
"Gimana keadaan istriku, Pluk? Ga ada yang mengkhawatirkan khan?"
Dokter Astari tersenyum menatap wajah sahabat kecilnya. Mira yang baru selesai merapikan pakaiannya juga menatap wajah dokter Astari cemas.
"Tunggu ya dua menit!" katanya seolah menggantung. Membuat Rahman sedikit cemas dan deg degan. Takut Mira memiliki penyakit diarea rahimnya. Karena sudah hampir seminggu, perutnya serasa kram dan tidak nyaman. Bahkan kadang sakit katanya.
"Hm...... Kalian siap mendengarkan pemberitahuan ini?"
"M..Siap! Ada apa? Mira kenapa? Apa harus dilakukan tindakan selanjutnya?"
"Nyonya Mira, memang membutuhkan banyak perhatian lebih saat ini! Dan ini tugas bapak Rahman sebagai istri!" Rahman menyimak serius sekali perkataan-perkataan Astari.
Dipegangnya jemari Mira. Berusaha menguatkan istrinya, meski sebenarnya jantungnya lebih kencang berdebar dibanding Mira.
Ia sudah berfikir terlalu jauh, meski dokter Astari belum memberi Mira vonis. Tapi hati kecilnya berjanji, akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Mira. Kesehatan istrinya adalah segalanya baginya. Tiada yang lain harapannya saat ini.
"Nyonya Mira, sedang mengandung!"
Keduanya bengong menatap dokter Astari.
"Mengandung? Hamil, mbak?" Mira mencoba mengulang ucapan dokter Astari dengan kalimat pertanyaan.
"Iya. Janinnya memang masih sangat muda sekali. Jadi, tolong untuk bapak dan ibu muda ini....dijaga dengan sangat hati-hati ya! Karena baru menginjak 5 minggu."
"Yang bener dok?" Rahman terlihat berkaca-kaca. Masih tidak begitu percaya.
"Aku ini dokter spesialis kandungan, bapak Rahman Oncom! Bukan dokter baru jadi! Masa' aku salah diagnosa, sedang sudah beratus-ratus wanita hamil datang ke klinikku ini!"
"Hehehe maaf! Bukan tak percaya pada status titel dokter. Tapi...., usia pernikahan kami pas hari ini anniversary setahun! Dan ini bukan prank persekongkolan kalian khan?"
Dokter Astari memberi Rahman hasil test pack pemeriksaan Mira padanya.
__ADS_1
Dua garis biru. Pertanda...... Mira istrinya, benar-benar hamil.
"Ya Allaaaah!!!!"
Dipeluknya Mira penuh kebahagiaan. Tapi segera ia pelankan rangkulannya mengingat harus lembut menjaga kehamilan Mira yang masih sangat rawan.
"Untuk menstabilkan dan menguatkan janin, saya kasih resep vitamin ya... Dan harapan saya, nyonya Mira untuk mengurangi dulu aktivitasnya. Termasuk aktivitas malam untuk tuan Rahman, hingga janin memasuki usia 16 minggu ya!
Tapi memang sebagian wanita hamil tidak bermasalah melakukan hubungan intim dalam kehamilan usia muda.
Makan, makanan yang bergizi ya! Meskipun mungkin ada mual, bahkan sampai muntah,... tetap paksakan makan demi janin ya! Khawatir janin lemah dan kurang asupan, jika mamanya tidak makan. Bisa ditambah makanan penunjang seperti susu khusus ibu hamil!
Dan yang penting, wanita hamil dilarang banyak fikiran, apalagi sampai depresi!
Disinilah peran suami sangat diperlukan. Untuk kesehatan ibu dan calon buah hatinya tentunya!
Siap jadi suami siaga khan, pak Rahman Hidayat Soepono?"
"Ah siap...sangat siap bu dokter! Tapi... saya sepertinya juga harus berobat ini. Soalnya saya juga tidak enak badan akhir-akhir ini!"
"Hah? Bisa begitu mbak Tari?"
"Iya Mira. Ada banyak kasus koq, istri yang hamil tapi yang ngidam justru suami!"
"Hahaha.... lucu!" Mira tertawa terbahak-bahak membuat Rahman tersipu dan langsung mengingat Ramzy yang juga kini menjadi suami ibu hamil juga.
"Itu biasanya terjadi di awal kehamilan, trimester, bahkan sampai setelah melahirkan kadang. Tapi agak sering sampai kehamilan trimester saja. Bahkan ada suami yang mengalami peningkatan hormon prolaktin. Yaitu hormon yang berperan dalam produksi ASI bagi ibu menyusui."
"Sampe segitunya, Pluk?"
"Ya. Sampai payudara suami sedikit membengkak juga ada. Tapi prosentasenya kecil Man! Jangan terlalu panik. Buat enjoy aja! Nikmati semua proses dengan hati yang bahagia. InshaaAllah, semua masa kehamilan bisa dilalui dengan baik hingga proses persalinan normal!"
__ADS_1
"Aamiin ya Allah!"
"Ya udah! Konsultasi sudah melebihi batas waktu ini. Maaf, pasien saya bukan kalian saja ya? Banyak yang menunggu diluar! Tolong pengertiannya!"
"Ah sampe lupa! Hahaha .... maaf dokter!"
Rahman dan Mira keluar ruangan dokter Astari dengan wajah bahagia luar biasa. Ia dan Mira akan menjadi pasangan orangtua. Menanti sampai 8 bulan lagi.
Didekapnya tubuh Mira merapat ketubuhnya.
Rahman berinisiatif memesan taksi online. Ia tak ingin tubuh Mira terguncang jika harus menaiki vespanya.
"Mampir sebentar ya yang ke showroom?"
"Showroom?"
"Iya. Kita cari mobil yang sesuai untuk kamu dan dede bayi!"
"Hah?"
Keduanya mampir ke showroom mobil dipusat kota. Memilih mobil Honda Jazz White Orchid Pearl seharga Rp. 275.000.000,00 dibayar tunai dengan black card nya.
Membuat Mira bagaikan mimpi melihat perangai aneh suaminya itu. Sekaligus haru dan bangga.
"Ini untukmu dan calon anak kita, yang!"
Airmata Mira tak henti mengalir mensyukuri nikmat yang Tuhan beri padanya. Sungguh indahnya buah kesabaran cintanya pada Rahman. Suami yang sangat ia sayangi itu.
Mereka pulang dengan mengendarai mobil baru. Yang Rahman hadiahkan khusus untuk istrinya. Sebagai kado setahun rumah tangganya yang indah bersama Mira.
Dan ia mendapat kado terindah dari Allah berupa calon buah hatinya yang kini bersemayam dirahim Mira.
__ADS_1
Bahagia itu tidak instant. Bahagia itu memang harus dicari, dipupuk dan diciptakan. Tentunya harus sabar dan tawakkal bila menginginkan kebahagiaan.
đź’•BERSAMBUNGđź’•