PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
TUH KHAN DRAMA!!!


__ADS_3

"Teruslah kalian bermain drama! Kalian lebih baik mati! Aku akan membunuhmu lebih dulu, Ramzy! Ucapkan selamat tinggal pada dunia!"


Rahman menodongkan pistolnya kearah Ramzy. Membuat Ella menangis berteriak.


"Jangaaaan!!! Jangan tembak Ramzy ku! Tembak saja aku, jangan Ramzy! Jangan!!! Jangan tembak Ramzy!"



"Kau mencintai Ramzy, Ella?? Katakan!!! Katakan dengan benar, Ella! Aku ingin dengar suaramu!!!" Rahman berteriak keras. Membentak Ella untuk pertama kalinya.


"Iya. Aku mencintainya! Aku cinta Ramzy! Bahkan aku telah mencintainya tanpa kusadari sejak kami menikah! Jangan tembak Ramzy, Rahman!"


Ella menghamburkan dirinya kearah Ramzy. Menghalangi tubuh Ramzy dengan tubuhnya agar Rahman tidak melontarkan isi pistol yang ditodongnya pada Ramzy.


"Hahahaha......!!!!"


Rahman tertawa terpingkal-pingkal. Papa Ella tersenyum, dan mamanya menghela nafas lega.


"Maaf Ella! Ini pistol mainan! Ini hanya senjata plastik milik adikku, Ahmad. Maaf!Maaf pa, ma! Hampir persekongkolan kita tadi tidak berhasil karena Ella terlalu gengsi mengakui cintanya pada Ramzy! Hahahaha....upppfffff!"


"Ka kalian.... bersekongkol? Kalian semua mengerjaiku kah??? Pa, ma?.... Aaaaaaaaaaa... Kalian semua jahaaaaaaat!!!!!!"


Ella menangis meraung-raung. Kesal. Sebal. Gereget, tapi hati terdalamnya sangat bahagia.


"Maaf, sayang! Maafkan kami, terutama aku Ella! Papa mama tidak salah! Rahmanlah pemilik ide itu! Salahkan saja dia!" Ramzy memeluk Ella.


"Jahat, jahat, jahat! Kamu sama jahatnya!"


"Maaf ya sayang! Papa mama sebenarnya sudah tahu rencana Rahman! Rahman gendeg katanya sama kamu yang terlalu tinggi gengsinya padahal kamu cinta Ramzy!" ujar papanya ikut memeluknya karena Ella masih merajuk kesal.


"Ya udah, pa ma, aku pamit ya! Aku ada banyak kerjaan! Mira misscall terus dari tadi!"


"Siapa itu Mira?" goda Ramzy mengedipkan mata.

__ADS_1


"Ada deeeh,... jangan kepo kau! Cepat urus pernikahanmu segera! Nanti aku datang sama Mira!"


"Sip! Aku kabari secepatnya! Makasih ya, atas bantuannya!"


Entah sejak kapan kedua pria itu ternyata telah berteman. Ella hanya menatap keduanya dengan tatapan tak percaya.


Itulah keajaiban. Allah itu Maha Segalanya. Maha Pembuka Hati. Maha Pembolak-Balikkan Hati.


Sementara Rahman berjalan gontai dengan hati yang hancur berkeping-keping.


Ia cinta Ella. Hatinya tidak berubah. Tapi ia sadar, cinta itu anugerah dari Allah Ta'ala. Dan cinta itu adalah universal dan pasti dirasa semua ummat-Nya.


Dirinya cinta Ella. Sama halnya Ella, yang ternyata cinta Ramzy. Artinya ia tidak bisa dan tak boleh berbuat apa-apa. Selain mendoakan Ella bahagia.


Rahman sadar, cinta tidak bisa dipaksakan. Ia tak boleh memaksakan kehendak. Apalagi kini Ella dan Ramzy telah sama-sama terbuka akan cinta mereka. Biarlah kini doanya saja untuk kebahagiaan mereka.


....


"Kak Mira kenapa, Mad?" tanya Rahman kaget mendengar Mira menangis dikamarnya.


"Lah? Kakak nangis harusnya dihibur, dex!" katanya sembari mengelus kepala Ahmad.


Ahmad hanyalah bocah umur 8 tahun. Rahman cukup mengerti jika tindakan adik Mira itu belum bisa dipertanggungjawabkan.


"Mira, Mira! Kenapa Mir?" Diketuknya pintu kamar gadis yang masih terdengar isak tangisnya.


"Kak Rahmaaan!"


"Mmm? Buka pintunya makanya!"


Wajah oval milik Mira tersembul dari balik pintu yang terbuka. Masih tersisa remahan airmata dipipinya.


"Tolongin dooong!"

__ADS_1


"Tolong apa? Kenapa Mira nangis? Siapa yang buat Mira nangis?"


"Mira.... sumilangeun!"


"Hah? Apaan itu 'sumsumlangen'??"


"Sumilangeun! Sakit datang bulan, Kaaaaak!"


"Eh? Datang bulan?"


"Haid kak haid! Menstruasi, ish!!"


"Hahahaha... ya ampuuuun! Kirain kenapa pake nangis kejer gitu!"


"Sakiiiiit! Ga pernah ngerasain datang bulan siiih!!! Minta tolong, ...mmmm.... beliin softex!" bisik Mira.


"Hah?!?!?"


"Please! Tolongin!! Diwarung bu Hani kak! Yang ada sayapnya ya?"


"Haiiish! Apapula itu? kenapa pembalut ada sayap? Apa pembalut bisa terbang kalo dikasih sayap?"


"Kakaaaak, cepetaaaan iiiiiiiiih!!!"


"Iya, iya! Bilangnya beli pembalut gitu? Ntar diketawain bu Hani ga?"


"Kak Rahmaaaaan... banyak komen deh! Cepet! Sama... Osk*don pereda nyerinya ya kak!"


"Yassalaaaam....! Hik hiks,!"


Mira tertawa terkikik melihat Rahman berjalan keluar rumah menuruti perintahnya membeli pembalut dan obat pereda nyeri. Hatinya senang tak terkira. Karena ia menyangka Rahman akan menolaknya mentah-mentah dan pergi meninggalkannya.


__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2