
"Beneran deh! Gue liat boss CEO kayak lagi ngelakuin sesuatu sama cewek magang yang lantai 4 itu. Khan bukan rahasia umum lagi kalo tuh cewek beneran mirip ka Adel khan? Bisa jadi boss inget almarhumah trus khilaf cium si cewek magang itu, khan bisa jadi!"
"Stttt..... Jan gosip kenceng-kenceng!"
Rahman kaget mendengar ghibahan para karyawan dipintu lift. Apalagi mendengar nama Ramzy dan Adel disebut-sebut. Membuatnya hanya menghela nafas panjang dan bergegas pergi naik kelantai tempat kerjanya.
Mira membuatnya menjadi pria lebay sejak kemarin siang. Istrinya itu terlihat uring-uringan terus dan memaksanya melakukan hal-hal romantis yang sejujurnya kurang ia sukai sejak muda dulu.
Baginya cinta tidak perlu diumbar. Apalagi setiap saat diucapkan dengan tambahan kata-kata manis penuh racun rayuan gombal.
Cinta baginya sesuatu yang sakral. Yang tidak bisa ia ucapkan semudah membalik telapak tangan.
Cinta itu murni, karena itu harus dihargai dengan hati yang bersih juga. Dedikasi seorang pria beristri yang bertanggung jawab memberi nafkah lahir batin serta bekerja keras demi membahagiakan istri tercinta adalah bukti nyata dari kekuatan cinta. Itu pendapatnya.
Sedangkan istri harus bisa melihat kedalaman cinta suami dengan mata batinnya. Istri yang baik pasti bisa merasakan betapa suaminya begitu mencintainya dengan memberinya nafkah hasil tetesan keringatnya yang tidak sedikit mengorbankan harga diri ditunjuk-tunjuk atasannya mungkin bahkan bisa jadi dimarahi bossnya ditempat kerjanya setiap hari. Hhhh.....
Rahman sangat memahami Mira. Cinta dan ketulusan Mira menyayanginya. Rahman bisa merasakan. Tapi usia Mira yang kadang membuatnya gila akibat tindakan dan kata-katanya yang frontal. Yang tak pernah terfikir olehnya.
Ia juga mencintai Mira. Bahkan kini lebih. Karena ia memang telah menjatuhkan pilihannya memperistri Mira setelah sholat sepertiga malamnya selama seminggu berturut-turut.
Perihal gaya dan tingkah Mira yang seperti itu, Rahman meyakini,... mungkin Tuhan ingin ia menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dengan mengirimkan istri yang super unik seperti Mira. Sehingga ia diuji kesabaran dan kebesaran hatinya dalam menerima kelebihan Mira dalam segala hal.
__ADS_1
Ia sadar, ia bukan pria sempurna juga dimata Mira. Ia sudah tua, meskipun beberapa wanita menyebutnya hot man, semakin tua semakin meresahkan. Tapi andai Mira melirik pria lain yang lebih muda, lebih kaya dan lebih tampan.... Sedih juga ia kembali sendirian.
Rahman tak inginkan itu. Ia bahagia dengan hidupnya kini. Bersama Mira dan Ahmad, meski kadang kelakuan Mira nyeleneh. Seperti pagi tadi.
Mira ingin digendong ala bridal setiap pagi olehnya keluar kamar. Mira ingin makan disuapi sedang ia asyik dengan layar hapenya. Dan Mira juga ingin ia selalu membukakannya pintu ketika berjalan beriringan dengannya. Pintu kamar, pintu depan rumah, bahkan pintu mobil atau pintu apapun,.... Mira ingin Rahman menghargainya sebagai seorang wanita yang dicintainya.
"Mira sayang,... kenapa kakak harus membiasakan diri seperti itu? Hahaha.... ampun deh ah!"
"Harus! Biar kakak terbiasa romantis! Sekali-kali kakak nonton drama korea. Betapa romantisnya para aktor itu memperlakukan pasangannya. Ya salah satunya, intens membukakan pintu terlebih dulu. Jadi kakak harus biasakan memuja Mira!"
"Yassalaaam..... Hahaha... Memuja itu hanya pada Allah Ta'ala istriku Mira tercinta yang cantik jelita!"
"Hahahaha... Mira, Mira!"
"Tau ga? Wanita itu ingin dimanja, ingin dikasih sayang dan dicinta setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik!"
"Iya tau, sayang! Ya udah, kakak kerja dulu ya, istriku tercinta! Cari nafkah dulu buat kamu tersayang! Doakan kakak pulang bawa uang banyak buat Mira!"
"Aamiin... amin amin amin ya Allah!"
"Hahaha.... muaaacht! Kiss bibir boleh?"
__ADS_1
"Ga boleh! Malu dilihat tetangga!"
"Katanya harus selalu romantis, gimana sih! Hahaha..."
"Husss, adegan 17 tahun keatas ga boleh diumbar diberanda kak! Ntar malem aja, Mira kasih yang istimewa!"
"Eh? Iyakah? Waduh?... Koq nunggu malem? Sekarang aja bisa ga? Hahahaha... aduh, iya iyaaa.... kakak berangkat ya sayang! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam! Hati-hati ya kak, jangan ngebut bawa motornya!"
"Bebek begini gimana mau ngebut?"
"Ganti dong sama Honda Jazz!"
"Hahaha... mulai lagi deh! Tar ganti bebek sama kambing ya beb!"
"Kakaaaaak..... Ish!"
Rahman menarik gas motornya. Berangkat dengan senyuman nakal pada istrinya yang selalu bikin ia geregetan.
đź’•BERSAMBUNGđź’•
__ADS_1