PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
SIANG YANG MENYENANGKAN


__ADS_3

Rahman membawa Mira pulang kerumah, setelah semalaman mereka menginap diruang IGD rumah sakit.


Kaki Mira yang pincang membuatnya sulit berjalan sehingga Rahman dengan siaga menggendong tubuh istrinya walau untuk pergi berjemur diteras rumahnya.


"Kakak! Mira jadi menyusahkan ya?"


"Ga koq! Ini kewajiban kakak, yang!"


"Kakak jadi ga kerja gara-gara harus mengurus Mira!"


"Kakak khan tak pernah ambil cuti! Tak apa sesekali libur untuk beberapa hari. Lagipula, Mira lebih penting dari segalanya!"


Mira tersipu malu mendengar perkataan Rahman yang sederhana tapi dalam artinya itu.


Ramzy dan Ella juga datang mengunjungi Mira kerumah mereka dijam istirahat. Begitu juga Meynar dan beberapa karyawan Mira termasuk Vicky yang juga datang menjenguk di jam makan siang.


Otomatis rumah mereka menjadi ramai tamu dadakan. Meriah dan penuh canda tawa meski prihatin melihat Mira yang terluka cukup serius juga.


Terlebih Vicky yang sedikit kecewa karena luka baret didahi dan pipi Mira yang cukup besar.


Mira semakin bisa melihat kebaikan Vicky dalam menilai dirinya yang ternyata 'ada udang dibalik batu'. Mira kini faham, kenapa Rahman begitu memprotecnya sedemikian rupa. Karena sifat kekanakan dan jiwa polosnya yang mudah untuk ditipu.


Syukurlah, Mira cepat tersadar meski harus mengalami kejadian naas, diseruduk motor yang oleng.


"Zy! Maaf, aku izin sepuluh hari untuk cuti. Tolong dihandle kerjaanku, bro!" Tutur Rahman pada Ramzy setelah Meynar dan rekan-rekannya kembali ke kantor.


"Tenang saja, Man! Jangan terlalu difikirkan. Aman koq semuanya! Sebaiknya bawa istrimu ke Surabaya. Buat dia bahagia disana! Mumpung ada kesempatan, Man!" kata Ramzy membuat mata Rahman berbinar senang.


"Betul juga ya?"

__ADS_1


Sementara Ella yang memangku Rafa dan Rafi kiri kanan membuat Mira terpukau.


"Kakak ga kerepotan punya anak kembar?"


"Ga lah, aku sih enjoy! Khan dibantu semua orang. Mas Ramzy juga alhamdulillah papi yang bisa diandalkan! Terus opa omanya Rafa Rafi juga kadang suka gantian bantu mengasuh. Sekalian untuk menyenangkan hati mereka juga karena tingkah polah twins L. Hehehe....!"


"Iya ya! Orangtua kak Ramzy sekarang tinggal berdekatan ya?"


"Iya. Alhamdulillah, berkat suamimu....mereka bisa tinggal berdekatan dengan kami. Meski awalnya mereka menolak dengan alasan takut merepotkan!"


"Berkat kak Rahman?"


"Ya Mira! Suamimu itu orang baik. Hargailah dia seperti kamu menghargai kedua orangtuamu! Hormatilah suamimu selayaknya kamu menghormati papa mamamu! Karena setahuku, jika kita memberikan penghormatan dan cinta kasih sayang yang tulus pada suami,...maka suami kita juga akan memberikan yang lebih baik lagi. Karena mereka juga pasti melihat pengorbanan serta kesungguhan hati kita dalam mengurus rumah tangga."


Mira menunduk. Airmatanya tiba-tiba jatuh. Membuat Ella merasa tak enak hati sendiri.


"Mira! Maaf ya? Bukan maksudku untuk sok tua menasehatimu! Tapi sebagai seorang sahabat, yang merasa kamu seperti adik bagiku, aku ingin memberimu saran dan pengalaman hidupku sendiri!"


"Kamu adalah adik yang paling aku andalkan Mira! Beneran. Ini bukan hanya sekedar kata penghibur. Aku bahagia, bisa mengenal Mira! Tak terbayang bagaimana aku tanpa bantuan Mira selama ini. Aku selalu doakan yang terbaik untukmu dan juga Agnes!"


Mira menghapus lelehan airmatanya. Terharu ia dengan semua ucapan Ella yang menyejukkan hatinya. Semakin besar kekagumannya pada wanita yang dulu sempat ia syiriki.


Mira mencium pipi Rafa dan Rafi saking gemasnya. Sikembar kini sudah 3 bulan usianya. Sangat lucu dan menggemaskan. Membuat ia jadi kepingin juga memiliki anak.


Rahman dan Ramzy bergabung dengan istri-istri mereka. Keduanya mengangkat Rafa dan Rafi dari pangkuan Ella. Satu satu ada didekapan papa dan om tuanya.


"Kenapa aku harus dipanggil 'om tua'? Om saja juga bisa khan?"


"Harusnya dipanggil uwa'! Tapi aku masih bijaksana menyematkan om untukmu Man! Tapu ditambah tua dibelakang om." jawaban Ramzy terdengar ngasal.

__ADS_1


"Nah kenapa Mira justru dipanggil tante cantik? Kalau tante cantik itu pasangannya om ganteng khan? Bukan om tua!"


"Ya berarti tante cantik harus ganti pasangan, biar jadi tante cantik dan om ganteng! Kalau om tua ini, ya cari juga tante tua!"


"Janganlah papi Ramzy! Om tua seorang yang tante cantik mau! Kalau om tua cari tante tua, nanti tante cantik sama siapa?" Mira ikut bersuara membuat Ramzy dan Ella tertawa terbahak-bahak. Dan Rahman merah merona pipinya.


"Beneran yang?"


"Ya iyalah! Awas aja kalo kakak cari tante tua! Tante cantik jitak kepalanya!!"


"Muacht.... Love you my Lady!"


Ella dan Ramzy saling berpandangan. Senyum tersungging dibibir keduanya.


"Pulang yuk ah mi! Udah ada tanda-tanda sebentar lagi kita diusir nih!"


"Ayo, pi! Sebelum mereka berdehem-dehem minta pengertian kita, lebih baik kita duluan yang mengerti ya pi!?"


"Idiiiih! Kalian nih, kompak banget sih bikin Mira iri! Ya udah, sana pulang! Rafa Rafi tante cantik pinjam!"


"Hahaha... Enak aja dipinjam! Bikin sendiri dong! Hihihi...."


"Yuk sayang, kita bikin! Diledekin melulu bikin gerah hati!"


"Yuk kak! Kita buktikan, kita juga bisa bikin anak kayak mereka ya?!"


"Yes!!!! Istriku kereeeeen!"


Rahman bersorak kegirangan. Membuat ketiganya tertawa bahagia. Siang yang menyenangkan antara dua pasangan fenomenal dan pasangan hot itu.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•



__ADS_2