perempuan ya?"
__ADS_1
"Ya. Dua tahun lebih muda dari Ella usianya!"
"Kakak pasti awalnya suka Adel, ya khan?" selidik Mira, terlihat rona kecemburuan diwajahnya. Membuat Rahman merangkul bahu istrinya itu. Mengambil nafas panjang guna mencairkan suasana hatinya yang tadi tegang.
"Kamu masih mau dengerin cerita kakak, Mira?"
"Iya."
"Ga illfeel sama kakak setelah tahu kalau kakak ini pemerkos*?"
Mira menatap Rahman. Berusaha tersenyum semanis mungkin pada Rahman.
"Itu masa lalu, yang penting bukan masa sekarang dan masa depan kakak!"
"Terimakasih Mira! Aku lanjut cerita ya?"
"Kakak memang ga pernah berusaha mencari gadis itu?"
"Kakak sering pergi ke bukit perkemahan itu, berharap bertemu gadis yang pernah kakak nodai. Kakak meskipun mabuk tapi mengingat jelas wajahnya imutnya yang berlinang airmata. Juga selalu mimpi pada tatapan tajamnya yang mengoyak hati nurani kakak untuk mencarinya."
"Gadis itu adalah Ella!"
"Kak Ella? Kak Fidellia Gabriella?"
__ADS_1
"Ya, Mira! Kakak baru bertemu dia setelah banyaknya kejadian yang Tuhan beri pada kami."
Mira menatap Rahman dengan pandangan sedikit mengerti mengapa suaminya itu begitu mendamba Ella. Ternyata jalan hidup mereka begitu rumit dan tak tertebak jalan fikirannya.
Bahkan kini ia akhirnya tahu, mengapa Ella begitu marah dan terluka ketika menanyakan perihal hubungannya dengan suaminya itu. Pantas saja, gumam hati kecil Mira.
"Alhamdulillah, diumur kakak yang ke-25 ada seorang pria paruh baya mencari kakak lewat yayasan sosial pemerintah. Ternyata, papi mami masih menyimpan harta warisan sebuah perusahaan yang cukup baik untuk diberikan pada kakak tepat diumur kakak 25 tahun. Sejak saat itu, perlahan kakak kelola. Belajar lagi secara cepat dan otodidak soal seluk beluk usaha. Hingga pada suatu ketika, seorang boss MENTARI DEPT STORE menipu kakak agar membeli perusahaannya yang hampir bangkrut karena banyak hutang. Dan Ella adalah manager perusahaan itu.
.... Hhhh.... Itulah awal, kami bisa bertemu kembali. Tapi Ella tetaplah Ella. Yang selalu membenci kakak karena kelakuan kakak yang membuat kehidupan Ella juga tak mudah setelah kejadian itu. Ella nyaris gila. Bahkan Ella berubah sikap dan sifatnya karena kakak. Tapi hati Ella begitu baik dan suci sebenarnya. Demi teman-teman seperjuangannya dia sampai menekan perasaannya menerima kerjasama kakak untuk kembali mengangkat MENTARI DEPT STORE dari kebangkrutan. Setidaknya, kakak tidak hancur untuk kedua kali jika perusahaan itu stabil lagi. Kerja keras Ella lah dengan karyawan lainnya yang membuat semua kembali normal. Itu sebabnya, kakak menghibahkan MENTARI DEPT STORE menjadi SOFTELLA DEPT STORE. Itu adalah haknya Ella. Juga sebagai permintaan maaf kakak sebagai orang yang merusak....hhhh.... kegadisannya.
Awalnya Ella marah besar, menganggap kakak seolah memandangnya sebagai perempuan bayaran. Ella tidak seperti kebanyakan perempuan diluaran sana yang begitu memuja harta dan kedudukan. Itu sebabnya, Ella membuat kakak sangat menghargainya!"
"Apa setelah itu kalian pernah bersama? Pacaran mungkin?"
"Hahaha.... Tidak Mira! Ella benci kakak bahkan sampai saat ini. Sekarang Ella juga ingin mengembalikan lagi perusahaan departement store itu pada kita, itu kata Ramzy tadi pagi. Ella marah besar sampai pingsan masuk rumah sakit karena Mira bertanya hal yang paling sensitif yang paling ia benci dihidupnya!"
"Kak Ella masuk rumah sakit, kak?"
"Itu sebabnya kakak pusing beberapa hari ini. Mira pergi ketemu Ella, tapi ga bilang apalagi izin sama kakak! Kakak seperti tidak dianggap suami oleh Mira. Karena Mira sama sekali tak mau menunggu kakak siap bercerita semuanya sama Mira!"
"Maaf kak! Mira ga berfikir akan jadi seperti ini. Keadaan kak Ella bagaimana sekarang?"
"Kata Ramzy lebih baik. Andai terjadi sesuatu pada Ella dan bayi-bayinya, entah bagaimana nasib kakak ditangan Ramzy, Mir! Dan kakak juga akan sangat terpuruk jika itu sampai terjadi."
__ADS_1
"Ya Allaaah....! Maaf! Mira ga menyangka imbasnya akan sebesar ini!"
đź’•BERSAMBUNGđź’•