
"Naik taksi saja!" kata Ella segera menghentikan taksi kosong dihadapannya. Ia dan Meynar membantu membawa tas kerjanya dan menuntunnya masuk mobil.
"Ayo, Mey! Antar kita!" pintanya mengajak Meynar dan langsung mengangguk lalu ikut masuk mobil di jok depan.
Hampir satu jam kurang, Rahman dalam perawatan. Kakinya digips pembalut berobatan rendaman ramu-ramuan ala pengobatan tradisional China. Sementara Meynar izin pulang lebih dulu meninggalkan Ella dan Rahman.
Bisa pulang sendiri?" tanya Ella masih dengan keketusannya.
Rahman diam menunduk. Membuat Ella menghela nafas. Agak kesal.
"Ya udah, dimana rumahmu? Aku antar dulu deh sebagai rasa balas budiku karena tadi kamu menyelamatkan aku!"
Hati Rahman bersorak. Ia tak menyangka Ella akan menawarkan diri menemaninya pulang bersama.
"Mobilmu biar ditinggal aja! Kita naik taksi online!"
"Perumahan Green Garden Pasadena ya pak!" kata Rahman membuat Ella terhenyak.
"Perumahan Green Garden Pasadena?" tanya Ella memastikan pendengarannya. Rahman mengangguk. Pura-pura menutup matanya dengan wajah meringis seolah menahan sakit.
Sebenarnya ia takut Ella akan marah besar padanya setelah tahu kalau ia ternyata adalah tetangganya. Makanya ia pura-pura bodoh.
Ella semakin diam melihat taksi memasuki area perumahan tempat tinggalnya. Lalu berhenti tepat didepan rumah 'tetangga'nya.
"Ru rumahmu disini?" tanyanya dingin tapi sedikit gugup. Rahman mengangguk mengiyakan. Kembali pura-pura tidak tahu kalau Ella adalah tetangganya.
Ella pun diam. Tak meneruskan ucapannya. Ia justru berusaha setenang mungkin. Mencoba menetralisir wajahnya dari kegugupannya. Agar tidak terbaca Rahman kalau ia sedang bersandiwara. Supaya Rahman tidak mengetahui kalau rumahnya Ramzy ada disebelah rumahnya.
__ADS_1
"Mau turun dulu?" ujar Rahman menawarkan Ella untuk singgah.
"Tidak, terima kasih!" jawabnya tegas. Membuat Rahman tergelitik untuk menahan tawa. Takut disadari Ella.
"Masuklah dulu! Aku lihat dari sini!" kata Ella menyuruh Rahman masuk.
"Tak apa. Aku melihatmu dari sini! Tolong antarkan nona ini tepat didepan rumahnya ya pak!" ujar Rahman yang beralih kepada pak sopir taksi yang membawa mereka sedari tadi. Ia telah membayar jasa onlinenya via aplikasi.
"Baik pak!" jawab pak pengemudi.
Mobil taksi itu kemudian meluncur pergi. Menuju arah luar perumahan Green Garden Pasadena.
"Kembali ke rumah tadi, pak!" pinta Ella pada pak supir. Setelah mobil taksi berjalan cukup jauh dan hampir melewati gerbang perumahan. Membuat pengemudi yang berusia sekitar 40 tahunan itu agak bingung.
"Ketempat tadi bu?"
"Oh, baik bu!"
Ella turun setelah melihat keadaan gerbang rumah Rahman yang sepi. Pak sopir hanya memperhatikannya diam-diam. Lalu tersenyum sendiri melihat Ella terburu-buru membuka gerbang pintu pagar rumahnya.
Ternyata mereka tetanggaan. Gumam hati kecil pak sopir terkekeh sendirian.
Uufffh!
Ella segera masuk rumah Ramzy. Menghela nafas lega.
Gila ya!? Ternyata bajingan itu adalah tetanggaku! Ya Tuhaaaan..... Ujian apa lagi ini! Hhhh.... Andai Ramzy tahu kalau Rahman adalah tetangganya. Bisa-bisa pecah perang dunia ke-3 terjadi hampir setiap hari.
__ADS_1
Hatinya bergumul. Antara percaya dan tidak, ia melihat sendiri kenyataan yang ada. Rahman adalah tuan Cici, asisten rumah tangga tetangganya yang sering wara-wiri dan menjadi teman satu-satunya dikompleks perumahan ini. Hhhh....
Ella mandi. Mengguyur sekujur tubuhnya yang terasa panas.
Seperti menaiki roller coaster. Menaik, meliuk, berkelok ditikungan curam, ia rasakan kehidupannya 2 hari kemarin dan hari ini.
Hampir saja ia jadi pasien rumah sakit karena terkena musibah tabrak lari kalau saja Rahman tidak cepat menarik tubuhnya ke pinggir jalan meskipun mereka sempat berguling ditrotoar pinggir jalan.
Hhhh.... Kemarin, ia dan Ramzy hampir melakukan hubungan 'dosa' karena telah 'mengkhianati' cinta tulus adiknya dengan Ramzy.
Dipejamkannya matanya. Mengingat betapa momen manis itu membuatnya malu dan wajahnya merah seketika.
Dirabanya put*ng sus*nya. Masih ada sisa-sisa kenikmatan disana. Ketika Ramzy dengan lembut merem*s dan menghis*pnya penuh penghayatan jiwa.
Bangkit kembali naluri bercintanya.
Tidak. Tidak. Tidak boleh. Ini perbuatan dosa. Ini melanggar sumpahnya sendiri pada almarhumah adiknya untuk menjaga cinta dan kesucian calon adik iparnya itu.
Aaaaarrrrrgh!!!! Ella menutup wajahnya. Membiarkan kecantikannya tersiram air shower yang keluar dari atas bath roomnya.
Andaikan bisa. Ingin ia menghilang saat ini juga dari pandangan dan hadapan Ramzy. Tapi tidak bisa. Ia belum bisa meninggalkan pria tampan yang berhasil menjeratnya dalam jaring-jaring cinta yang nyata. Ia masih dalam status sebagai istrinya. Istri yang sah. Yang terikat resmi dan tercatat dibuku nikah yang disahkan agama dan negara.
Dan ia juga tidak tahu harus pergi kemana. Kerumah papa dan mamanya, pasti mereka akan menyuruhnya kembali kerumah ini. Menasehatinya untuk bersabar dan bersabar dalam menjalani biduk rumah tangga. Bakalan panjang urusannya jika papa mama mengetahuinya.
Ia dan Ramzy diawal telah sepakat. Setelah 6 bulan pernikahan, mereka akan pergi bersama ke Pengadilan Agama. Saling membubuhkan tanda tangan masing-masing sebagai bukti resmi mereka bercerai. Dan surat perceraian keterangan berpisah resmi ditangan. Barulah ia akan pulang kerumah kedua orangtuanya. Karena jika itu sudah terjadi, papa dan mamanya tak akan bisa ber'suara' lagi. Dan mereka resmi dengan diri mereka sendiri-sendiri.
Hhhhh....
__ADS_1
đź’•BERSAMBUNGđź’•