PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
AKHIRNYA ADA KESEPAKATAN


__ADS_3

Ella masih belum puas meski Rahman semakin tersudut dan berdarah-darah. Ia membuka highhellsnya yang berhak 5 centi itu,


Bletak!!!


Benda senjata perempuan itu mengenai dahi Rahman hingga semakin bercucuran darah menetes dikeningnya.


Dokter Prita memekik. Ia segera menarik Ella agar tidak semakin brutal melampiaskan amarahnya yang tanpa perlawanan Rahman sama sekali.


Lebih baik kita lapor polisi, Ella!"


"Jangan! Aku ga mau semuanya semakin kacau, mbak! Aku ga ingin papa mamaku akhirnya mengetahui aibku karena baj*ngan dajjal ini! Pergi kau, manusia rendahan!"


"Saya ingin pertanggungjawabkan semuanya, nona! Saya akan melamarmu hari ini juga kerumah orangtuamu!" Rahman masih bisa bersuara meski wajah serta tubuhnya babak belur.


"Apa? Hahaha.... terima kasih baj*ngan tengik! Tapi aku akan menikah sebentar lagi! Dan jangan lagi pernah menampakkan batang hidungmu dihadapan mukaku. Cih! Jijik aku lihat wajahmu itu!" Nyaris wajah Rahman kena air ludah Ella.


Sumpah serapah dan caci maki Ella tak membuat Rahman marah apalagi sakit hati. Justru ia merasakan dadanya yang selama ini sesak oleh rasa penyesalan atas dosa-dosanya sedikit berkurang. Rahman masih meminta maaf Ella.


Tapi gadis itu kadung benci. Ella pamit pergi keluar meninggalkan dokter Prita dan Rahman yang penuh luka.


"Tak apa dok! Saya justru bahagia, nona Ella melampiaskan semuanya. Setelah selama ini saya mencari dan mengharapkan kata maaf. Akhirnya rasa sedih saya yang mendalam dan penyesalan yang teramat besar sedikit terobati." kata Rahman ketika dokter Prita membantunya berdiri dan memberikan sejumput kapas pembersih untuk menyusut darah segar diwajahnya.


Ella menarik nafas. Entah lega ataupun sesak. Semua seperti bercampur menjadi satu.


Ia mencari nama "tuan muka datar" dikontak ponselnya.


Ramzy!


[Hik... Apa nona es batu?]


Terdengar suara parau diujung sana.

__ADS_1


Hei! Kau mabuk ya? Dasar pria bodoh!


[Apa maumu]


Mandi! Cepat! Aku ingin bertemu dan bicara denganmu, sekarang juga! Kita kemakam Adel!


[Hik. Siapa kau, main perin...]


Tuut tuut tuut....


Ella menutup teleponnya. Ia kesal tapi kasihan juga melihat Ramzy yang masih terpuruk karena kepergian Adelia.


Dichatnya Ramzy. Mengabari kalau ia menunggu sejam di sebuah resto n caffe dipinggir kota berikut alamatnya. Juga menyuruhnya untuk tidak membawa mobil sendiri. Khawatir juga Ramzy mengebut sedangkan kondisinya masih tak baik dan sepertinya agak mabuk.


Satu jam lebih. Akhirnya Ramzy datang juga. Padahal Ella hampir pergi karena mengira pria calon suami adiknya itu masih terkapar didalam kamarnya.


Ia duduk agak malas-malasan. Tak ada suara keluar dari bibirnya.



"Aku setuju menikah denganmu!"


"What? Aku ga salah dengar?"


"Aku mau menikah denganmu! Dengan satu syarat!"


"Wait the minute! Apa aku mau menikah denganmu? Apa aku memintamu untuk menikah denganmu? Tidak!" Ramzy tertawa sengau. Tapi tangannya membuka tutup botol minuman yang diberikan Ella.


"Kau dan aku satu sama. Sama-sama mengetahui dan menyimpan rahasia kita satu sama lain. Akhirnya aku mengambil keputusan, untuk memenuhi amanat adikku, aku setuju menikah denganmu. Tapi dengan syarat,.... kita hanya menikah diatas kertas. Tidak dengan hati apalagi kontak fisik. Bagaimana?"


"Hhhhh......." Ramzy menghela nafas. Panjang.

__ADS_1


"Kau dan aku harus bahagia. Menikah dan bahagia. Itu amanah Adel!" gumamnya menunduk. Matanya merebak. Berpendar riaknya kembali meneteskan butiran kesedihan.


"Kita ambil jalan ini demi semuanya. Amanat Adel, keinginan orangtua, juga meredam semua gejolak kesedihan kita semua. Setelah beberapa bulan, kau boleh mentalakku! Kita cerai. Dan semua hutang amanah terbayar!"


Ramzy merenungi ucapan Ella. Matanya mencari kebenaran dibola netra gadis dihadapannya ini.


Masih tak percaya sedang kemarin ia begitu bersikukuh tidak ingin menerima amanah Adelia.


Akhirnya keduanya sepakat. Mereka pergi ke makam Adel untuk menguatkan keputusan mereka dihadapan pusara orang yang sangat mereka sayangi itu dengan taksi online.



"Adel! Kakak datang, bersama suamimu Ramzy! Apa kamu bahagia disana Del? Kamu sudah tenang disisiNya. Kakak percaya itu.... Kami datang ingin mengabari sesuatu! Kami akan melaksanakan permintaan terakhirmu. Kami akan menikah. Kami tetap melaksanakan akad itu, dimana seharusnya kamulah yang jadi mempelai wanita, bukan aku! Adel.... Kakak ga bisa berkata apa-apa lagi! Semoga tenang dan damai kamu disana. Kakak selalu mendoakanmu, adikku tersayang! Meski kini... hik hik hik....kakak terkesan jadi kakak yang jahat dimata banyak orang!"


Tangis Ella pecah dimenit-menit terakhir. Terpuruk ia dikuburan adiknya yang masih berupa gundukan tanah. Harum wangi taburan bunga yang setiap hari ia dan keluarganya taruh membuat dadanya semakin sesak.


Ella jatuh pingsan. Membuat Ramzy kelimpungan sendirian.


Didekapnya tubuh Ella erat-erat. Ia sebenarnya belum ingin beranjak pergi dari pusara orang yang dikasihinya. Tapi melihat tubuh Ella terkulai lemah tak berdaya, Ramzy luluh juga.


Warung kopi didepan area pemakaman jadi tujuannya.


Segelas teh hangat ia pesan. Juga sebotol kecil hot aroma therapy. Setelah diulas kedahi dan pundak serta hidung Ella, gadis itupun tersadar dan bangkit dari pingsannya.


"Minumlah!" Ella menurut ketika tangan Ramzy menyodorkan gelas berisi teh manis itu.


"Udah mendingan?" tanya Ramzy. Ella mengangguk pelan.


Tak lama kemudian mereka pergi setelah mobil taksi pesanan mereka datang. Masih hening tanpa suara. Tapi cukup membawa kedamaian dihati keduanya.


đź’•BERSAMBUNGđź’•

__ADS_1


__ADS_2