PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
PERTEMUAN YANG TAK DIINGINKAN


__ADS_3

"Hahahaaa.... Jadi sebenarnya kalian calon kakak ipar dan adik ipar? Ya Tuhaaaan.... Dunia ini sempit ternyata!" dokter Prita tertawa terbahak-bahak ketika diakhir pertemuan dengan Ella, ia sedikit menyelidik. Menggosip dan mengghibah Ramzy.


"Hati-hati! Orangnya seperti meja kantor ruang operasi dokter bedah! Dingin dan datar! Bisa saja dia diluar, nguping, karena kepo dengan urusan saya dok!" bisik Ella bercanda.


"Husss!! Udah pergi khan sejak satu jam yang lalu!" kata dokter Prita masih dengan setia mendampingi Ella keluar dan berjalan dilorong teras kliniknya hingga pintu gerbang.


"Saya tau, dokter pasti menjaga kerahasiaan pasien. Tapi saya ga tau, ternyata dia pria bermasalah. Apa adik saya tau soal itu ya?"


"No komen masalahnya. Tapi mas Ramzy kemari atas rekomendasi mbak Adel!" kata dokter Prita selalu dengan senyum.


"Oh, syukurlah! Berarti Adel tahu permasalahan pacarnya." gumam Ella mengerti.


"Saya pamit ya dok? Terima kasih banyak obrolannya. Saya sekarang lebih tenang. Saya juga tak ingin, rahasia saya terbongkar bahkan hingga saya mati dok!"


"Rahasia dijamin aman, sayang! Jaga kesehatan ya? Jangan terlalu banyak fikiran, apalagi masa lalu yang sudah lewat. Jangan ditengok lagi, sayang!"


"Iya. Terima kasih dok! Dokter sudah seperti kakak bagi saya!" Ella merangkul pundak dokter Prita. Ia mengenalnya sejak dokter itu masih muda dan baru lulus sarjana psikologinya.


Ya. Dokter Pritalah yang membantunya move on. Hingga bisa berdiri tegak hingga hari ini. Dokter Prita menjaga semua rahasianya sejak dulu. Hingga mama papa dan adiknya tidak pernah tahu kalau ia adalah korban pemerk*saan.


Ella tak ingin, papa mama mengetahui deritanya. Bahkan dia sempat menyalahkan Adel atas kejadian yang menimpanya. Dan benci hingga tak mau bicara pada adik kesayangannya itu.


Hhhhh.....


Ella keluar gerbang klinik dengan hati lebih ringan. Ia berharap, mimpi gila wajah pria pemerk*sa itu tidak lagi datang mengganggu tidurnya juga.


Sementara diluar, sepasang sorot mata kesal memandang dari dalam mobil Pajeronya.


Ramzy. Seperti dugaan Ella, ternyata calon adik iparnya itu masih ingin meneruskan "perang"nya.


Tin tin tiiiiin....


Klakson mobilnya mengejutkan Ella.

__ADS_1


"Masuk Ella! Kita harus bicara!" kata Ramzy ketus.


"Hei, ternyata feellingku benar! Kau sengaja menungguku, tuan Muka Datar?"


"Masuk! Kita harus bicarakan perselisihan antara kita!"


"Perselisihan? Kapan kita berselisih? Aku tak pernah ingat, diantara kita ada perselisihan? Kecuali memang kamu sengaja cari ribut denganku!"


"Hei nona es batu! Aku masih tahan karena kau adalah kakak pujaan hatiku! Bisa khan kamu melihatku dengan lebih baik dan tulus? Bukan dengan suara nge gasmu yang judes dan menyebalkan?"


"Hahaha... ternyata tuan muka datar memang bermasalah berat ya? Selain bertemperamen tinggi, kamu juga sangat kekanak-kanakkan!"


"Dan kamu persis nenek-nenek yang cerewet karena sirihnya habis! Wajar kalau pria-pria ogah mendekatimu karena ucapanmu kasar dan nyelekit seperti walang sangit!"


"Hei, hei.....! Ini sudah menjurus kearah pembullyan ini! Kau tidak sadar, kau ini direktur? Tapi ucapanmu mirip bocil 12 tahun yang egois karena bolanya direbut waktu permainan."


Ramzy mengeraskan rahangnya. Entah kenapa ia seperti ingin sekali meneruskan perselisihan dengan Ella. Bukannya mengalah dan berusaha mengambil hatinya, demi agar ia mau berkata baik juga padanya.


Ella membuang mukanya kesal. Melangkah pergi meninggalkan Ramzy didalam mobilnya.


"Aduh!"


Tepat mengenai wajah seseorang yang berjalan didepannya kurang lebih 2 meter jaraknya.


"Uffffh, maaf! Maaf, saya ga sengaja!"


Kedua pasang mata bertemu. Dan.....


Ella langsung gugup, gemetar. Lututnya seperti lepas dari persendiannya.


"K kau... nona, nonaaa... tungguuuuu...!!!!"


Ella berlari kencang berbalik arah. Menghampiri mobil Ramzy dan masuk duduk bersembunyi didalamnya.

__ADS_1


"Cepat, cepat jalan!!"


"Hei!!!"


"Cepat, plis! Tancap gas!!! Kumohon!"


Ramzy tertegun menatap wajah Ella yang pucat pias dengan mata merebak basah penuh genangan.


Tanpa pikir panjang, dijalankannya mesin mobilnya. Dan pergi dari situ.


Rahman masih berlari mengejar Ella yang naik mobil Ramzy.


Ella menangis disudut jok belakang mobil Ramzy. Terdengar lirih membuat Ramzy hanya diam. Memantau calon kakak iparnya itu dari kaca spion mobil.


"Tidaaak...tungguuuuu!!! Tolong jangan pergi nonaaaaaa....!!!! Aku tahu, itu kamuuuuuu!!! Nonaaaaaaaaaa.....!!!!


Rahman berteriak-teriak seperti orang gila.



Matanya merah menahan tangis sedihnya.


"Aku ingin minta maaf, nona!!! Aku ingin berlutut dikakimu!! Ingin memohon maafmu! Hik hik hiks!!"


Rahman menangis dipinggir jalan. Untungnya jalanan lengang hingga tidak memancing pandangan aneh orang-orang.


Hatinya semakin sakit mengingat ternyata gadis itu juga masih mengingat peristiwa jahatnya perbuatan biadabnya pada gadis itu.


"Aaaaaaarrrrrrrrgggggghhhhhh...."


Rahman hanya bisa berteriak kencang. Meluapkan kepedihan hatinya karena perbuatannya itu.


"Gadis itu ternyata masih ada dibumi ini! Berarti Tuhan masih ingin aku mencarinya. Dan masih ingin aku semangat menemukannya! Aku, aku harus selalu semangat mencarinya! Ya. Syukurlah, setelah sekian lama ....akhirnya pencarianku berhasil!" Rahman berbicara seorang diri. Persis orang gila komat-kamit dan sesekali tersenyum mengangguk.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2