PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG

PERNIKAHAN (Bukan Sekedar) NAIK RANJANG
MENJELANG HARI BAHAGIA


__ADS_3

Seperti yang direncanakan. Pak Rama dan bu Shinta datang kerumah Adel. Tanpa Ramzy, karena Ramzy akan datang dengan rombongan seserahan seperti yang telah disepakati sekitar satu jam kemudian.


"Saya Rama papanya Ramzy. Dan ini istri saya mamanya Ramzy! Ada pembicaraan penting tentang anak-anak kita!"


"Selamat datang dikediaman kami. Saya Teguh, papanya Adelia dan ini istri saya mamanya Adel tentunya. Silahkan duduk, bapak ibu! Mohon maaf bila kediaman kami ini kurang berkenan!"


Adel dilantai atas sedikit menguping karena penasaran. Ia mengintip dari balik tangga dan menghela nafas gusar karena Ramzy tak ada.


Kemana sih mas Ramzy? Hapenya ga aktif sampai hari ini. Hhhhh....!! gumam hati Adel kesal.


"Bapak ibu sudah dengar cerita Adelia?"


"Soal? Oh...kedatangan bapak ibu, tentu saja. Mohon maaf bila kami tidak punya keistimewaan dalam penyambutannya. Karena kami ini dari keluarga biasa. Berbeda dengan bapak ibu yang pengusaha. Yang pasti sangat sibuk sehari-harinya. Dan kami sangat tersanjung jika bapak ibu menyempatkan waktu berkunjung kerumah kami yang sederhana ini!"


"Bapak tahu, kalau anak ibu dan anak saya sudah melakukan apa saja?"


"Maksudnya?"


"Bapak tidak khawatir sedang anak bapak seorang perempuan?"


"Saya percaya putri saya. Juga percaya pada putra Bapak! Mereka sudah saya wanti-wanti untuk berpacaran sehat!"


"Apa bapak bisa jamin? Bukannya jika dua orang berlainan jenis berdua-duaan dipastikan akan ada pihak ketiga yaitu setan menggoda diantara mereka?"


"Iya juga sih!"


"Istri saya memergoki anak gadis bapak diatas ranjang apartemen anak saya bersama anak saya! Bagaimana tanggapan bapak ibu?"


Papa dan mama Adel memerah wajahnya. Perkataan papanya Ramzy lembut tapi menusuk.


"Kenapa bapak diam?"


"Saya harus menanyakan putri saya dan juga putra anda tentunya!" jawab papa Adel.


"Dan bapak punya inisiatif tindakan apa berikutnya?"


"Hhhh..... Boleh saya tanyai dulu putri saya?"


"Silakan!"

__ADS_1


Papa beranjak. Menuju tangga bergegas menemui Adelia dikamarnya dilantai atas.


"Adel! Kamu dan Ramzy sudah berbuat apa? Jujur sama papa!" papa langsung pucat menegur Adel yang berada diruang tengah lantai atas menunggu keputusan kedua pasang orangtua yang tengah diskusi.


"Adel memang berduaan sama mas Ramzy, tapi ga berbuat macam-macam pa! Cuma, cuma..ciuman!"


Plak!!!


Papanya menampar pipinya pelan. Tapi cukup mengagetkan Adel hingga terbelalak matanya yang langsung banjir air mata.


"Turun! Kita bicarakan dibawah!"


Adel menurut. Sesekali ia hapus lelehan airmata yang berlinang dipipinya.


"Bagaimana?"


"Silakan ibu bapak memarahi putri saya yang salah! Saya terima!"


"Istri saya sudah memarahinya kemarin. Bahkan menyuruh Adel pulang segera! Dan kini kami mengambil tindakan. Dan kami harap bapak ibu juga Adel menerima tindakan kami ini, tanpa penolakan apalagi argumen tidak jelas! Bagaimana? Setuju?"


Adel pasrah. Menatap mata mama papanya bergantian yang juga hanya bisa mengangguk.


Papa Ramzy menelpon seseorang. Dan tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk.


Ramzy masuk dengan banner ditangan. Dengan tulisan huruf kapital besar-besar.


TANGGUNG JAWAB ADELIA! NIKAHI AKU SEKARANG JUGA!


Membuat papa mama Adel menatap tak percaya. Terlebih Adel yang langsung menangis keras.


"Adel kena prank lagi!" kata papa Ramzy dengan tawa khasnya.


Papa dan mama Adel ikut tertawa. Lega.


"Kami datang dengan tujuan melamar putri bapak ibu! Mohon jangan ditolak! Kalau kalian tolak, putra satu-satunya kami bisa frustasi!"


Papa dan mama Adel saling berpandangan. Mengangguk sambil mendekati Adel dan bertanya, "Adel siap?"


"Kak Ella bagaimana ma?"

__ADS_1


"Kami sudah diskusi, kak Ella siap Adel langkahi!"


"Adel ga jahat khan ma? pa?"


"Takdir, jodoh dan maut itu rahasia Tuhan, sayang! Berdoa saja kak Ella segera menyusul setelah Adel!" tutur mama membuatnya tersenyum bahagia.



Matanya masih terlihat sembab. Sementara Ramzy langsung menghambur ke Adel hendak memeluk.


"Sabar! Sabar! Tunggu ijab kabul baru kamu boleh apa-apain Adel!" kata mamanya sambil menarik lengan Ramzy.


Sontak semua tertawa.


Tak lama masuk barisan anak buah pak Rama membawa seserahan. Banyak seserahan lebih tepatnya.


Membuat ruang tamu rumah Adel yang sebenarnya luas, penuh dengan hantaran seserahan keluarga Ramzy.






"Ini gimana ini? Kami sama sekali tak punya perencanaan sejauh ini!" ujar papa Adel kikuk.


"Jangan khawatir, pak bu! Kami hanya ingin memastikan putra kami diterima dirumah ini."


"Kami menerima Ramzy seperti putra kami sendiri!"


"Dan bagaimana untuk kelanjutan acara berikutnya? Apa kami saja yang menghandle semua ya? Jadi bapak ibu sekeluarga tidak perlu repot?"


"Besok aja pa, acara ijab kabulnya!" sela Ramzy langsung dipukul mamanya membuatnya meringis kesakitan.


"Sabar!"


Adel yang malu-malu kucing hanya senyum-senyum bahagia.

__ADS_1


đź’•BERSAMBUNGđź’•


__ADS_2