
Sore hari, Mira yang menyimpan bara api kemarahan pada Rahman akhirnya pulang lebih awal dari kantornya.
Pukul 4 ia sudah pulang kerumah. Dan tak lama Rahman juga tiba dirumah setelah seharian bekerja di kantornya di RAMA CORP.
Kak! Ada yang ingin kutanyakan!"
"Alhamdulillah, istriku pulang jam 4 hari ini. Moga seterusnya ya Mira sayang?"
"Jangan coba-coba alihkan perkataanku dengan rayuan gombalmu itu!"
Rahman tertegun mendengar ucapan Mira yang agak keras dan sinis. Diperhatikannya wajah istrinya dengan seksama.
"Ada apa Mira? Ya udah, kita duduk didalam, jika ada hal serius yang mau Mira bicarakan!"
"Siapa wanita ini?"
Mira menunjukkan video dan foto-foto yang dikirimkan Vicky. Membuat Rahman tersenyum kecil, berusaha menggoda Mira.
"Mira cemburu?"
"Bukan masalah cemburu! Tapi perempuan ini siapa? Sejak kapan kalian akrab? Dan.... tega ya kamu kak, kalau kamu main gila dibelakangku!"
__ADS_1
"Hehehe... Kakak senang Mira cemburu!"
"Kakak disurprise-in wanita lain! Diberi kue tart, buket bunga. Dan bunganya itu kakak racik untukku mandi? Huh! Apakah itu sikap suami yang baik?"
Okey, sabar dulu sayang! Duduk disini, biar kakak jelaskan!"
"Dia ini namanya Astari. Tapi aku biasa memanggilnya Cipluk. Dia seorang dokter spesialis kandungan."
"Dokter spesialis kandungan? Yang ingin hamil itu kakak atau aku sih? Kenapa kakak malah akrab bercanda dengan dokter spesialis kandungan? Apa perempuan itu mau menampung sperm* kakak supaya jadi anak?"
"Astaghfirullah, Mira! Dengar dulu kakak cerita yang! Kakak belum selesai cerita! Dengar dulu baik-baik, please!"
"Siapa yang menduakanmu, sayang! Aku tak ada niat mendua, mentiga, men-empat! Dia itu sahabat masa kecilku dulu. Astari sudah seperti saudara bagiku, yang! Dia seperti kembaranku. Karena sedari umur 3 tahun, kami selalu bersama sampai tamat SMP karena rumah kami bertetangga. Dan kami baru ketemu lagi 3 hari yang lalu ketika aku hendak konsultasi soal penyubur kandungan ketempat prakteknya. Dulu pengasuh dia itu kakaknya pengasuhku waktu kami kecil. Jadi otomatis kami seperti saudara."
"Kenapa kakak ga pernah bilang sama aku?"
"Kamu sibuk dengan kerjaanmu! Bahkan kamu lupa ulang tahun suamimu sendiri saking sibuknya!"
Mira terdiam di skak mat Rahman.
"Sayang! Aku sudah mendengar kabar juga soal perusahaan yang kamu urus itu. Tentang kinerjamu selama sebulan ini. Dan tentang orang yang kau percayakan didalamnya. Maka aku sudah putuskan, aku akan masuk senin besok mengurus SOFTELLA!"
__ADS_1
"Maksud kakak soal kinerjaku itu ada apa? Siapa mata-mata yang kakak tunjuk disana? Kak Meynar? Pak Fero? Siapa? Apa katanya soal kinerjaku?"
"Dengar! Sekarang kamu harus menuruti perintahku! Toko onlinemu kulebur dalam SOFTELLA. Semua karyawannya kualihkan menjadi karyawan tetap SOFTELLA!"
"Kak Rahman!"
"Kamu mengabaikan toko onlinemu dan para karyawannya. Kamu tidak punya tanggung jawab Mira!"
"Bukan begitu. Mira memang salah, kurang memperhatikan toko online Mira Shop. Karena Mira butuh waktu 3 sampai 5 bulan dulu untuk bisa mempelajari SOFTELLA. Mira sudah mengatur schedule itu sama Nila dan Leni. Nanti Mira akan kembali mengurus toko online."
"Sekarang aku harus tegas! Kakak sudah mengambil keputusan. Dan Mira harus menurutinya. Demi semuanya. Karena apa? Kalau Mira kakak biarkan semena-mena, orang lain yang mengambil keuntungan dari kepolosanmu, sayang! Faham? Masih belum faham?... Tetap harus ikuti peraturanku!"
"Huh! Dasar suami egois!" Mira mendengus kesal. Ia keluar dari rumahnya untuk mencari udara kebebasan yang terasa membelenggunya.
"Mira sayang! Mau kemana?"
Tak dihiraukannya suara Rahman memanggil dan bertanya padanya.
Hhh....
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1