
Ramzy kecewa. Tiada balasan kata sayang dari bibir Ella. Gadis itu hanya tersenyum berlalu dengan lambaian tangan meninggalkannya sendirian diruang rawat inap kelas VIP.
Padahal jantung Ella serasa mau meledak. Wajahnya merah merona dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
Ia ingin berjingkrak andai ini bukan lorong aula rumah sakit. Hatinya begitu ringan bagaikan kapas yang terbang diudara. Girang tak terkira.
Ojek online membawanya pulang kerumah.
Pukul 7 pagi. Rahman memperhatikan sesosok tubuh langsing tinggi semampai memasuki gerbang disebelah rumahnya.
Benar. Itu Ella. Ternyata kini ia baru menyadari kalau Ella dan Ramzy adalah tetangga barunya.
Padahal sudah lebih dari satu bulan mereka bertetangga, tapi belum pernah sekalipun mereka bertemu muka.
Rahman hanya melihat Ella dari kejauhan. Sengaja ia sedikit bersembunyi dari semak-semak pepohonan yang tumbuh dekat pagar rumahnya.
Ia ingat ancaman Ella tempo hari. Untuk tidak dekat-dekat padanya. Dikantor pun ia berusaha menjaga jarak.
Meski Ella adalah salah satu karyawannya, ia tetap memegang teguh janji itu. Ia juga tak ingin Ella semakin membencinya. Lari dan makin menjauh darinya.
Dengan mengamati Ella dari kejauhan, sudah cukup puaslah hatinya. Terlebih jika beruntung melihat tawa Ella yang begitu manis dan indah.
Tak apa meski ia seperti seorang pencuri kecil yang nakal menunggu kesempatan mendapatkan kebahagiaan yang semu baginya.
Hhhh..... Rahman menghela nafas.
"Tuan sedang apa?"
"Ya Tuhan Ciciiiiii.... Bikin copot jantungku! Ish kamu tuh ya!?"
"Kenapa ngintip-ngintip gitu? Bintitan lho! Datangi aja, minta kenalan! Nona Ella orangnya baik koq! Asal sopan. Tapi tuan harus ingat, nona Ella itu sudah bersuami!"
"Iya, tau."
"Hah? Tuan udah tahu nona Ella sudah berkeluarga?"
"Iya, Cici bawel! Cepat, bukakan pintu gerbangnya! Aku mau berangkat kekantor!"
Cici hanya termangu. Bingung ternyata tuannya telah mengenal nona Ella, tapi tidak tahu kalau nona cantik itu bertetangga dengannya.
Ia menggeleng pusing. Masa bodoh dengan urusan percintaan tuannya. Meskipun rasa penasaran juga karena ia sedih melihat tuannya yang masih jomblo diusianya yang mau 33 tahun itu.
__ADS_1
Andai saja tuannya mau menikahinya, walau nikah siri sekalipun ia mau.
"Ciciiiii!"
"Iya tuaaaan!" Tergopoh-gopoh ia menyeret pintu pagar gerbang rumah tuannya.
Rahman menunggu-nunggu kehadiran Ella. Tapi gadis itu tak kunjung datang padahal sudah pukul 9 menjelang siang.
"Mey, Fidellia kemana? Apa ada tugas lapangan?"
"Oiya, ka Fi izin tidak masuk kerja boss!"
"Eh? Iya kah? Kenapa?"
"Suaminya masuk rumah sakit semalam, katanya! Jadi tidak bisa masuk kerja hari ini!"
"Hm, gitu ya!"
Rahman duduk kembali dibalik meja kerjanya. Menunduk kecewa. Kini ia diam tenggelam menyibukkan diri dengan laptop dan buku jurnalnya.
....
Ella telah kembali ke rumah sakit. Dilihatnya Ramzy sedang tertidur pulas. Sepertinya obat tidur membuatnya selalu mengantuk.
Ia agak kesal terlebih melihat ada darah beku yang menyumbat saluran selangnya dinadi Ramzy.
"Suster, infusan suami saya seperti sejak tadi ini habisnya! Kenapa tidak lekas diganti!" tegurnya pada suster jaga.
"Maaf, bu! Saya baru dapat ganti tugas pagi. Belum keliling karena baru datang. Mohon maaf atas keteledoran kami dari pihak rumah sakit!"
"Lain kali, tolong diperhatikan ya Sus! Maaf, saya khawatir keadaan suami saya drop lagi! Terima kasih atas bantuannya!"
"Iya ibu! Saya juga mohon maaf atas ketidaknyamanannya!"
Ella menghela nafas. Tensi amarahnya meninggi. Melihat kondisi selang infusan Ramzy yang tidak terkontrol.
Sedang yang tadi dipermasalahkan hanya tersenyum menatap wajahnya dari ranjang tempat tidur.
"Hei, sudah bangun?"
__ADS_1
"Iya, terbangun setelah dengar suara imut menegur suster!"
"Hahaha...Haish, dasar!"
"Cantiknya istriku!"
"Gombal!"
"Hehehe.... beneran koq, ga bohong!"
"Udah, jangan rese' deh! Tar kalo udah sehat baru kita ribut lagi! Males ah, masa' aku ngajak ribut orang sakit!"
"Hahaha.... Ribut apa nih? Harus jelas dulu ribut apaan?"
"Terserah! Oiya, kamu belum makan ya? Ya ampuuun.... ini udah jam 10 kurang Ramzyyyy!!! Kenapa makanannya belum dimakan ini?"
Ella membuka plastik kedap udara dari pinggan makanan rumah sakit yang sudah ada di meja. Juga sepiring kecil berisi 2 butir obat yang harus Ramzy minum.
Dengan telaten ia menyuapi Ramzy nasi bubur beserta sayur bening dan lauk pauknya.
"Engga enak! Uwek! Enakan masakan kamu kemana-mana!"
"Iya lah! Makanya cepat sembuh, biar cepat pulang kerumah. Tar aku masakin khusus buat kamu!"
"Bener? Beneran ya?"
"Iya!"
"Masakin setiap hari ya?"
"Hm!"
"Selamanya ya?"
Ella hanya diam tak menjawab ledekan Ramzy. Hanya tangannya yang cekatan sesekali menyuapi Ramzy yang berlaku manja itu.
Apa benar kamu ingin aku masakin setiap hari selamanya, Zy? Katakan lagi Zy! Katakan sekali lagi. Bilang dengan memohon, dan meminta aku untuk memasakkanmu setiap hari selamanya. Seumur hidupmu Zy! Aku mau Zy, andaikan kamu mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh!
Tapi keduanya hanya diam. Sibuk dengan fikirannya masing-masing. Tiada lagi yang berani buka suara.
Seolah ada ganjalan dihati keduanya. Untuk saling menyodorkan diri dan saling meminta lebih.
__ADS_1
Hhhhhhh......
đź’•BERSAMBUNGđź’•