
Sejak hari itu, Ella dan Ramzy semakin sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Mereka jarang bertemu dirumah, baik pagi maupun malam.
Bahkan Ramzy terlihat lebih sibuk. Pergi dipagi buta dan pulang malam sekali. Membuat Ella kadang rindu wajah tampan Ramzy yang dingin dan datar jarang senyum itu.
Ini adalah hari sabtu. Hari libur buatnya juga Ramzy. Tapi Ramzy menchatnya, mengatakan kalau harus terbang ke Singapura karena ada meeting dadakan antar pemegang saham. Membuat Ella hanya bisa menghela nafas.
Sedih hatinya. Padahal ia ingin mengajak Ramzy mengunjungi makam Adelia. Setelah itu pergi ke pasar, berbelanja dan masak makanan kesukaan Ramzy.
Akhirnya ia memutuskan untuk tetap ziarah kubur Adel. Meskipun sendiri. Ya mau bagaimana lagi.
Ella terhenyak melihat sosok tubuh seorang laki-laki sedang tepekur dihadapan makam adiknya itu.
Ia mendekat perlahan. Lalu sembunyi dibalik pohon tak jauh dari situ. Hanya memantau dan memperhatikan sosok pria itu yang ternyata adalah Rahman.
Terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tak disangka, pria itu ternyata pandai mengaji.
Ella hanya diam menunduk mendengar suara Rahman yang cukup merdu ditelinganya. Hingga ayat terakhir surat Yassin. Lalu terdengar lagi suara Rahman.
"Adel!.... Maafin abang ya Del! Abang pasti membuat Adel kecewa karena semua dosa abang dimasa lalu. Iya. Ternyata, gadis kecil yang abang rusak itu adalah Ella. Hik hik hiks, maafin abang ya Del! Abang menyesal sekali sangat menyesal seumur hidup abang!.. Andai dulu pergaulan abang ga kelewat batas, sampai akhirnya malah dicekoki minuman keras juga obat perangsang oleh mereka. Mungkin Ella tidak akan merasakan sakit luar biasa hati dan jiwanya seumur hidupnya, Del! Aku ini orang jahat Del! Tolong sampaikan pada Sang Pencipta, untuk mengambil nyawaku juga segera Del! Karena aku juga ga sanggup lagi menahan beban batinku. Abang sekarang hanya bisa mendoakan Ella bahagia. Ella bahagia sepanjang umurnya. Ella bahagia dengan hidupnya. Juga papa mama Adel, meski sekarang abang ga bisa lagi mengunjungi mereka,... tapi abang masih tetap memantau kesehatan mereka Del!..... Adel, abang pamit ya! Terima kasih, sudah menjadi bagian dari hidup abang selama ini! Hik hik hiks..."
Rahman pergi sembari mengusap airmatanya. Berjalan perlahan meninggalkan makam Adel diarea pemakaman itu.
__ADS_1
Kini tinggal Ella yang terisak sendirian. Menangis ia bersandar pada batang pohon rindang. Mengingat kembali rasa sakitnya yang dahulu karena melihat Rahman. Tapi airmatanya juga bercampur airmata keharuan.
Bahwa pemuda yang selama ini ia kutuk habis-habisan tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Ternyata Rahman juga menyimpan luka itu. Ternyata pria itu juga membawa beban penyesalan sepanjang hidupnya.
Itulah, mengapa harus berfikir panjang dan berkali-kali untuk berbuat menyakiti orang lain. Karena karma atas perbuatan jahatnya itu pasti berbalik kepada yang berbuat.
Ella sesegukan. Tak tahu lagi harus berbuat apa.
Matanya menatap kuburan Adel yang penuh taburan bunga mawar merah. Sepertinya bunga dari Rahman tadi.
"Adel! Kakak datang Del! Maaf, hanya sendirian. Karena Ramzy akhir-akhir ini sibuk sekali. Del! Hik hik hiks.... kakak berdosa jika masih menyesali kepergian Adel! Tapi kakak selalu sedih. Kakak selalu ingat Adel! Kamu adalah adikku satu-satunya yang paling aku sayang seumur hidupku setelah papa dan mama! Del.... hik hik hiks, andai kamu masih ada! Kamu dan Ramzy pasti bahagia kini! Hik hik hiks.... Kalian pasti bisa membuat Romeo dan Juliet iri dengan keromantisan kalian berdua! Aku kangen kamu Adel! Huhuuhuu hiks huhu...."
Hampir sejam ia menangis dan terpekur. Bahkan lupa pada buku panduan ziarah kubur yang ia bawa dalam tas brandednya pemberian Ramzy.
Hingga akhirnya ia pamit pergi. Menuju kerumah Ramzy dengan taksi online.
Sebelum pulang, Ella sempatkan mampir ke pasar tradisional. Membeli sayur-mayur, daging, ikan juga bumbu dapur lainnya.
Masak adalah kegemarannya. Dengan mengolah makanan yang lezat membuatnya melupakan kesedihan hatinya. Terlebih jika masakannya itu dipuji keluarganya. Bangga diri tentunya.
Entah kenapa hari ini ia ingin masak lontong dan semur daging. Meski terlihat agak ribet, tapi dengan peralatan canggih dan ilmu memasaknya yang lumayan mahir, semua masakan itu berhasil ia buat.
__ADS_1
Harum aroma menggoda. Membuat perutnya yang lapar keroncongan merasa tertantang untuk memakannya. Sayangnya hanya sendirian. Tak ada Ramzy. Membuatnya sedih dan sedikit kecewa.
Ella akhirnya memutuskan membagi masakannya lagi pada Cici, asisten rumah tangga disebelah rumahnya.
"Waaah, terima kasih banyak nona! Nona baik sekali! Cici bahagia banget dapat perhatian dari nona cantik!" kata Cici terdengar lebay. Membuat Ella tersenyum.
"Nona ga mau masuk dulu? Ada tuan saya didalam. Libur kerja juga, Non!" bisik Cici pada Ella.
"Oiya? Ga usah deh mbak, aku pamit aja ya!"
"Nanti aku antar rantangnya ya!?"
"Iya, ga papa mbak! Mari mbak Cici!"
"Iya nona cantik! Tapi apa engga' sebaiknya masuk dulu, kenalan sama tuan saya non!"
"Hehehe.... engga' deh makasih! Lain kali ya!"
Cici hanya memandang Ella dengan kekecewaan. Padahal ia menunggu momen tuannya bertemu nona cantik pujaan hatinya itu yang ternyata tetangganya, tapi ternyata mungkin belum waktunya.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1