PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PERJANJIAN TAK TERTULIS


__ADS_3

"Jangan kerumah!" ucap Ella setelah sadar mobil Ramzy meluncur kearah rumahnya.


"Kemana?"


"Terserah! Tapi jangan kerumah!"


"Ck. Kau kira aku sopir setiamu, menuruti apa perintahmu!" kata Ramzy dengan kesal. Matanya sesekali melirik Ella di jok belakang.


Tapi melihat Ella yang diam tanpa perlawanan sengit seperti biasa, membuat Ramzy juga kembali diam.


Calon kakak iparnya itu seperti tengah terguncang hatinya. Matanya merah dan tatapannya kosong. Sangat jauh berbeda dari Ella 15 menit yang lalu. Yang dengan gagahnya menyerangnya dengan kata-kata tajam.


Pinggir danau. Suasananya cukup tenang dan sunyi.


Ella keluar dari mobil Ramzy.


Matanya menatap kosong danau hingga tanpa sadar kakinya melangkah hampir melewati bibir danau.


"Hati-hati! Kau bisa tercebur!" Ramzy menarik tangan Ella. Membuat gadis itu sontak terkejut.


"Terimakasih!"


Ramzy tertegun, mendengar kata yang meluncur dari bibir Ella.


"Tinggalkan aku sendiri! Kau boleh pergi!"


"Hei nona es batu! Seenaknya main perintah! Lalu kau mau apa sendirian didanau ini? Mau bunuh diri?.... Hei, kalau kau mati dan mayatmu ditemukan polisi, aku pasti tersangka utamanya. Karena aku jelas-jelas yang mengantarmu kemari. Dan saksinya dokter Prita, melihat kita yang adu mulut didepan kliniknya."


"Berisik! Bisa diam ga??.. Ya udah, kalau kamu ga mau pergi, bisa khan kau duduk manis dalam mobilmu saja? Jangan ganggu aku!"

__ADS_1


"Ya Tuhaaaan!! Kau tadi mohon-mohon minta aku bawa pergi, disuruh tancap gas segala! Sekarang, kau ngatur-ngatur nyuruh aku jangan ganggu!"


"Oke. Jaga rahasia ini, aku akan baik padamu! Kumohon, Ramzy!"


"Maksudmu apa? Menyuapku?"


"Haissshhhhhh!!!!!"


Ella teriak kesal. Menjatuhkan tubuhnya direrumputan dipinggir danau. Hati dan tubuhnya lelah bagai tak bertenaga lagi.


Bahkan airmatanya tak mampu lagi menetes. Hanya tatapan hampa ketengah danau.


Hidupnya tiada berharga. Bahkan semua pencapaiannya selama ini, seperti menguap entah kemana.


Masa lalu yang suram bagai bayangan hitam yang terus menghantuinya.


Peristiwa sadis yang menimpanya. Dan pemuda itu,.. Kini Tuhan pertemukan lagi matanya melihat wajah pria yang telah mengambil kegadisannya. Diusianya yang masih belia. 15 tahun. Bersyukur ia tak sampai hamil. Karena dokter Prita bercerita, bahkan sampai ada korban pemerk*saan yang hamil. Dan hingga kini mengurus anak hasil perk*saan itu. Hhhh.... Biadab.


Ramzy sedikit menyelidik. Bahwa Ella tengah depresi perihal masalah pribadinya. Meski ia tak ingin kepo, tapi ia berusaha mencari jalan keluar untuk Ella.


"Aku juga pernah dalam kondisi sepertimu saat ini. Aku pernah ingin mengakhiri hidupku sendiri. Hhhh.... Dulu. Sebelum aku kenal Adel!"


Ella hanya diam. Tapi telinganya mendengar ucapan Ramzy yang duduk juga disampingnya.


"Aku mungkin punya masalah lebih berat dari kamu, La!"


"Adakah kasus lebih berat dari kasus korban perk*saan?" celetuk Ella membuat Ramzy menelan saliva. Fikirannya kembali menerawang, pada kisahnya di Boston sana.


Ketika sepuluh orang pria muda merejangnya. Membuka seluruh pakaiannya hingga tiada sehelaipun benang tersisa. Dan mereka tertawa-tawa sambil meremas-remas kem*luannya. Hingga seseorang membuka celananya dan menusukkan sesuatu ke*nusnya. Apakah itu termasuk perk*saan?

__ADS_1


Ramzy bergetar kencang. Menggigil tiba-tiba tubuhnya. Berguncang kesana kemari menggelepar bagai ikan dikolam kering.


Mulutnya berteriak-teriak. Membuat Ella kewalahan menenangkan Ramzy.


"Zy, Ramzy.... Sadar Ramzy! Istighfar.... Ramzy plis!!! Tenangkan fikiranmu! Orang bisa berdatangan menyangka aku berbuat jahat padamu!"


"Aaaaaaaaaarrrrrrrgggggghhhhhh"



Ella memeluk tubuh Ramzy yang basah penuh keringat. Membisikkan kalimat asma Allah membuat Ramzy tersadar sedikit demi sedikit.


"Astaghfirullaahal'adziim...... Astaghfirullaahal'adziim..... Ya Allahu, ya Rahman, ya Rohiim... ya Maliik ya Kuddus ya Sallam, ya Azziz ya Jabbar....." suara Ella terdengar lembut ditelinga Ramzy. Membuatnya memejamkan mata dan tertidur dipelukan Ella.


Uffffhhhh...


Ella merebahkan tubuh atletis Ramzy keatas hamparan rerumputan. Lebih dua jam ia ditepi danau ini bersama Ramzy. Tapi semua seperti film yang menayangkan kisah sedih kepiluan mereka dimasa lalu.


Apakah kau juga sama seperti aku? Sama-sama memiliki luka kejiwaan yang sangat besar menganga. Bagaikan lubang dari pintu neraka. Yang setiap waktu tanpa aba-aba kambuh rasa sakitnya yang tak tertahankan.


Ella menatap wajah Ramzy. Mengusap peluhnya yang besar sebesar biji jagung. Wajah itu begitu innocent. Membuat hatinya bergumam, sungguh beruntungnya Adel adiknya. Bahkan wajah Ramzy terlihat polos tanpa dosa ketika tidur.


Ella menatapnya lekat-lekat. Membuat airmatanya menetes kembali mengingat kesedihannya.


Bisakah aku bahagia seperti adikku menemukan cintanya, Tuhan? Bahkan untuk kebahagiaan hatiku sendiri saja, rasanya sulit kurasakan. Kenapa Engkau membuatku menjadi seperti ini? Aku juga manusia seperti yang lainnya. Yang ingin dicinta dan disayang sepenuh hati tanpa menanggung beban penderitaan. Apakah ada pria yang mau menerima kekuranganku? Apakah ada didunia ini, Tuhan? Seperti Adel yang bisa menerima kekurangan Ramzy dan keduanya tulus saling mencintai? Hhhh....


Ella ikut rebahan disamping Ramzy. Dengan wajah menengadah dan mata memandang langit.


Alam yang redup seolah mengerti jiwa-jiwa mereka yang kosong. Bisakah waktu mengobati semua luka? Hanya kesabaran jawabannya.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2